Showing posts with label Arkeologi. Show all posts
Showing posts with label Arkeologi. Show all posts

Monday, February 6, 2017

Published 9:32 PM by with 0 comment

Makanan Terakhir Ötzi Manusia Es Terkuak

Tim peneliti berhasil mengungkap makanan terakhir yang dikonsumsi Ötzi manusia es sebelum ia tewas akibat terkena anak panah lebih dari 5.300 tahun silam.

Makanan Terakhir Ötzi Manusia Es TerkuakRekonstruksi tubuh manusia es Otzi. (Robert Clark/National Geographic)
Tim ilmuwan yang meneliti tentang Ötzi manusia es berhasil mengungkap makanan terakhir yang dikonsumsi manusia purba tersebut sebelum ia tewas akibat terkena anak panah lebih dari 5.300 tahun silam.
Makanan terakhir Ötzi berupa irisan daging berlemak yang dikeringkan. Ilmuwan menduga daging ini berasal dari kambing liar yang biasa ditemukan di Tyrol Selatan, Italia.
Kesimpulan ini terungkap setelah para peneliti menguji struktur serat daging yang terawetkan dalam skala nanoskopis.
“Kami menganalisis struktur nano irisan daging dan sepertinya Ötzi makan daging kering yang sangat berlemak, seperti bacon,” ujar pemimpin peneliti, Albert Zink.
Penemuan ini merupakan perkembangan dari penemuan sebelumnya pada 2011 silam, ketika para peneliti menemukan perut Ötzi mengandung daging kambing.
Pada saat itu, para peneliti belum yakin apakah daging tersebut mentah, dimasak, atau dikeringkan. Berkat penelitian kali ini, misteri tersebut akhirnya terpecahkan.
Zink juga mengatakan bahwa Ötzi bakteri perangsang maag dalam ususnya. “Kemungkinan ia mengalami sakit maag sepanjang hidupnya,” ungkap Zink.
Sejak jasadnya ditemukan oleh para pendaki Jerman di Oetztal Alps, Italia, pada ketinggian 3.210 meter September 1991, Ötzi menjadi objek penelitian yang menarik bagi para ilmuwan. 
Satu per satu, misteri tentang kehidupan dan kematian manusia es ini mulai terungkap. Sejauh ini, kita tahu bahwa Ötzi hidup sampai usia lebih dari 45, tingginya kira-kira 1,6 meter, dan berat sekitar 50 kilogram.Tahun lalu, para peneliti telah berhasil merekonstruksi suara Ötzi dan mengetahui gaya busana yang dikenakan. 
Hasil studi sebelumnya mengungkap, Ötzi tewas akibat terkena panah di punggungnya. Hingga kini mengapa ia ditembak, siapa yang menembaknya, dan apakah ada orang lain yang bersamanya selain penyerangnya, masih menjadi misteri.

(Lutfi Fauziah. Sumber: Phys.org, Science Alert)
Baca Lengkap
      edit
Published 9:30 PM by with 0 comment

Sinagoga Abad Pertengahan Ditemukan di Dekat Danau Galilea



    Bangunan ini terletak di atas reruntuhan sinagoga Romawi dari abad ke-5 yang diketahui memiliki mozaik-mozaik fantastis, termasuk yang menggambarkan Bahtera Nuh

    Sinagoga Abad Pertengahan Ditemukan di Dekat Danau GalileaBangunan abad pertengahan ini memanfaatkan sisa-sisa reruntuhan sinagoga dari abad ke-5, yaitu dinding bagian utara, timur, dan beberapa tiang-tiangnya. (Jim Haberman via Live Science)
    Bangunan abad pertengahan yang mungkin telah digunakan sebagai sinagoga, ditemukan di Huqoq, desa di dekat Danau Galilea, Israel.
    Didirikan selama abad ke-12 hingga 13, bangunan tersebut terletak di atas reruntuhan sinagoga Romawi dari abad ke-5 yang diketahui memiliki mozaik-mozaik fantastis di dalamnya, termasuk yang menggambarkan kisah Bahtera Nuh.
    Bangunan abad pertengahan ini memanfaatkan sisa-sisa reruntuhan sinagoga dari abad ke-5, yaitu dinding bagian utara, timur, dan beberapa tiang-tiangnya.
    “Bangunan publik yang monumental ini didirikan di titik yang persis sama dengan sinagoga Romawi, menggunakan elemen arsitektural milik bangunan sebelumnya, tetapi dengan ukuran yang bertambah luas,” kata Jodi Magness, direktur proyek penggalian di Huqoq.
    Para arkeolog belum mengetahui secara pasti apa kegunaan bangunan abad pertengahan tersebut. Namun karena sudah jelas bahwa bangunan itu diperuntukkan bagi publik, Magness meyakini bahwa bangunan tersebut difungsikan sebagai gereja, masjid, atau sinagoga.
    Catatan sejarah menunjukkan bahwa selama abad ke-12 dan 13, tentara salib dan kaum muslim terlibat perang untuk menguasai area di sekitar Huqoq.
    Meskipun identitas bangunan tersebut belum jelas, sebuah petunjuk mengindikasikan bahwa bangunan itu merupakan sinagoga. “Kami menemukan bangku-bangku yang diletakkan menempel pada dinding bagian timur, utara dan barat, yang menunjukkan bahwa bangunan itu merupakan sinagoga. Bangku-bangku tersebut umum ditemukan di sinagoga-sinagoga,” kata Magness.
    Meski demikian, Magness mengatakan bahwa tak ada informasi sejarah tentang populasi Yahudi di daerah tersebut pada masa itu. Tim arkeolog telah berupaya mencari bukti-bukti keberadaan penduduk Yahudi, namun belum membuahkan hasil maksimal.
    “Sejauh ini, kami hanya menemukan sedikit bukti tentang kehadiran kaum Yahudi di daerah tersebut, yang menyebabkan bangunan ini menjadi benar-benar menarik sekaligus membuat frustasi,” ujar Arnold Franklin, profesor sejarah di Queens College of the City University of New York.
    Salah satu dari sedikit referensi tekstual berasal dari pejalan awal abad ke-14, Ishtori Haparchi, yang mengunjungi Huqoq dan melaporkan bahwa ia melihat sinagoga dengan lantai yang teramat tua. “Kami berspekulasi, mungkin bangunan yang kami temukan merupakan sinagoga itu,” tutup Magness.

    (Lutfi Fauziah. Sumber: Live Science)
    Baca Lengkap
          edit
    Published 9:29 PM by with 0 comment

    Berang-berang Raksasa Pernah Menghuni Bumi 6 Juta Tahun Lalu

    Berang-berang purba yang hidup 6 juta tahun lalu ini berukuran hampir dua kali lebih besar dari berang-berang modern dan empat kali dari berang-berang eurasia.

    Berang-berang Raksasa Pernah Menghuni Bumi 6 Juta Tahun LaluIlustrasi Siamogale melilutra (Mauricio Antón)
    Ahli paleontologi Amerika Serikat menemukan fosil berang-berang raksasa yang pernah menghuni perairan prasejarah sekitar enam juta tahun silam.
    Fosil berupa tengkorak lengkap, tulang rahang dan gigi dari spesies yang disebut Siamogale melilutra itu ditemukan saat para peneliti menggali dasar danau kuno di Shuitangba, Provinsi Yunnan, China.
    “Meski tempurung kepala ini sangat lengkap, namun bagian itu tergencet selama proses fosilisasi dan menjadi rata," kata peneliti Denise Su dari Cleveland Museum of Natural History.
    Karena tulang belulang spesimen tersebut sangat halus dan rapuh, para ilmuwan tidak bisa menyusun ulang fosil tersebut secara fisik. Sebagai gantinya, mereka melakukan CT-scan pada fosil dan merekonstruksi ulang secara virtual di komputer.
    Perbandingan ukuran tengkorak ...Perbandingan ukuran tengkorak spesies S. melilutra, berang-berang modern, dan berang-berang eurasia. (X. Wang, dkk.)
    Dengan menganalisis rekonstruksi, tim menemukan bahwa S. melilutra berukuran panjang sekitar dua meter dan berbobot hampir 50 kg. Ukuran ini hampir dua kali lebih besar dari berang-berang modern dan empat kali dari berang-berang eurasia.
    Hasil rekonstruksi juga menunjukkan bahwa spesies baru ini memiliki rahang besar dan kuat, dengan gigi geraham bunodont yang memungkinkan mamalia semiakuatik tersebut memangsa kerang besar dan moluska, dengan memecahkan cangkangnya menggunakan rahang.
    Para peneliti menduga, bentuk tubuh yang lebih besar sangat krusial bagi keberlangsungan hidup spesies berang-berang ini, karena tak seperti kerabat modernnya yang bertubuh kecil, mereka belum berevolusi agar bisa menggunakan peralatan batu untuk memecahkan cangkang makanannya.
    “Jika S. melilutra tidak cukup pintar untuk mengetahui cara menggunakan alat, mungkin satu-satunya pilihan yang tersisa ialah mengembangkan rahang yang lebih kuat dengan meningkatkan ukuran tubuh,” kata ahli paleontology Xiaoming Wang dari Natural History Museum of Los Angeles.
    Spesies purba ini, menurut peneliti, termasuk keturunan berang-berang yang telah punah 18 juta tahun lalu dan fosil giginya ditemukan di Thailand pada 1983 silam.
    Rekonstruksi tengkorak juga mengungkap bahwa S. melilutra memiliki kemiripan dengan hewan lain.
    S. melilutra punya tengkorak seperti berang-berang, tetapi berbagi banyak kemiripan dengan badger—omnivora berkaki pendek dalam keluarga Mustelidae. Karena itulah kami menamainya melilutra,” kata Wang. Ia menjelaskan, dalam bahasa latin, meli atau meles berarti badger, dan lutra berarti berang-berang.
    Saat ini, para peneliti terus mempelajari fosil S. melilutra untuk mendapatkan penjelasan lengkap bagaimana hewan purba tersebut bisa memiliki fitur yang begitu luar biasa.
    Su mengatakan, "Kita tidak akan tahu lebih banyak sampai penelitian lebih lanjut dilakukan, tetapi sementara itu, sudah ada banyak hal yang bisa dikagumi dari hewan tersebut saat ini. S. melilutra mengingatkan kita tentang keanekaragaman kehidupan di masa lalu dan berapa banyak pertanyaan masih tersisa untuk dijawab."
    "Siapa yang menyangka bahwa ada berang-berang yang ukurannya sebesar srigala?" pungkasnya.
    (Lutfi Fauziah. Sumber: www.sciencealert.comwww.telegraph.co.uk)
    Baca Lengkap
          edit
    Published 9:28 PM by with 0 comment

    Kerangka Usia 1.700 Tahun Ditemukan Terkubur Telungkup dan Tanpa Lidah



      Kerangka berusia 1.700 tahun milik seorang lelaki berusia 30-an ini pertama kali ditemukan pada 1991 di sebuah pemakaman di Stanwick, Northamptonshire, Inggris.
      Kerangka Usia 1.700 Tahun Ditemukan Terkubur Telungkup dan Tanpa LidahKerangka berusia 1.700 tahun milik seorang lelaki berusia 30-an ini ditemukan dalam posisi telungkup, lidahnya hilang dan digantikan dengan batu pipih. (Historic England)
      Tim peneliti Inggris telah mengidentifikasi pemakaman unik kerangka manusia yang lidahnya hilang dan digantikan dengan sebongkah batu datar.
      Kerangka berusia 1.700 tahun milik seorang lelaki berusia 30-an ini pertama kali ditemukan pada 1991 di sebuah pemakaman di Stanwick, Northamptonshire, Inggris.
      Lelaki tersebut kemungkinan hidup sekitar abad ke-3 atau 4 Masehi, ketika Inggris merupakan bagian dari kekaisaran Romawi.
      Kerangka tersebut ditemukan dalam posisi tertelungkup, seperti yang biasa ditemukan pada penguburan menyimpang. Posisi tersebut digunakan di kalangan masyarakat untuk menghina jenazah.
      Baca juga:
      Dalam kebanyakan kasus, masyarakat meyakini bahwa jiwa akan meninggalkan tubuh melalui mulut. Menguburkan jenazah dengan posisi telungkup merupakan salah satu cara untuk mencegah jiwa “kotor” itu keluar dari tubuh dan mengancam orang-orang yang hidup.
      Menurut Caroline Ahlström Arcini, penulis studi global pertama tentang penguburan telungkup, ritual semacam itu kerap terjadi di seluruh dunia dari 26.000 tahun lalu hingga awal abad ke-20 Masehi.
      Dalam surveinya tahun 2009, Arcini mencatat setidaknya 600 jasad yang mengalami penghinaan dengan dimakamkan menghadap ke bawah dari 215 situs pemakaman.
      “Data itu menunjukkan bahwa fenomena tersebut merupakan tindakan sadar, bentuk mendalam dari perilaku manusia yang terjadi di semua budaya dan agama. Ada pola yang jelas bahwa penguburan menyimpang itu digunakan untuk mereka yang berbeda,” ujar Arcini.
      Baca juga:
      Penguburan tertelungkup telah ditemukan di Inggris pada perkuburan Romawi akhir atau Saxon awal. Namun peneliti mengatakan, kerangka dari Stanwick sangat unik.
      “Kami tidak bisa menemukan apa pun yang mirip dengan kasus ini dalam catatan arkeologi. Yang paling dekat adalah kasus dua kerangka dari periode yang sama namun berasal dari daerah Inggris berbeda, yang ditemukan dengan kuku-kuku di dalam mulut,” kata Simon Mays dari Historic England.
      Ada beberapa dugaan tentang bagaimana individu tersebut kehilangan lidah. Bukti infeksi pada tulang rahang mendukung teori bahwa lidah individu itu telah diamputasi saat hidup.
      “Mulut penuh dengan bakteri, jadi ketika lidah dipotong, infeksi kemungkinan besar akan tumbuh,” kata Mays.
      Baca juga:
      Tanda-tanda adanya infeksi aktif pada tulang mengindikasikan bahwa lidah individu tersebut telah dipotong beberapa bulan atau minggu sebelum kematian.
      “Dia kemungkinan tewas karena infeksi yang diakibatkan oleh amputasi lidah,” kata Mays.
      Alasan pasti mengapa lidah individu itu dipotong masih menjadi misteri. Mungkin itu adalah hukuman, seperti halnya hukum lawas di Jerman yang menjatuhkan amputasi lidah bagi orang-orang yang membuat tuduhan palsu terhadap orang lain. Namun belum diketahui, apakah orang-orang Romawi juga mempraktekkan hukuman tersebut.
      Kemungkinan lainnya, lelaki tersebut menggigit lidahnya sendiri. “Ini merupakan perilaku yang biasa ditemukan pada orang-orang yang menderita gangguan mental parah,” ujar Mays.
      Baca juga:
      Para peneliti juga belum mengetahui alasan mengapa lidah jenazah diganti dengan batu pipih. Mays dan rekan-rekannya meyakini bahwa penggantian tersebut merupakan tindakan simbolik untuk membuat tubuh lengkap kembali.
      “Pada kasus ini, batu akan menghalangi penggantian bagian tubuh. Mereka ingin memastikan bahwa jasad tidak melanjutkan kebiasaannya seperti saat masih hidup,” kata Mays.
      Baca juga: 
      Mays dan timnya akan melakukan investigasi lebih lanjut dalam beberapa bulan ke depan. Penelitian ini juga termasuk mempelajari isotop stabil untuk mengetahui apakah lelaki itu merupakan penduduk lokal atau pendatang.
      “Studi semacam itu akan membantu kita untuk memahami tradisi pemakaman ini dan mendorong kita untuk memperbaiki interpretasi saat ini,” pungkasnya.
      (Lutfi Fauziah. Sumber: Rossella Lorenzi/Seeker.com)
      Baca Lengkap
            edit
      Published 9:27 PM by with 0 comment

      Tengkorak Asli Manusia Ditemukan dalam Diorama di Museum

      Pada diorama berusia 150 tahun yang menampilkan singa menyerang unta dengan penunggang berturbannya itu, para konservator menemukan tengkorak manusia sungguhan.
      Tengkorak Asli Manusia Ditemukan dalam Diorama di MuseumRebecca Shreckengast dan putrinya, Hannah Shreckengast, 4, mengamati diorama "Lion Attacking a Dromedary" di etalase Carnegie Museum of Natural History. (Nate Smallwood/Tribune-Review via National Geographic)
      Siapa yang menyangka, di balik sebuah diorama taksidermi yang dipamerkan di Carnegie Museum of Natural History, Pittsburgh, Pennsylvania terdapat tengkorak manusia sungguhan.
      Saat pekerjaan restorasi dilakukan pada diorama berusia 150 tahun yang terdiri dari singa, dromedaries—unta berpunuk satu, dan penunggang berturban, CT-scan pada kepala penunggang mengungkap adanya tengkorak manusia lengkap dengan gigi sungguhan. Sebelumnya, pihak museum yakin bahwa tidak ada sisa-sisa manusia dalam diorama bertajuk Lion Attacking a Dromedary.
      Diorama yang selesai direstorasi itu kembali dipajang pada 28 Januari, di tengah dugaan tentang bagaimana tengkorak bisa sampai di sana dan perdebatan tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya.
      Naturalis Prancis, Edouard Verreaux, yang bekerja bersama saudara lelakinya dalam kelompok berjuluk Maison Verreaux, mendadak terkenal karena mengubah seorang anggota suku Afrika menjadi potongan taksidermi ini pada 1830. Ia Merekonstruksi diorama ini pada pertengahan 1.800-an. Karyanya tersebut singgah dari satu museum ke museum lain sebelum akhirnya Museum Carnegie mendapatkannya pada tahun 1989 dari American Museum of Natural History di New York City.
      Manekin kepala manusia karya ...Manekin kepala manusia karya Verreaux bersaudara pada diorama "Lion Attacking a Dromedary". Hasil pemindaian teknologi CT mengungkap adanya tengkorak manusia sungguhan lengkap dengan gigi-giginya. (Nate Smallwood/Tribune-Review via National Geographic)
      Selama restorasi, para konservator menemukan bahwa banyak tulang belulang yang masih utuh di dalam taksidermi hewan. Mereka juga menemukan bahwa manekin manusia sebagian besar terbuat dari bahan sintetis—tetapi tidak seluruhnya.
      Setelah menemukan tengkorak, pihak museum berdebat bagaimana menindaklanjutinya. Untuk mengembalikan tengkorak itu ke makam asalnya akan menjadi hal yang sulit, karena tidak ada catatan dari akuisisi tengkorak. Verreaux bersaudara diketahui telah memalsukan informasi pada beberapa proses akuisisi untuk meningkatkan harga jual karya mereka.
      Foto jarak dekat menampilkan ...Foto jarak dekat menampilkan serangan "singa barbar" terhadap unta dengan penunggangnya yang berturban di dalam diorama. (Nate Smallwood/Tribune-Review via National Geographic)
      Asisten kurator sains dan penelitian di Museum Carnegie, Erin Peters, mengatakan bahwa tes DNA pada tengkorak tersebut kemungkinan juga tidak dapat memberikan bukti tentang asal-usul yang meyakinkan.
      “Kami tidak bisa memulangkan (sisa-sisa manusia) dengan informasi yang ada sekarang, tetapi kami berharap dapat melanjutkan penelitian, terutama dengan sumber daya arsip Prancis, yang dapat memberi beberapa wawasan baru tentang sejarah diorama ini,” katanya.
      Kecenderungan Verreaux bersaudara untuk melebih-lebihkan informasi juga telah menyebabkan kekhawatiran tentang bagian-bagian lain dalam pameran tersebut. Para ilmuwan telah mengambil sampel DNA dari “singa barbar” dengan harapan dapat mengkonfirmasi keberadaan hewan taksidermi, yang pada kenyataannya, merupakan contoh dari kucing besar yang telah punah.
      (Lutfi Fauziah. Sumber: Delaney Chamber/National Geographic)
      Baca Lengkap
            edit

      Friday, January 20, 2017

      Published 9:17 PM by with 0 comment

      Monumen Batu yang Lebih Megah dari Stonehenge Ditemukan di Kazakhstan

      Tim arkeologi menemukan monumen batu raksasa yang lebih megah dibanding Stonehenge dan diperkirakan berusia 1.500 tahun di Kazakhtan.
      Monumen Batu yang Lebih Megah dari Stonehenge Ditemukan di KazakhstanMonumen batu yang lebih Megah dari Stonehenge ditemukan di Kazakhstan. (Evgenii Bogdanov)
      Tak jauh dari Laut Kaspian di Kazakhstan, tim arkeologi menemukan monumen batu raksasa yang diperkirakan berusia 1.500 tahun. Kompleks struktur bebatuan yang luasnya mencapai 120 hektar ini mengingatkan kita dengan Stonehenge di Inggris, namun dalam versi yang lebih megah.
      Ketika area diteliti secara detail, beberapa jenis struktur batu berhasil diidentifikasi. “Struktur batu terkecil berukuran 4 x 4 meter, dan yang paling besar berukuran 34 x 24 meter,” tulis Andrey Astafiev, arkeolog di Mangistaus State Historical and Cultural Reserve; dan Evgeniï Bogdanov, dari Russian Academy of Sciences Siberian Department's Institute of Archaeology and Ethnography.
      Struktur batu terbuat dari batu yang ditancapkan ke tanah secara vertikal. Beberapa batu, yang tampak sedikit mirip dengan Stonehenge, memiliki ukiran yang menggambarkan senjata-senjata dan hewan-hewan.
      "Salah satu penemuan paling spektakuler adalah sisa-sisa pelana yang terbuat sebagian dari perak dan ditutupi dengan gambar babi hutan, rusa dan binatang pemangsa yang mungkinkan merupakan singa,” tulis Astafiev dan Bogdanov dalam artikel mereka. Gambar yang terukir di relief, mencuat keluar dari latar belakang perak.
      Tanda-tanda kompleks struktur batu ini pertama kali ditemukan oleh F. Akhmadulin, pria asal Kota Aktau, pada tahun 2010 silam. Akhmadulin tengah menggunakan detektor logam di Altÿnkazgan, yang terletak di Semenanjung Mangÿshlak, dekat pantai timur Laut Kaspia, ketika ia menemukan bagian pelana perak dan artefak lain. Ia kemudian membawa artefak tersebut kepada Astafiev yang bekerja di Aktau.
      Sebagian besar wilayah penemuan terdiri dari semak-semak gurun. Penemuan Akhmadulin inilah yang menuntun para arkeolog menemukan kompleks struktur batu kuno tersebut.
      “Sayangnya, kondisi ekonomi dan sosial di wilayah ini pada saat itu tidak memungkinkan pencarian arkeologi. Para arkeolog baru bisa menggali situs ini pada tahun 2014,” tulis kedua peneliti.
      Setelah penggalian dilakukan, peneliti menemukan lebih banyak lagi bagian-bagian pelana bersama artefak lain, termasuk dua objek perunggu yang diketahui sebagai sisa-sisa cambuk.
      Pemilik pelana perak tersebut kemungkinan seseorang yang kaya raya dan memiliki kekuasaan. Pasalnya, para arkeolog menemukan simbol yang disebut “tamgas”, terukir pada pelana perak di atas kepala predator. Simbol tersebut bisa menjadi petunjuk tentang status istimewa pemilik pelana ini.
      Tidak begitu jelas mengapa pelana perak bisa berada di struktur batu, kecuali mungkin hal tersebut dibuat untuk tujuan ritual atau penguburan benda-benda. Para peneliti juga menemukan sisa-sisa kerangka manusia terkubur di bawah struktur batu, namun kerangka tersebut tampaknya baru ada berabad-abad setelah pelana perak dikuburkan di sini.
      Penelitian masih berlanjut. Bogdanov dan timnya berencana menerbitkan laporan penelitian yang lebih lengkap tentang pelana perak tersebut pada tahun 2017. 

      (Lutfi Fauziah. Sumber: Live Science, Science Alert)
      Baca Lengkap
            edit
      Published 9:14 PM by with 0 comment

      Kurator Museum Temukan Lusinan Mumi Anak Buaya

      Hampir 50 ekor buaya mungil ditemukan di dalam bungkusan mumi Mesir kuno.
      Kurator Museum Temukan Lusinan Mumi Anak BuayaDalam bungkusan mumi dua buaya remaja, ternyata terdapat 47 mumi anak buaya yang luput dari pengamatan peneliti pada tahun 1990. (Interspectral via National Geographic)
      Ketika tengah mempersiapkan pameran baru yang memungkinkan pengunjung membedah mumi buaya secara virtual, para kurator museum di Belanda menemukan hal mengejutkan. Apa yang selama ini mereka kira adalah mumi dua buaya, ternyata mengandung hampir 50 mumi anak buaya.
      Pemindaian sebelumnya yang dilakukan pada thaun 1990, menunjukkan bukti bahwa spesimen berukuran hampir 10 kaki tersebut merupakan mumi dua buaya remaja. Namun, pemindaian lawas tersebut tidak menunjukkan secara jelas hewan-hewan tambahan lainnya.
      Spesimen berusia 2.500 tahun itu kemungkinan besar dikorbankan untuk Sobek, sang dewa buaya.
      Akan tetapi, pemindaian dengan menggunakan teknologi 3D yang lebih canggih, mengungkap adanya 47 anak buaya tambahan, yang terperangkap bersama dua buaya asli dalam bungkusan mumi.
      “CT Scan menawarkan pemandangan yang benar-benar rinci dan noninvasif tentang apa yang ada dalam mumi tersebut,” ujar konservator museum, Allison Lewis.
      Dalam pemindaian yang lebih ...Dalam pemindaian yang lebih canggih ini, buaya remaja dikelilingi oleh anak-anak buaya yang tampak seperti garis warna biru di sekitar mereka. (Interspectral via National Geographic)
      Laura Weiss, seorang kurator di National Museum of Antiquities di Leiden, mengungkapkan bahwa spesimen berusia 2.500 tahun itu kemungkinan besar dikorbankan untuk Sobek, sang dewa buaya.
      “Masyarakat Mesir kuno percaya pada kehidupan setelah kematian, hal tersebut bisa menjelaskan pengorbanan dan mumifikasi dari anak dan remaja buaya tersebut,” tambah Weiss.
      Pada pameran yang akan datang di Leiden, pengunjung museum akan mendapat kesempatan untuk memisahkan lapisan-lapisan mumi secara virtual, menampilkan 49 buaya di dalamnya. Pameran ini juga memungkinkan orang-orang untuk memuka mumi seorang pendeta Mesir secara digital dan memeriksa dekorasi-dekorasi mumi secara terperinci.  

      (Lutfi Fauziah. Sumber: Delaney Chambers/National Geographic)
      Baca Lengkap
            edit
      Published 9:12 PM by with 0 comment

      Bangkai Kapal Karam Bekas Perang Dunia II Hilang Akibat Dijarah

      Enam bangkai kapal karam bekas Perang Dunia II milik Belanda, Inggris dan Amerika yang berada di perairan Indonesia hilang dicuri penjarah logam tua.
      Bangkai Kapal Karam Bekas Perang Dunia II Hilang Akibat DijarahKapal selam Perch (SS-176) milik Amerika Serikat yang tenggelam di Laut Jawa pada Maret 1942 setelah rusak parah oleh serangan Jepang. (US NAVY)
      Enam bangkai kapal karam bekas Perang Dunia II di perairan Indonesia hilang dicuri penjarah logam tua. Di kawasan tersebut, terdapat tiga kapal perang Belanda dan dua milik Inggris yang karam oleh tentara Jepang setelah Pertempuran Laut Jawa pada Februari 1942. Selain itu, ada pula bangkai kapal selam Perch (SS-176) milik Amerika Serikat yang tenggelam di Laut Jawa pada Maret 1942 setelah rusak parah oleh serangan Jepang.
      Skala kerusakan pada bangkai kapal bersejarah itu ditemukan awal bulan ini oleh sebuah tim internasional dari penyelam dan spesialis survei bawah air, yang disponsori oleh masyarakat memorial angkatan laut Belanda, Karel Doorman Fund. Yayasan ini berharap dapat mengambil video dalam rangka persiapan peringatan ke 75 tahun Pertempuran Laut Jawa tahun depan.
      Bangkai kapal Belanda hampir utuh ketika mereka ditemukan kembali oleh penyelam amatir pada tahun 2002, tapi pada ekspedisi terbaru yang ditemukan hanya lubang-lubang di dasar laut yang dulunya merupakan tempat bangkai kapal berbaring.
      "Ini sangat mengejutkan. Sebagai organisasi perwakilan dari next-of-kin (awak kapal), ini adalah pukulan besar bagi kami, karena kami menganggap kapal tersebut sebagai kuburan perang bawah laut dan mereka jelas tidak boleh dirusak," kata Jacques Brandt, presiden Karel Doorman Fund.
      Tim survei melaporkan bahwa bangkai dua kapal perang Belanda yaitu HNLMS De Ruyter dan Java HNLMS, tampaknya  telah hilang. Sementara sebagian besar bangkai kapal ketiga milik Belanda, HNLMS Kortenaer,  juga hilang.
      Mereka juga melaporkan bahwa dua bangkai kapal perang Inggris di area yang sama, yaitu HMS Exeter dan HMS Encounter, hampir seluruhnya menghilang, sementara kapal Amerika Serikat telah lenyap sepenuhnya.
      Laporan dari Survei Laut Jawa tersebut kini telah dilimpahkan kepada Kementerian Pertahanan masing-masing negara yang bertugas melindungi bangkai kapal angkatan lautnya.
      Menteri pertahanan Belanda membuat pernyataan untuk anggota DPR pekan lalu, mencatat kerusakan berdasar laporan yang diterima. Sementara itu, Kementerian Pertahanan Inggris juga mengeluarkan pernyataan sebagai tanggapan terhadap laporan ekspedisi, mengutuk tindak perusakan dan penodaan yang dilakukan terhadap bangkai kapal, serta menuding para penjarah logam ilegal sebagai pihak yang bersalah.
      “Berdasarkan perjanjian internasional, kapal angkatan laut tetap menjadi milik pemerintah mereka setelah karam, dan mengganggu atau mengambil bagian-bagiannya tanpa izin resmi merupakan tindakan ilegal,” ujar arkeolog laut, Innes McCartney, peneliti tamu di Bournemouth University di Inggris.
      Sayangnya, harga logam yang tinggi dan kurangnya penegakan hukum mengakibatkan banyak bangkai kapal perang yang karam, dicuri logam-logam tuanya oleh para penjarah logam, terutama di kawasan Asia dan Pasifik.
      “Dari sudut pandang saya, kejadian ini benar-benar membuat frustasi. Sekarang kami tidak akan pernah bisa melakukan studi arkeologi tentang Pertempuran Laut Jawa—semuanya telah lenyap, hilang dari kita selamanya,” ujar McCartney.
      McCartney mengatakan, pelacakan kapal penjarah logam sebenarnya bisa dilakukan dengan cara yang hampir sama dengan pelacakan kapal nelayan guna mencegah penangkapan ikan ilegal. Kapal-kapal yang tampak berlama-lama di kawasan yang diketahui sebagai daerah bangkai kapal karam, atau yang menunjukkan perilaku mencurigakan lainnya, dapat ditandai secara otomatis dan diperiksa ketika mereka mencapai pelabuhan.
      McCartney juga mencatat bahwa semakin banyak negara telah sepakat untuk saling melindungi bangkai kapal di perairan mereka di bawah Konvensi UNESCO 2001 mengenai Perlindungan Warisan Budaya Bawah Air.
      Tapi, beberapa negara terkemuka, termasuk AS dan Inggris, belum meratifikasi konvensi tersebut, karena khawatir bahwa hal itu akan terlalu sulit atau mahal untuk ditegakkan.
      McCartney kemudian mengatakan bahwa metode modern upaya perlindungan tersebut sebagian besar berupa peralatan elektronik, dan tidak perlu mengirimkan kapal perang secara fisik untuk melindungi bangkai kapal.
      "Kerangka hukumnya ada, dan kerangka teknologi juga ada, tinggal bagaimana negara-negara dunia mendapatkan dan melakukannya," pungkasnya.

      (Lutfi Fauziah. Sumber: Tom Metcalfe/Live Science)
      Baca Lengkap
            edit
      Published 9:11 PM by with 0 comment

      Penggalian Fosil Reptil Laut Terbesar di Dunia

      Ahli paleontologi Elizabeth Nicholls berhasil merampungkan penggalian fosil reptil laut terbesar yang pernah ditemukan.
      Penggalian Fosil Reptil Laut Terbesar di DuniaElizabeth Nicholls, yang meninggal pada tahun 2004, menghabiskan waktu bertahun-tahun menggali fosil Ichthyosaurus sepanjang hampir 22,8 meter di tepi Sungai Sikkani, British Columbia, Kanada. (Tomas Bertelsen/Rolex Awards via National Geographic)
      Kalau bukan karena kegigihan ahli paleontologi Elizabeth "Betsy" Nicholls, sisa-sisa reptil laut prasejarah terbesar yang pernah ditemukan mungkin masih tertanam di padang gurun terpencil British Columbia, Kanada.
      Setelah ditemukan oleh seorang arkeolog di kawasan kapur di tepi Sungai Sikanni, para ilmuwan awalnya memutuskan, bahwa fosil Ichthyosaurus yang panjangnya hampir 22,8 meter itu terlalu besar, terlalu rapuh, dan terlalu terisolasi untuk digali.
      Selain itu, situs tersebut merupakan wilayah primer beruang dan penuh nyamuk, sehingga hanya dapat diakses beberapa minggu dalam musim panas setiap tahunnya.
      etapi Nicholls, kurator reptil laut di Royal Tyrrell Museum, Kanada, tidak terpengaruh dengan segala hambatan itu. Terutama setelah ia menyadari bahwa fosil yang awalnya dikira milik seekor paus biru sebenarnya spesies baru Ichthyosaurus. Spesies yang moncongnya menyerupai lumba-lumba hidung botol tersebut kemudian diberi nama Shonisaurus sikanniensis.
      Sebelum kematiannya karena kanker payudara pada Oktober 2004 silam, Nicholls telah memulai upayanya untuk mengeluarkan kerangka dengan melakukan penggalangan dana dan penggalian selama bertahun-tahun. Ahli paleontologi menganggap usahanya sebagai salah satu penggalian fosil paling ambisius yang pernah dilakukan.
      “Tidak ada orang lain yang akan mencoba untuk menggali sesuatu sebesar ini,” kata Don Brinkman, direktur pelestarian dan penelitian di Royal Tyrrell Museum, tempat fosil tersebut dipamerkan.
      Fosil ichthyosaurus ini bentuk ...Fosil ichthyosaurus ini bentuk dan usianya mirip dengan fosil yang berusaha digali Nicholls, namun ukurannya jauh lebih kecil. (Tomas Bertelsen/Rolex Awards via National Geographic)
      “Secara pribadi, saya tidak berpikir kami bisa melakukan apa-apa, kecuali mengambil sampel dan mendokumentasikan penampilan fosil tersebut. Tetapi Betsy tetap bersikukuh,”ujarnya.
      Perjalanan ke situs membutuhkan waktu berkendara 12 jam dari basecamp di dekat Calgary, dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 3,2 km. Kru menggunakan bor dan gergaji listrik untuk mengiris kerangka yang terbungkus batu dari tepi sungai. Helikopter bolak-balik mengangkut peralatan dan kru selama empat tahun untuk menyelesaikan penggalian.
      “Hasilnya benar-benar layak dengan usaha yang dilakukan. Fosil ini menulis ulang sejarah ichthyosaurus yang selama ini kita ketahui,” ujar Nicholls sebelum ia meninggal.
      Nicholls dan peneliti lain ...Nicholls dan peneliti lain sedang memisahkan kerangka ichthyosaurus ini dari batu kapur yang membungkusnya. (Tomas Bertelsen/Rolex Awards via National Geographic)
      Nicholls telah terpesona dengan dunia paleontologi sejak berada berada di bangku sekolah, tetapi tidak yakin bahwa bidang yang banyak didominasi oleh laki-laki ini, bakal menerima perempuan. Ketika berusia 12 tahun, ia meminta saran dengan mengirimkan surat kepada ahli paleontologi Roy Chapman Andrews yang kemudian menjadi direktur American Museum of Natural History. Nicholls menyimpan surat balasan dari Andrews sebagai kenang-kenangan berharga.
      Makalah ilmiah terakhir Nicholls yang ditulis bersama dengan ahli paleontologi Makoto Manabe ini, terbit dalam Journal of Vertebrate Paleontology, dua bulan setelah kematiannya. Makalah ini membentuk penerimaan masyarakat ilmiah tentang Shonisaurus sikanniensis sebagai spesies baru ichthyosaurus, dan membuka area baru dalam penelitian evolusioner.
      National Geographic memproduksi konten ini sebagai bagian dari kemitraan dengan Rolex Awards for Enterprise.

      (Lutfi Fauziah. Sumber: Gary Strauss/National Geographic)
      Baca Lengkap
            edit
      Published 9:10 PM by with 0 comment

      Patung "Pemikir Kuno" di Atas Kendi Ditemukan di Israel

      Tim arkeolog IAA menemukan artefak langka berusia sekitar 4.000 tahun berupa kendi keramik dengan patung sosok yang tampak sedang duduk dan berpikir di atasnya.
      Patung ''Pemikir Kuno'' di Atas Kendi Ditemukan di IsraelPara arkeolog menemukan kendi tersebut terpecah menjadi beberapa pecahan, kemudian para konservator dari IAA yang merestorasinya. (Eyecon Productions/Israel Antiquities Authority)
      Patung sosok yang tengah duduk dan berpikir di atas sebuah kendi keramik ditemukan di Kota Yehud, Israel. Menurut para arkeolog Israel Antiquities Authority (IAA), kendi yang ditemukan saat pembangunan sebuah rumah tersebut berusia sekitar 4.000 tahun.
      “Tampaknya, pertama-tama kendi yang khas dari periode tersebut disiapkan, kemudian patung unik itu ditambahkan di atasnya,” ujar Gilad Itach, direktur ekskavasi IAA.
      Kendi itu tingginya hanya 18 cm, berbentuk oval lonjong, sementara sosok di atas kendi duduk dengan satu tangan bertumpu pada lutut dan lainnya menopang dagu. Para arkeolog menjulukinya sebagai patung "pemikir kuno".
      “Tingkat presisi dan detail pada patung berusia sekitar 4.000 tahun ini sangat mengesankan,” ujar Itach.
      Para peneliti menemukan kendi bersama beberapa artefak lain, termasuk panah, kepala kapak, tulang domba, belati, dan semacam tulang keledai. Petugas Kementerian Pendidikan Israel, Efrat Zilber, mengatakan, barang-barang ini kemungkinan besar merupakan bagian dari pemakaman, yang dikuburkan di samping tubuh orang penting.
      “Sejauh pengetahuan saya, kumpulan pemakaman kaya yang termasuk kendi tanah liat unik seperti ini belum pernah ditemukan di negara ini,” kata Zilber.
      Kendi itu tingginya hanya 18 ...Kendi itu tingginya hanya 18 cm, berbentuk oval lonjong, sementara sosok di atas kendi duduk dengan satu tangan bertumpu pada lutut dan lainnya menopang dagu. (Eyecon Productions/Israel Antiquities Authority)
      Penggalian lebih dalam mengungkap keberadaan artefak yang berasal dari setidaknya 6.000 tahun lalu, termasuk kendi tembikar, alat-alat batu dan basalt, serta tulang belulang hewan. Arkeolog juga menemukan tong mentega dari Periode Tembaga.
       Tembikar yang dihias
      Para arkeolog menemukan kendi tersebut terpecah menjadi beberapa pecahan, kemudian para konservator dari IAA yang merestorasinya. Leher kendi seperti menyediakan tempat duduk bagi patung. Para arkeolog tak begitu yakin apakah kendi tersebut memang dimaksudkan untuk dibuat dengan patung di atasnya, atau karena beberapa seniman memutuskan menambah patung tersebut untuk menghiasi kendi polos itu.
      Artefak itu berasal dari sekitar tahun 2000 SM, Periode Perunggu Tengah di Levant (wilayah yang termasuk Israel dan Mediterania Timur), Menurut Metropolitan Museum of Art, pada masa itu, orang-orang nomadik yang disebut Amorite menetap di seluruh bagian utara wilayah tersebut dan para pedagang, kerap bolak-balik antara Levant dan Mesir.
      Setelah berhasil dibersihkan, direstorasi, dan diawetkan oleh tim IAA, artefak langka berupa kendi dengan patung ini menimbulkan pertanyaan: Siapa yang memahat sosok di atas kendi? Mengapa ia memahatnya? Siapa yang dimakamkan bersama kendi unik ini? Apa tujuannya kendi ini dimakamkan bersamanya? Semua pertanyaan itu kini masih menjadi misteri, setidaknya sampai arkeolog menemukan petunjuk lebih lanjut tentang kendi berpatung nan langka ini.

      (Lutfi Fauziah. Sumber: Stephanie Pappas/Live Science)
      Baca Lengkap
            edit
      Published 9:06 PM by with 0 comment

      Ribuan Prasasti dan Petroglif Ungkap Kehidupan Lampau di Gurun Yordania

      Ribuan prasasti dan petroglif yang berasal dari sekitar 2.000 tahun lalu ditemukan di wilayah Jebel Qurma, Gurun Hitam, Yordania.
      Ribuan Prasasti dan Petroglif Ungkap Kehidupan Lampau di Gurun YordaniaPrasasti ditulis dalam Safaitic, abjad yang digunakan oleh orang-orang yang tinggal di bagian Suriah, Yordania dan Saudi di zaman kuno. (Peter Akkermans)
      Ribuan prasasti dan petroglif yang berasal dari sekitar 2.000 tahun lalu  ditemukan di wilayah Jebel Qurma, Gurun Hitam, Yordania. Penemuan ini menggambarkan saat lanskap yang sekarang sepi itu penuh dengan kehidupan.
      “Saat ini, daerah Jebel Qurma dan Gurun Hitam pada umumnya, adalah daerah yang sangat tidak ramah, sangat kering dan sulit untuk dilintasi,” kata Peter Akkermans, profesor di Universitas Leiden di Belanda yang memimpin Jebel Qurma Arkeologi Landscape Project. Foto yang diambil dari lanskap Gurun Hitam masa kini menunjukkan sedikit air, vegetasi atau satwa liar.
      Prasasti ditulis dalam Safaitic, abjad yang digunakan oleh orang-orang yang tinggal di bagian Suriah, Yordania dan Saudi di zaman kuno. Penelitian ini sedang berlangsung, namun para arkeolog mengatakan temuan mereka menunjukkan bahwa sekitar 2.000 tahun yang lalu, Jebel Qurma memiliki pohon, satwa liar dan populasi manusia yang cukup besar.
      Ketika kehidupan berkembang
      "Ada ribuan prasasti dan petroglif di kawasan Jebel  Qurma, yang menunjukkan bahwa dulu daerah ini digunakan oleh orang-orang secara intensif," kata Akkermans.
      Petroglif, atau seni batu, menunjukkan gambar singa, rusa, kuda dan burung besar yang kemungkinan burung unta. Prasasti yang ditemukan di dekat petroglif ini cenderung sangat singkat. "Sebagian besar teks hanya berupa nama-nama orang,” kata Akkermans.
      Beberapa teks berisi informasi tentang kegiatan yang dilakukan masyarakat lampau di Jebel Qurma, dengan beberapa mengisyaratkan bahwa orang-orang yang mendiami kawasan itu memiliki konflik dengan penduduk Nabataea, orang-orang yang membangun kota kuno Petra. "Saya sedang mengintai orang-orang Nabataea,"demikian salah satu tulisan pada prasasti.
      Prasasti lainnya menceritakan tantangan dan kemunduran yang dihadapi oleh orang-orang yang tinggal di Jebel Qurma. Seperti tulisan "Semoga ada kekuatan melawan kelaparan," sementara yang lain ditulis oleh seorang pria yang mengatakan ia “kebingungan atas nasib orang-orang tercintanya."
      Para ahli sedang menganalisa teks dan petroglif-petroglif untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang maksud dan alasan mengapa petroglif tersebut di buat. "Alasan yang tepat untuk menghasilkan seni cadas masih belum jelas dan terbuka untuk diskusi. Apa pesan yang ingin disampaikan oleh pembuatnya juga belum terungkap,” kata Akkermans.
      Ketika tanah yang subur menjadi tandus
      Selain prasasti dan petroglif, arkeolog menemukan sisa-sisa kamp, tempat penampungan dan makam yang digunakan oleh orang-orang dari Jebel Qurma. Para arkeolog meyakini bahwa sekitar 2.000 tahun yang lalu, orang-orang yang tinggal di wilayah ini merupakan kaum nomadik.
      Tim sedang mencari lebih banyak bukti tentang kondisi lingkungan di zaman kuno dan bagaimana lanskap tersebut menjadi tempat yang sunyi hari ini.
      "Penggalian kami di salah satu situs mengungkapkan massa arang dari abad ketiga, yang tampaknya mewakili beberapa kelompok pohon, yang membutuhkan air sepanjang tahun," kata Akkermans. Berdasarkan hal itu, Akkermans menyimpulkan bahwa kondisi diwilayah tersebut pada sekitar abad ketiga mungkin cukup berbeda dengan hari ini. “Ini tentunya menjadi hal yang sangat ingin saya selidiki di penelitian selanjutnya,” pungkas Akkermans.

      (Lutfi Fauziah. Sumber: Owen Jarus/Live Science)
      Baca Lengkap
            edit
      Published 9:01 PM by with 0 comment

      Kulit telur dan Tulang Bayi Kalkun ini Jadi Bukti Awal Peternakan Kalkun

      Kalkun dibesarkan untuk dimakan, diberikan sebagai hadiah, dan digunakan dalam ritual oleh orang-prang Zapotec di masa lalu.
      Kulit telur dan Tulang Bayi Kalkun ini Jadi Bukti Awal Peternakan KalkunKulit telur kalkun dan tulang dari persembahan 1.500 tahun yang lalu di Oaxaca, Meksiko. (Linda Nicholas/The Field Museum)
      Kalkun yang biasa disantap pada perayaan Thanksgiving memiliki sejarah masa lalu. Para arkeolog telah menemukan sekantong telur kalkun ternak digunakan sebagai ritual persembahan 1.500 tahun yang lalu di Oaxaca, Meksiko - beberapa bukti awal kalkun ternak.
      "Penelitian kami mengatakan bahwa kalkun telah diternak sekitar 400-500 SM," jelas arkeolog Field Museum, Gary Feinman, salah satu penulis makalah ini. "Orang-orang telah membuat dugaan tentang ternak kalkun berdasarkan ada tidak adanya tulang di situs arkeologi, tapi sekarang kita bawa ke dalam kelas informasi yang tidak tersedia sebelumnya. Kami memberikan bukti yang kuat untuk mengkonfirmasi hipotesis sebelumnya." Hasilnya dipublikasikan dalam sebuah artikel di Journal of Archaeological ScienceReports.
      Feinman, bersama dengan penulis utama Heather Lapham dari University of North Carolina di Chapel Hill, dan rekan penulis Linda Nicholas juga dari The Field Museum, menemukan telur selama penggalian di Oaxaca yang adalah rumah bagi orang-orang Zapotec ribuan tahun lalu. "Itu sangat menarik karena sangat jarang untuk menemukan seluruh bagian telur utuh. Ini sangat tak terduga," kata Feinman.
      "Heather Lapham adalah seorang arkeolog yang mempelajari tulang binatang, dan ia segera mengetahui bahwa kami telah menemukan lima butir telur utuh atau belum menetas yang ditinggalkan sebagai persembahan bersama tujuh kalkun bayi yang baru menetas, yang hanya tersisa tulang kecil mereka," kata Feinman. Analisis pemindaian mikroskop dari kulit telur dikonfirmasikan bahwa telur tersebut memang dierami oleh kalkun.
      "Fakta bahwa kita melihat segenggam penuh telur kalkun yang belum menetas, bersama dengan tulang-tulang kalkun muda dan dewasa lainnya di dekatnya, mengatakan bahwa burung-burung tersebut diternakkan," kata Feinman. "Ini butuh untuk dikonfirmasikan informasi sejarah tentang penggunaan kalkun di daerah sini."
      Telur-telur tersebut, menurut Feinman, adalah persembahan dari makna penting ritual bagi orang-orang Zapotec. Orang-orang Zapotec masih tinggal di Oaxaca hari ini, dan ternak kalkun tetap penting bagi mereka. "Kalkun dibesarkan untuk makan, diberikan sebagai hadiah, dan digunakan dalam ritual," kata Feinman. "Kalkun-kalkun tersebut digunakan dalam persiapan makanan untuk ulang tahun, pembaptisan, pernikahan, dan festival keagamaan."
      Informasi baru tentang kapan kalkun diternakkan membantu memperkuat gambaran yang lebih besar dari hewan ternak di Mesoamerika. "Ada sangat sedikit hewan ternak di Oaxaca dan Mesoamerika pada umumnya dibandingkan dengan Eurasia," jelas Feinman. "Eurasia punya banyak sumber daging yang berbeda, tapi di Oaxaca 1.500 tahun yang lalu, sumber daging hanya dari ternak kalkun dan anjing. Dan sementara orang di Oaxaca ini bergantung sebagian besar pada daging dari hewan yang dibawa oleh Spanyol (seperti ayam, daging sapi, dan babi), kalkun memiliki kekunoan yang jauh lebih besar di wilayah tersebut dan masih memiliki ritual besar seperti makna penting ekonomi saat ini."
      Kalkun-kalkun yang sangat penting bagi orang-orang Zapotec saat ini merupakan burung yang menjadi peran utama dalam tradisi Thanksgiving orang Amerika. “Ini tidak berbeda dengan jenis kalkun yang telah ada dari awal Thanksgiving, dan mirip dengan burung-burung yang kita makan hari ini," kata Feinman.

      (Linda Nicholas/The Field Museum via Eurekalert.org)
      Baca Lengkap
            edit
      Published 8:59 PM by with 0 comment

      Lucy Sang Leluhur Manusia Ternyata Mahir Memanjat Pohon

      Lucy, salah satu leluhur manusia, ternyata sangat mahir memanjat pohon. Bahkan tanda-tanda kemampuan ini terlihat dalam konstruksi tulang mereka.
      Lucy Sang Leluhur Manusia Ternyata Mahir Memanjat PohonSosok hasil rekonstruksi Lucy, yang dipamerkan National Museum of Natural History, Washington D.C., Amerika Serikat. (Wikimedia Commons)
      Lebih dari empat dekade lalu, ilmuwan berhasil menemukan fosil leluhur manusia awal yang hidup sekitar 3,18 juta tahun lalu. Fosil tersebut milik Australopithecus afarensis, atau lebih dikenal dengan julukan Lucy.
      Sejak penemuan fosil Lucy, para ilmuwan telah memperdebatkan setiap aspek tentang Lucy. Salah satu perdebatan terbesar yang hangat di kalangan ilmuwan ialah, apakah Lucy—yang memiliki fitur kera besar sekaligus manusia, lebih banyak menghabiskan waktu di pohon atau berjalan di tanah?
      Baru-baru ini, berkat teknologi CT-Scan yang lebih canggih, kita akhirnya mengetahui jawabannya. Menurut tim peneliti dari John Hopkins University dan University of Texas, Lucy sangat mahir memanjat pohon. Bahkan para peneliti dapat melihat tanda-tanda kemampuan ini dalam konstruksi tulang mereka.
      Dalam studi ini, ilmuwan membuat 35.000 potongan CT-Scan yang menunjukkan rincian terdalam dari struktur tulang Lucy.
      “Penelitian kami berdasarkan teori tentang bagaimana suatu benda dapat memfasilitasi atau menahan kelenturan. Misalnya, selang atau sedotan yang memiliki dinding tipis, akan lentur dengan mudah, sementara dinding yang lebih tebal mencegah kelenturan. Sama halnya dengan tulang,” ujar Christopher Ruff, dari Johns Hopkins University School of Medicine.
      Menggunakan hipotesis ini, tim dapat menentukan mana bagian tubuh Lucy yang sering digunakan dan jarang digunakan. Hasil analisis mengungkap bahwa lengan Lucy terbentuk dengan sangat baik, seperti lengan simpanse. Di sisi lain, pemindaian dari tulang kaki juga menunjukkan bahwa Lucy juga sangat beradaptasi untuk berjalan seperti halnya manusia.
      “Lengan simpanse relatif dibangun lebih padat karena mereka menggunakannya untuk memanjat pohon. Kebalikannya, manusia memiliki tulang kaki lebih padat karena menghabiskan waktu lebih banyak untuk berjalan. Hasil untuk Lucy sangat meyakinkan dan intuitif,” ujar Ruff.
      Hasil penelitian ini mendukung studi sebelumnya yang menemukan bukti-bukti bahwa Lucy mungkin tewas akibat terjatuh dari pohon. Meski demikian, ada satu pertanyaan yang masih jadi misteri: seberapa banyak waktu yang dihabiskan oleh Lucy dan spesies hominid awal lainnya untuk berada di pohon?
      Singkatnya, saat ini belum ada seorang pun yang mengetahui dengan pasti. Salah satu hipotesis paling populer ialah, kemungkinan Lucy tidur di atas pohon, untuk menghindari predator yang mengintai di malam hari.
      Jika hipotesis itu benar, maka berarti Lucy menghabiskan sepertiga hidupnya di atas pohon apabila ia tidur rata-rata delapan jam per hari. Angka ini bisa lebih tinggi jika Lucy juga mencari makanan di kanopi hutan.
      “Dari sudut pandang kita, mungkin tampak unik jika hominid awal seperti Lucy mengkombinasikan berjalan di atas tanah dengan dua kaki, sekaligus menghabiskan sejumlah besar waktu di atas pohon,” ujar Richard Ketcham dari the University of Texas.
      “Tapi Lucy tidak tahu bahwa dirinya unik. Ia berpindah dari tanah dan memanjat pohon, membuat sarang dan mencari makan di atas sana, hingga hidupnya harus berakhir akibat—kemungkinan—terjatuh dari pohon,” lanjut Kappelman.
      Harapannya, seiring membaiknya teknologi pemindaian, kita dapat memahami secara akruat bagaimana Lucy dan leluhur manusia awal lainnya, untuk melengkapi gambaran tentang bagaimana manusia berevolusi hingga menjadi kita seperti yang sekarang ini. 

      (Lutfi Fauziah. Sumber: Josh Hrala/Science Alert)
      Baca Lengkap
            edit