Showing posts with label Model Pembelajaran. Show all posts
Showing posts with label Model Pembelajaran. Show all posts

Wednesday, January 25, 2017

Published 8:33 PM by with 0 comment

Berpikir Kritis dalam Pembelajaran IPS di Era Global




Latar Belakang


Perubahan yang sangat cepat yang dialami masyarakat seiring dengan berkembangnya jaman yang dibarengi bertambahnya tingkat pemahaman dan juga pengetahuan manusia di bidang Sains dan Teknologi telah membawa banyak dampak bagi kehidupan manusia secara umum baik positif maupun negatif. Untuk mengiringi kemajuan yang berjalan sangat cepat samapai saat ini kita masih menggantungkan harapan pada pendidikan untuk tetap mengawal dan menjaga kehidupan sosial masyarakat yang terus berubah. Namun dunia pendidikan kita yang masih belum bisa mengejar cepatnya arus perubahan itu perlu disesuaikan dan jga dijaga sehingga tetap mampu menjawab tantangan dari perubahan dan kemajuan yang terus terjadi.
Dalam bidang pendidikan, Pendidikan Ilmu Sosial juga tidak lepas dari tantangan yang sangat keras yang berupa tuntutan akan adanya perbaikan kualitas pendidikan dan juga tenaga kependidikan. Melihat kondisi yang dihadapi dan memang harus dilewati tersebut maka sudah sepantasnya Pendidikan Ilmu Sosial mulai membenahi diri baik dari bergeser dari tatanan epistomologi kea rah pengembangan inovasi dan juga solusi bagi perkembangan pendidikan IPS ke depannya.  Dimana hal ini sangatlah sesuia dengan tujuam utama pendidikan IPS yaitu mempersiapkan warga negara yang dapt membuat keputusan reflektif dan berpartisipasi dengan sukses dalam kehidupan kewarganegaraandi lingkungan masyarakat, bangsa, dan negara.
Bertitik tolak pada permasalahan tersebut maka kami merasa perlu guna mengekstraksi beberapa inti dari pendidikan IPS khususnya mengenai perubahan pola berpikir yang awalnya masih berlandaskan kepada teori menuju ke arah pola berpikir kritis dan juga kreatif sehingga selain mampu menghasilkan inovasi dan juga pembaharauan hal ini juga akan membawa dampak yang sangat positif bagi peserta didik yang masih dalam tahap perkembangan. Untuk itu kami mencoba memaparkan bagaimana berpikir kritis dalam pembelajaran IPS sehingga tidak hanya membebani siswa akan maeri namun juga kita juga bisa mengasah pemikiran peserta didik guna terbiasa melatih pikirannya.
Hakekat Berpikir Kritis
Zaman ini berkembang demikian cepat, bahkan jauh lebih cepat dari perkiraan para ahli. Prediksi para ahli perancang masa depan sering meleset, karena dimensi permasalahan yang dihadapi manusia saat ini demikian kompeks.  Satu peristiwa sering bertautan dengan peristiwa lainnya, sehingga  tidak ada peristiwa yang berupa a single event. Untuk menyelesaikannya diperlukan berbagai pendekatan. Sebut saja, misalnya, peristiwa keagamaan hampir selalu terkait dengan masalah politik, sosial, budaya, dan bahkan ekonomi.
Karena pesatnya perkembangan, ada sebagian orang yang sanggup mengikutinya, ada sebagian lain yang gagal. Bagi yang sanggup, perkembangan pesat dianggap sebagai peluang yang bisa dimanfaatkan untuk memacu diri. Umumnya kelompok ini adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan hidup yang memadai. Bagi yang tidak sanggup, zaman ini dianggap sebagai petaka, karena tidak memberikan peluang kepadanya, bahkan menyingkirkannya. Umumnya, kelompok ini diisi orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang cukup.
Selain itu, zaman ini pula disebut sebagai zaman kompetisi atau persaingan. Implikasinya orang lain dianggap sebagai kompetitor dalam meraih cita-cita. Teman akrab ada kalanya bisa menjadi pesaing beratnya. Karena masing-masing saling berkompetisi, wajar jika kemudian ada pihak yang menang dan ada pula yang kalah.
Dalam keadaan demikian, menjadi orang pintar saja belum cukup. Agar mampu menghadapi persaingan ke depan, dibutuhkan orang yang mampu berpikir kritis. Banyak orang mengatakan bahwa salah satu ciri orang pintar adalah mampu berpikir kritis. Pengertian berpikir kritis ialah berpikir dengan konsep yang matang dan mempertanyakan segala sesuatu yang dianggap tidak tepat dengan cara yang baik. Bertanya dengan baik akan memperoleh jawaban yang baik, setidaknya respons yang baik. Dia tidak bersikap apatis terhadap sesuatu yang tidak beres. Karena seringnya bertanya atas hal-hal yang tidak normal, bagi sebagian orang kritis disebut sebagai orang rewel (bahasa Jawa). Sikap kritis tidak sama dengan rewel. Jika sikap kritis menanyakan hal-hal yang tidak normal dan bermaksud memperbaikinya, maka rewel adalah asal bertanya dan ada unsur ‘mengganggu’.
Persoalannya, apakah berpikir kritis dapat dilatih? Menurut para ahli, melatih berpikir kritis dapat dilakukan dengan cara mempertanyakan apa yang dilihat dan didengar. Setelah itu, dilanjutkan dengan bertanya mengapa dan bagaimana tentang hal tersebut. Intinya, jangan langsung menerima mentah-mentah informasi yang masuk. Dari mana pun datangnya, informasi yang diperoleh harus dicerna dengan baik dan cermat sebelum akhirnya disimpulkan. Karena itu,  berlatih berpikir kritis artinya juga berperilaku hati-hati dan tidak grusa-grusu dalam menyikapi permasalahan
Berikut ini pemaparan bagaimana kita dapat memahami dan juga mengetahui berpikir kritis secara lengkap. Karena semua pusat ada di pikiran yang ada di otak kita maka pembahasannya akan dimulai dari pikiran manusia. Dalam berpikir terdapat tiga jenis informasi yang disimpan atau diingat dalam otak kita Ketiga jenis informasi itu antara lain  adalah :
a  Isi (content) yaitu apa yang dipikirkan tentang berbagai simbol, angka, kata, kalimat, fakta, aturan, metode, dan sebagainya. Pemahaman akan hal ini akan dapat merangsang dan juga menumbuhkan kecerdasan yang biasa disebut kecerdasan isi.
b  Perasaan (feelings) tentang isi;
Pemahaman akan hal ini akan dapat merangsang dan juga menumbuhkan kecerdasan yang biasa disebut kecerdasan emosional
c  Pertanyaan (questions) yang digunakan untuk memproses atau untuk mempergunakan isi.
Pemahaman akan hal ini akan dapat merangsang dan juga menumbuhkan kecerdasan yang biasa disebut kecerdasan proses
Oleh karena itu seorang anak dapat memiliki tiga kecerdasan, yaitu kecerdasan isi, kecerdasan emosional, dan kecerdasan memproses. Namun dalam hal melatih kecerdasan proses kita juga harus mulai melatih keterampilan berpikir yang dapat meningkatkan kecerdasan memproses seperti keterampilan berpikir kritis, keterampilan berpikir kreatif, keterampilan mengorganisir otak, dan keterampilan analisis.
Jadi dapat kita ketahui bahwa salah satu yang turut mengembangkan keterampilan proses tersebut adalah dengan kita berpikir kritis. Berikut ini beberapa indikator kemampuan berpikir kritis dapat diturunkan dari aktivitas kritis siswa yang dikutip dari (wahyu, 2010) seperti sebagai berikut

  1. Mencari pernyataan yang jelas dari setiap pertanyaan.
  2. Mencari alasan.
  3. Berusaha mengetahui informasi dengan baik.
  4. Memakai sumber yang memiliki kredibilitas dan menyebutkannya.
  5. Memperhatikan situasi dan kondisi secara keseluruhan.
  6. Berusaha tetap relevan dengan ide utama
  7. Mengingat kepentingan yang asli dan mendasar.
  8. Mencari alternatif.
  9. Bersikap dan berpikir terbuka.
  10. Mengambil posisi ketika ada bukti yang cukup untuk melakukan sesuatu.
  11. Mencari penjelasan sebanyak mungkin apabila memungkinkan.
  12. Bersikap secara sistimatis dan teratur dengan bagian-bagian dari keseluruhan masalah
Setiap indikator dalam berpikir kritis dapat dikelompokkan menjadi beberapa pokok-pokok permasalahan. Pokok Permsalahan tersebeut antara lain adalah:
–          Merumuskan permasalahan
Indikator kemampuan berpikir kritis yang diturunkan dari aktivitas kritis no. a adalah mampu merumuskan pokok-pokok permasalahan.
–          Menangkap fakta
Indikator yang diturunkan dari aktivitas kritis no. c, d, dan g adalah mampu mengungkap fakta yang dibutuhkan dalam menyelesaikan suatu masalah.
–          Memilih argument
Indikator yang diturunkan dari aktivitas kritis no. b, f, dan l adalah mampu memilih argumen logis, relevan dan akurat.
–          Mendeteksi bias
Indikator yang diturunkan dari aktivitas kritis no. h dan j, dan k adalah mampu mendeteksi bias berdasarkan pada sudut pandang yang berbeda.
–          Menentukan akibat
Indikator yang diturunkan dari aktivitas kritis no. e dan i adalah mampu menentukan akibat dari suatu pernyataan yang diambil sebagai suatu keputusan.
Berdasarkan hal tersebut dapat kita ketahui kita dapat mulai belajar melatih cara berpikir kritis kita dengan membiasakan diri selalu memperbaiki diri karena merasa masih memiliki banyak kekurangan, disiplin, dan konsentrasi ketika mengerjakan sesuatu pekerjaan merupakan tanda seseorang memiliki pikiran kritis. Dan, inilah pintu menuju kesuksesan. Sebaliknya, jika seseorang telah merasa sudah pintar dan akhirnya malas belajar sehingga tidak mau memperbaiki diri, saat itu pula dia akan tertinggal jauh dari orang lain dan tertelan oleh perubahan zaman.
Ada pandangan lain untuk meningkatkan sikap kritis. Menurut penelitian para ahli neurolinguistik, cabang ilmu yang mengkaji bahasa dan fungsi saraf, otak manusia bisa dilatih fungsi-fungsinya, termasuk untuk melahirkan sikap kritis. Menurut mereka, otak manusia dibagi dua, yakni otak kiri yang memproduksi bahasa verbal, imitatif dan repetitif, dan otak kanan yang memperoduksi pikiran yang bersifat  imajinatif, komprehensif, dan kontemplatif. Muncul dugaan bahwa orang-orang agung para pembuat sejarah besar adalah orang yang memiliki otak kanan yang aktif.
Berpikir Kritis dan Kreatif dalam Pembelajaran IPS
Pembelajaran IPS di era global tidak hanya dituntut bisa memberikan pengetahuan kepada peserta didik baik dalam teori maupun praktik melainkan juga memperhatikan aspek berpikir dan juga pengembangan pola nalar dari peserta didik. Dengan pengembangan pola penalaran dan pemikiran ini maka secara otomatis kita akan dapat mengembangkan reflex berpikir. Pengembangan pada reflex ketrampilan berpikir serta penekanan pada reflex nilai sangat penting dilakukan oleh peserta didik dalam melakukan suatu pembelajaran.
Kemampuan berpikir yang dimiliki oleh manusia merupakan suatu potensi yang harus dapat dikembangkan. Karena suatu kemampuan yang dimilikinya atau power resources memiliki peranan yang sangat vital dalam dunia pendidikan. Konsepsi pendidikan berpikir tersebut nantinya digunakan dalam pengadministrasian pendidikan yang lahir sebagai respons yang nantinya dapat disumbangkan dalam berbagai dimensi. Kualitas berpikir yang tinggi, nantinya akan berpengaruh langsung terhadap kemampuan intelegensi seserorang itu sendiri. Konteks pendidikan berpikir ini akan dapat menggali kemampuan seseorang untuk menampakkan ide-ide brilian yang dimilikinya untuk nantinya dapat diaplikasikan ke permukaan.
Seperti yang kita ketahui tingkan intelegensi dari sesorang akan dapat dikembangkan secara optimal melalui proses yang dinamakan pendidikan. Hal ini senada dengan pernyataan Lester Frank Ward ( dalam Lasmawan,2011:245) yang merupakan seorang ahli sosiologi pendidikan di Amerika menyatakan bahwa, intelegensi dapat dikembangkan melalui pendidikan. Dia mejelaskan perlunya wajib belajar yang merupakan alat bagi pemerataan. Pendapat ini banyak menarik perhatian politisi dan pakar pendidikan di Amerika. Karena pada zaman tersebut sedang berkembang kuat teori “Darwinisme” dan pendapatnya ini sangat kondradiktif dengan teori yang ditawarkannya tersebut. Karena metode yang yang diterapkannya tersebut akan dapat  menyadarkan serta memantapkan prilaku siswa sebagai seorang individu dalam menyadari tentang keinginan dan aspirasi orang lain. Serta teori Darwinisme ini akan dapat melahirkan suatu sikap pluralisme dimana seseorang akan mau menghargai perbedaan nilai, kepribadian, serta budaya yang ada dalam diri orang lain, dan dapat memupuk rasa toleransi yang sangat tinggi antar sesama.
Selain itu jika kita menilik sedikit ke belakang, kurikulum  pendidikan IPS khususnya setelah perang dunia ke II, pola pengembangan kurikulum masih sangat  didominasi oleh pemberian materi masih sangat baku sehingga secara psikologis akan membebani siswa. Sehingga Logikanya pendidikan pada saat itu hanya mengkondisikan paham-paham yang sudah pernah berkembang, dan secara tidak langsung hal ini dapat mempengaruhi psikologis siswa. Tetapi pada pembelajaran tersebut kreatifitas si pembelajar tidak terbatas pada acuan kurikulum formal. Melainkan bisa juga hingga ke luar sekolah.
Untuk itu dalam memilih pendekatan dan model pembelajaran yang menuntut siswa agar lebih meningkatkan kreatifitasnya, seorang tenaga pendidik harus mampu mengenal tingkat psikologis dari siswanya tersebut agar siswa tidak tertekan dalam mengikuti suatu pembelajaran.
Selain itu kemandirian siswa adalah salah satu kunci dari keberhasilan bertahan dalam suatu tataran masyarakat global. Menyikapi hal itu, pembelajaran IPS disini juga sebenarnya menuntut siswa agar mampu meningkatkan kemandirian pada dirinya, walaupan kadangkal pembelajaran IPS selalu mengorientasikan manusia sebagai mahluk sosial. Menurut Stopsky dan Sharon Lee (1994) (dalam Lasmawan,2010) mengemukakan bahwa tingkat kemandirian pada siswa dapat dibelajarkan melalui sejarah. Sejarah dapat membantu siswa memahami masa lalu, masa kehidupan saat ini serta menyiapkan diri dalam menghadapi masa depan yang penuh dengan tantangan. Untuk itu mereka berpendapat bahwa pembelajarharus mampu mengkoordinasikan siswa untuk melakukan refleksi terhadap sejarah masyarakat yang merupakan kekayaan ilmu pengetahuan yang tak ternilai.
Pemanfaatan Teknologi, Komunikasi, dan Juga Assessment di dalam Pembelajaran IPS
Perkembangan ilmu pengetahuan da teknologi mau tidak mau harus juga diterima pendidikan IPS sebagai salah satu ilmu yang bersentuhan langsung dengan kondisi dan aspek sosial masyarakat secara umum yang terus juga berkembanga mengikuti proses berkembangan ipteks. Untuk itu dalam pelasanaannya pendidikan IPS mau tidak mau harus ikut memanfaatkan perubahan tersebut dalam pola pengembangannya. Berikut ini beberapa contoh pemanfaatan hasil kemajuan umat manusia terhadap pembelajaran IPS ini:
  • Pemanfaatan Teknologi dalam Pembelajaran IPS
Penemuan teknologi sangat membantu dalam bidang pendidikan IPS. Kemajuan teknologi sangat berkontribusi besar dalam konteks pembelajaran IPS. Karena antara guru dan siswa akan dapat mengakses bahan pembelajaran yang baru untuk kemajuan dalam pembelajaran IPS. Forbes (1984) (dalam Lasmawan,2010) mengaitkan kemajuan teknologi dengan pendidikan berpikir dalam dimensi persekolahan. Selain itu Forbes (1984) (dalam Lasmawan,2010)  juga mengemukakan tiga teori dalam berpikir, yaitu (1) content thinking skills, (2) reasoning skills, (3) learning to learn skills. Tiga teori berpikir ini akan dapat meningkatkan pola berpikir guru dan siswa dalam peningkatan kualitas dan profesionalisme, dalam era globalisasi seperti sekarang ini.
Agar tidak terjadi penyimpangan terhadap penggunaan teknologi yang dapat menimbulkan pergeseran terhadap nilai cultural masyarakat, kondisi cultural masyarakat sangat mutlak diperhatikan. Untuk itu kita sebagai pembelajar maupun pengajar, harus mampu memilih dan memilah mana informasi yang baik dan mana informasi yang tidak baik. Untuk itu peran ekstra dari seorang guru sangat diperlukan, karena jika hanya mengandalkan kemampuan politisi dan praktisi pendidikan belum tentu akan menimbulkan efek yang baik saja. Seorang guru tidak hanya berperan sebagai transfer ilmu kepada murid-muridnya, akan tetapi seorang guru harus mampu mentranspormasi ilmu-ilmu kepada para muridnya. Andai kata hal tersebut dapat terwujud maka seorang siswa akan dapat memberikan kontribusi yang baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Barry K. Beyer (1971) (dalam Lasmawan,2010) menyatakan bahwa pemberian kesempatan yang leluasa kepada pembelajar untuk menjelajahi alam sekitar dan diluarnya dapat menumbuhkan sikap dan ketrampilan inkuiri dikalangan pebelajar itu sendiri. Metode inkuiri ini adalah metode yang menekankan pada penganalisisan tentang realita-realita sosial yang sedang hangat dibicarakan dimasyarakat. Sehinggga pada konteks pembelajaran ini siswa dituntut untuk lebih berpikir kritis. Dan disinilah akan sangat kelihatan tidak ada kegiatan belajar tanpa berpikir.
Metode inkuiri yang berbasis metode ilmiah ini memiliki peran yang signifikan terhadap metode-metode lainnya, seperti (1) metode proses hasil dari pembelajarannya, (2) metode konstruktivis, (3) metode cooperative, (4) metode jurisprudensi sosial, dan (5) metode problem solving.
Berkaitan dengan metode diatas, yang digunakan dalam pembelajaran IPS. Joice and Weil (1986) (dalam Lasmawan,2010), juga mengemukakan 4 kelompok model pembelajaran. (1) kelompok pengelolaan informasi, (2) kelompok personal, (3) kelompok sosial, (4) kelompok sistem perilaku. Keempat metode ini sangat berperan besar dalam pembelajaran IPS yang tentunya dapat digunakan dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang sedang terjadi seperti, isu-isu global, kesejahtraan, permasalahan lingkungan, HAM, serta masalah-masalah sosial lainnya.
Jadi dalam pembelajaran IPS yang berperan aktif tidak hanya seorang guru saja, tetapi bagaimana cara menuntut keaktifan dari seorang siswa dengan mengunakan kecanggihan teknologi yang sudah ada, serta bagaimana cara  pemanfaatan teknologi tersebut dengan baik. Khususnya ditengah-tengah arus globalisasi yang bergerak cepat seperti saat ini.
  • Komunikasi dalam Pembelajaran IPS
Buku teks dalam pembelajaran IPS sangatlah penting. Dalam pembelajaran IPS media komunikasi sangat penting keberadaannya untuk menunjang proses dalam belajar. Karena dalam belajar IPS, tidak cukup hanya mempelajari tentang teori-teorinya saja, tetapi kita harus tau bagaimana kondisi kehidupan sosial atau realita kehidupan sosial yang sedang berkembang di masyarakat. Karena tujuan kita mempelajari teori dalam IPS adalah agar dapat di implementasikan dalam kehidupan kita dimasyarakat.
Media komunikasi seperti Televisi,  Radio, Surat Kabar serta media-media lainnya dapat kita manfaatkan demi kelancaran pembelajaran. Karena dengan penggunaan media tersebut kita akan mampu mengetahui tentang kasus-kasus yang sedang berkembang serta hangat dibicarakan yang nantinya akan dapat kita bahas dalam pembelajaran serta sebagai generasi muda tentunya kita akan dapat memberikan suatu solusi yang membangun terhadap penyelesaian kasus tersebut.
  • Penggunaan Asesmen dalam Pembelajaran IPS
           Proses belajar mengajar adalah salah satu hal yang yang instruksional dan terencana. Interaksi aktif ini membutuhkan piranti pendukung yang memada untuk mengaktualisasi tujuan yang telah ditetapkan. Kesuksesan dalam proses belajar mengajar harus selalu disertai dengan piranti pembelajaran yang memadai serta metode belajar yang efektif dan menyenangkan.
Seorang siswa yang datang ke sekolah untuk belajar, sering dikatakan siswa tersebut membawa misi yang sangat berat, yaitu mencapai kesuksesan dalam belajar. Karena permintaan dari orang tua, media massa, serta pembuat kebijakan, kesuksesan belajar siswa dapat diukur dengan angka-angka. Hal ini tentu sangat membuat siswa tertekan. Karena nilai dalam pembelajaran yang menunjukkan angka yang kecil tentunya juga menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan belajar siswa itu kecil. Sehingga disini akan dapat mempengaruhi kondisi psikologis dari siswa itu sendiri. Jadi yang harus kelihatan disini adalah bagaimana peran dari seorang guru, seorang guru harus lebih melihat aspek kognitif dari siswanya dengan mengesampingkan aspek yang lain yaitu aspek afeksi dan psikomotorik.
Memasuki abad ke 21, pembelajaran kini dapat dilakukan dengan menggunakan asesmen. Jenis asasmen yang dapat digunakan adalah (1) portofolio, (2) anekdot record, (3) catatan harian siswa, (4) lembar observasi, (5) buku laporan siswa, (6) skala sikap yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan si pembelajar.
Melalui asesmen ini guru akan dapat mengetahui potensi-potensi apa saja yang ada pada diri siswanya. Bukan semata-mata dilihat dari nilainya tes tiap semester saja, tetapi dilihat bagaimana siswa tersebut melakukan proses pembelajaran. Penggunaan asesmen ini nantinya akan memberikan suatu keuntungan bagi siswa. Diantaranya yaitu, (1) mengurangi rasa cemas, (2) lebih bersifat humanistis, (3) dapat menilai diri secara komprehensif, dan (4) meningkatkan partisipasi belajar selama pembelajaran berlangsung. Tetapi penggunaan asesmen ini hanya dapat digunakan dalam jenjang pendidikan tingkat Sekolah Dasar dan Tingkat Sekolah Menengah.
Simpulan
Adapun simpulan yang dapat kami ambil dari penyusunan dari makalah ini yaitu :
  1. Berpikir kritis ialah berpikir dengan konsep yang matang dan mempertanyakan segala sesuatu yang dianggap tidak tepat dengan cara yang baik. Bertanya dengan baik akan memperoleh jawaban yang baik, setidaknya respons yang baik. Dia tidak bersikap apatis terhadap sesuatu yang tidak beres. Karena seringnya bertanya atas hal-hal yang tidak normal, bagi sebagian orang kritis disebut sebagai orang rewel Sikap kritis tidak sama dengan rewel. Jika sikap kritis menanyakan hal-hal yang tidak normal dan bermaksud memperbaikinya, maka rewel adalah asal bertanya dan ada unsur ‘mengganggu’.
  2. Pembelajaran IPS di era global tidak hanya dituntut bisa memberikan pengetahuan kepada peserta didik baik dalam teori maupun praktik melainkan juga memperhatikan aspek berpikir dan juga pengembangan pola nalar dari peserta didik. Dengan pengembangan pola penalaran dan pemikiran ini maka secara otomatis kita akan dapat mengembangkan reflex berpikir. Pengembangan pada reflex ketrampilan berpikir serta penekanan pada reflex nilai sangat penting dilakukan oleh peserta didik dalam melakukan suatu pembelajaran.
  3. Perkembangan ilmu pengetahuan da teknologi mau tidak mau harus juga diterima pendidikan IPS sebagai salah satu ilmu yang bersentuhan langsung dengan kondisi dan aspek sosial masyarakat secara umum yang terus juga berkembanga mengikuti proses berkembangan ipteks. Untuk itu dalam pelasanaannya pendidikan IPS mau tidak mau harus ikut memanfaatkan perubahan tersebut dalam pola pengembangannya. Bentuk pemanfaatannya anatara lain adalah dengan memanfaatkan teknologi, komunikasi dan juga assesmen dalama pemebelajaran IPS di era global.
Sumber: https://wirasaputra.wordpress.com/
Baca Lengkap
      edit
Published 6:36 PM by with 0 comment

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang didasarkan pada alasan bahwa manusia sebagai makhluk individu yang berbeda satu sama lain sehingga konsekuensi logisnya manusia harus menjadi makhluk sosial, makhluk yang berinteraksi dengan sesama (Nurhadi 2003: 60)

Abdurrahman dan Bintoro (2000) dalam Nurhadi 2003 : 61 menyatakan Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Adapun berbagai elemen dalam pembelajaran kooperatif adalah adanya (1) saling ketergantungan positif, (2) interaksi tatap muka, (3) akuntabilitas individual, dan (4) keterampilan untuk menjalin hubungan antara pribadi atau keterampilan sosial yang secara sengaja diajarkan.

Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap coopartive learning. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaran gotong royong harus diterapkan : 
  1. Saling ketergantungan positif
  2. Tanggungjawab perseorangan 
  3. Tatap Muka
  4. Komunikasi antar anggota
  5. Evaluasi proses kelompok (Anita Lie, 1999 : 30)


Model pembelajaran kooperatif sangat berbeda dengan pengajaran langsung. Di samping model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik, model pembelajaran kooperatif juga efektif untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa (Usman, 2002 : 30).

Jadi pola belajar kelompok dengan cara kerjasama antar siswa dapat mendorong timbulnya gagasan yang lebih bermutu dan meningkatkan kreativitas siswa, pembelajaran juga dapat mempertahankan nilai sosial bangsa Indonesia yang perlu dipertahankan. Ketergantungan timbal balik mereka memotivasi mereka untuk dapat bekerja lebih keras untuk keberhasilan mereka, hubungan kooperatif juga mendorong siswa untuk menghargai gagasan temannya bukan sebaliknya. 

Macam-macam MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF, antara lain:

MODEL JIGSAW
  • Siswa dibagi dalam beberapa kelompok, setiap kelompok beranggotakan 3-5 peserta didik
  • Setiap kelompok diberi tugas sejumlah anggota kelompok (tiap peserta didik dalam kelompok mendapat tugas yang berbeda)
  • Tiap peserta didik dalam kelompok membaca bagian tugas yang diperoleh
  • Guru meminta peserta didik yang mendapat tugas yang sama untuk berkumpul membentuk kelompok baru (kelompok ahli) mendiskusikan tugas yang sama
  • Setiap peserta didik hendaknya memahami dan mencatat hasil diskusinya untuk dilaporkan dalam kelompok asal
  • Setelah selesai sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian menyampaikan hasil diskusinya kepada teman lain dalam kelompoknya tentang tugas yang mereka kuasai secara bergilir
  • Setelah seluruh peserta didik selesai melaporkan, guru menunjuk salah satu kelompok untuk menyampaikan hasilnya, kelompok lain menanggapi dan guru mengklarifikasi jawaban yang kurang sempurna
  • Simpulan bersama guru dan peserta didik
Model Think Pair and Share


  • Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai
  • Siswa diminta untuk berfikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan oleh guru
  • Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya dan mengutarakan hasil pemikirannya masing-masing
  • Guru memimpin pleno kecil diskusi, dan setiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
  • Berawal dari kegiatan tersebut mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diungkapkan para peserta didik
  • Penutup dan simpulan
MODEL DECISION MAKING
  • Guru menginformasikan tujuan dan perumusan masalah
  • Secara klasikal tayangkan gambar, wacana atau kasus permasalahan yang sesuai dengan materi pelajaran atau kompetensi yang diharapkan
  • Buatlah pertanyaan agar peserta didik dapat merumuskan permasalahan sesuai dengan gambar, wacana atau kasus yang disajikan
  • Secara kelompok peserta didik diminta mengidentifikasikan permasalahan dan membuat alternatif pemecahannya
  • Secara kelompok/individu peserta didik diminta mengidentifikasi permasalahan yang terdapat di lingkungan sekitar peserta didik yang sesuai dengan materi yang dibahas dan cara pemecahannya
  • Secara kelompok/ individu peserta didik diminta mengemukakan alsan mereka memilih alternatif tersebut
  • Secara kelompok/individu peserta didik diminta mencari penyebab terjadinya masalah tersebut
  • Secara kelompok/individu peserta didik diminta mengemukakan tindakan untuk mencegah terjadinya masalah tersebut
MODEL GROUP INVESTIGATION
  • Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen
  • Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok
  • Guru memanggil ketua-ketua kelompok untuk membahas satu materi yang berbeda setiap kelompoknya
  • Masing-masing kelompok membahas materi yang sudah ada secara kooperatif berisi penemuan
  • Setelah selesai diskusi, ketua kelompok sebagai juru bicara menyampaikan hasil pembahasan kelompoknya
  • Guru memberikan penjelasan singkat sekaligus memberi simpulan
  • Evaluasi/penutup
MODEL DABATE
  • Guru membagi dua kelompok peserta debat, yang terdiri satu pro dan yang lainnya kontra
  • Guru memberikan tugas untuk membaca materi yang akan didebatkan oleh kedua kelompok
  • Setelah selesai membaca materi. Guru menunjuk salah satu anggota kelompok pro untuk berbicara saat itu, selanjutnya ditanggapi atau dibalas oleh kelompok kontra demikian seterusnya sampai sebagian besar peserta didik bisa mengemukakan pendapatnya
  • Sementara peserta didik menyampaikan gagasannya guru menulis inti/ide-ide dari setiap pembicaraan di papan tulis, sampai sejumlah ide yang diharapkan guru terpenuhi
  • Guru menambah konsep/ide yang belum terungkap
  • Dari data-data di papan tersebut, guru mengajak peserta didik membuat simpulan/rangkuman yang mengacu pada tujuan yang ingin dicapai

MODEL MIND MAPPING
  • Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
  • Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh peserta didik. Sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban
  • Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang
  • Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi
  • Setiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membacakan hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru
  • Dari data-data di papan peserta didik diminta membuat kesimpulan atau guru memberi bandingan sesuai konsep yang disediakan guru

MODEL EXAMPLES NON EXAMPLES
  • Guru mempersiapkan gambar-gambar/wacana sesuai dengan tujuan pembelajaran
  • Guru menempelkan gambar/wacana di papan atau ditayangkan lewat LCD
  • Guru memberikan petunjuk dan memberi kesempatan pada peserta didik untuk memperhatikan gambar/wacana
  • Melalui diskusi kelompok, peserta didik diminta untuk menganalisis dan mendeskripsikan/menginterpretasikan tugas tersebut
  • Hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas, dan setiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusi
  • Mulai dari komentar/hasil diskusi peserta didik, guru mulai menjelaskan materi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
  • Simpulan/penutup

MODEL MENCARI PASANGAN (MAKE-A MATCH)
  • Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban
  • Setiap peserta didik mendapat satu buah kartu
  • Tiap peserta didik memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang
  • Setiap peserta didik mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban)
  • Setiap peserta didik yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin
  • Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap peserta didik mendapat kartu yang berbeda dari peserta didik yang lain
  • Demikian seterusnya
  • Simpulan
  • Penutup

MODEL ARTIKUSASI
  • Menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
  • Guru menyajikan materi pembelajaran.
  • Untuk mengetahui daya serap peserta didik, bentuklah kelompok berpasangan dua orang.
  • Suruhlah seorang dari pesangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya.
  • Suruh peserta didik secara bergiliran/diacak menyampai-kan hasil dialog dengan teman pasangannya
  • Guru mengulangi/ menjelaskan kembali materi yang belum dipahami peserta didik
  • Simpulan/penutup

MODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH
  • Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan sarana yang dibutuhkan, memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih
  • Guru membantu peserta didik merumuskan dan mengorganisasikan tugas yang berhubungan dengan masalah yang dipilih (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll)
  • Guru memantau peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang diperlukan, melaksanakan eksperimen atau penelitian untuk mendapat data yang akurat, pengumpulan data, analisa data untuk menguji hipotesa, atau mendeskripsikan temuan yang diperoleh (refleksi, atau evaluasi) terhadap penelitian yang mereka rencanakan
  • Guru membantu peserta didik dalam menyusun laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya

MODEL PICTURE AND PICTURE
  • Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
  • Menyajikan materi sebagai pengantar
  • Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan dengan materi yang disajikan
  • Guru menunjuk/memanggil peserta didik secara bergantian untuk memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
  • Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
  • Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
  • Simpulan/rangkuman

MODEL BERTUKAR PASANGAN
  • Setiap peserta didik mendapat satu pasangan (guru biasanya menunjukkan pasangannya atau peserta didik menunjuk pasangan)
  • Guru memberikan tugas dan peserta didik mengerjakan tugas dengan pasangannya
  • Setelah selesai, setiap pasangan bergabung dengan satu pasangan yang lain
  • Kedua pasangan tersebut bertukar pasangan masing-masing, pasangan yang baru ini saling menanyakan dan mengukuhkan jawaban mereka
  • Temuan baru yang didapat dari pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan semula

MODEL CONSEPT SENTENSE
  • Guru menyampaikan tujuan
  • Guru menyajikan materi secukupnya
  • Guru membentuk kelompok yang anggotanya 4-5 orang secara heterogen
  • Menyajikan beberapa kata ‘KUNCI’ sesuai materi yang disajikan
  • Setiap kelompok disuruh membuat beberapa kalimat dengan menggunakan minimal 4 kata kunci setiap kalimatnya
  • Hasil diskusi kelompok, didiskusikan lagi secara pleno yang dipandu guru
  • Simpulan/penutup

MODEL COOPERATIF SCRIPT
  • Guru membagi peserta didik untuk berpasangan
  • Guru membagi wacana/materi kepada setiap pasangan untuk dibaca dan membuat ringkasan
  • Guru dan peserta didik menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar
  • Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sedangkan pendengar:
  • Menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap
  • Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya
  • Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Serta lakukan seperti di atas.
  • Simpulan dari guru
  • Penutup

Model Snowball Throwing
  • Guru menyampaikan materi yang akan disajikan
  • Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi
  • Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya
  • Kemudia masing-masing peserta didik diberikan satu lembar kerja, untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok
  • Kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu peserta didik ke peserta didik yang lain selama + 5 menit
  • Setelah peserta didik dapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian
  • Guru memberikan kesimpulan
  • Evaluasi 
  • Penutup

MODEL KOOPERATIF TERPADU MEMBACA DAN MENULIS 
  • Membentuk kelompok yang anggotanya 4-5 orang yang secara heterogen
  • Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran
  • Siswa bekerjasama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberikan tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada selembar kertas
  • Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok
  • Guru membuat kesimpulan bersama
  • Penutup

MODEL COURSE REVIEW HORAY
  • Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
  • Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi
  • Memberikan kesempatan peserta didik tanya jawab
  • Untuk menguji pemahaman, peserta didik disuruh membuat kotak 9/16/25 sesuai dengan kebutuhan dan tiap kotak diisi angka sesuai dengan selera masing-masing peserta didik
  • Guru membaca soal secara acak dan peserta didik menulis jawaban di dalam kotak yang nomornya disebutkan guru dan langsung didiskusikan, kalau benar diisi tanda benar (V) dan jika salah diisi dengan tanda silang (X)
  • Siswa yang sudah mendapat tanda (V) harus segera berteriak horay atau yel-yel laninnya
  • Nilai peserta didik dihitung dari jawaban benar dan jumlah horay yang diperoleh
  • Penutup

MODEL GROUP TO GROUP EXCHANGE
  • Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen, diusahakan tugas masing-masing kelompok berbeda
  • Berikan cukup waktu untuk berdiskusi dan mempersiapkan bagaimana mereka dapat menyajikan topik yang telah mereka kerjakan
  • Bila diskusi telah selesai, mintalah kelompok memilih juru bicaranya. Undanglah setiap juru bicara menyampaikan kepada kelompok lain
  • Setelah presentasi singkat, doronglah peserta didik bertanya pada presenter atau tawaran pandangan  mereka sendiri. Biarkan anggota juru bicara kelompok menanggapi
  • Lanjutkan sisa presentasi agar setiap kelompok memberikan informasi dan merespon pertanyaan juga komentar peserta. Bandingkan dan bedakan pandangan serta informasi yang saling ditukarkan.

MODEL TALKING STIK
  • Guru menyiapkan sebuah tongkat
  • Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membaca dan mempelajari materi pada buku pegangannya atau buku paketnya
  • Setelah selesai membaca buku dan mempelajarinya, lalu menyuruh peserta didik untuk menutup bukunya
  • Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada peserta didik, kemudian peserta didik menyerahkan tongkat tersebut secara bergantian ke temannya sambil menyangikan sebuah lagu (usahakan lagunya yang relevan dengan pokok bahasan yang dipelajari saat itu) setelah itu guru memberikan pertanyaan dan peserta didik yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya. Demikian seterusnya sampai sebagian besar peserta didik mendapat bagian untuk menjawab pertanyaan dari guru
  • Guru memberikan kesimpulan
  • Evaluasi
  • Simpulan

MODEL ARISAN
  • Bentuk kelompok + 4 orang setiap kelompok secara heterogen
  • Kertas jawaban dibagikan pada peserta didik, masing-masing 1 kartu soal digulung dan dimasukkan ke dalam wadah/tempat
  • Wadah yang telah berisi gulungan soal dikocok, kemudian salah satu dikeluarkan/diambil. Selanjutnya dibacakan agar dijawab oleh peserta didik yang memegang kartu jawaban
  • Apabila jawaban benar maka peserta didik dipersilakan tepuk tangan atau yel-yel lainnya
  • Setiap jawaban yang benar diberi poin 1 sebagai nilai kelompok sehingga nilai total kelompok merupakan penjumlahan poin dari para anggotanya
  • Dan seterusnya.

MODEL LINGKARAN KECIL-LINGKARAN BESAR
  • Separuh kelas berdiri membentuk lingkaran kecil dan menghadap keluar
  • Separuh kelas lainnya membentuk lingkaran di luar lingkaran pertama, menghadap ke dalam
  • Dua peserta didik yang berpasangan dari lingkaran kecil dan besar berbagi informasi. Pertukaran informasi ini bisa dilakukan oleh semua pasangan dalam waktu yang bersamaan.
  • Kemudian peserta didik berada di lingkungan kecil diam di tempat, sementara peserta didik yang berada di lingkaran besar bergeser satu atau dua langkah searah jarum jam, sehingga masing-masing peserta didik mendapat pasangan baru.
  • Sekarang giliran peserta didik berada di lingkungan besar yang membagi informasi. Demikian seterusnya.

MODEL KEPALA BERNOMOR (NUMBERED HEADS TOGETHER)
  • Siswa dibagi dalam kelompok, setiap peserta didik dalam setiap kelompok mendapat nomor kepala
  • Guru memberikan tugas, diupayakan setiap kelompok mendapat tugas yang berbeda, dan masing-masing kelompok mengerjakannya
  • Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar, tiap anggota kelompok mencatat hasil diskusi
  • Setiap anggota kelompok memiliki tanggungjawab dan kesempatan yang sama untuk melaporkan hasil diskusinya
  • Guru memanggil salah satu nomor peserta didik dalam kelompok tertentu untuk melaporkan hasil diskusinya
  • Tanggapan dari teman yang lain dalam kelompoknya, kemudian dapat disempurnakan dari kelompok lain
  • Selanjutnya guru menunjuk nomor yang lain di kelompok lain dengan tugas yang berbeda
  • Simpulan/klarifikasi guru

MODEL KEPALA BERNOMOR STRUKTUR
  • Siswa dibagi dalam kelompok, dan setiap peserta didik mendapat nomor kepala
  • Penugasan diberikan kepada setiap peserta didik berdasarkan nomornya terhadap tugas yang berangkai. Misalnya: Siswa nomor satu bertugas mencatat soal. Siswa nomor dua mengerjakan soal dan peserta didik nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya.
  • Jika perlu, guru bisa menyuruh kerjasama antar kelompok. Siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa peserta didik bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini peserta didik dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerjasama mereka
  • Laporan hasil kelompok dan tanggapan dari kelompok yang lain
  • Simpulan

MODEL ROLE PLAYING
  • Guru menyiapkan/menyusun skenario yang akan ditampilkan
  • Menunjuk beberapa peserta didik untuk mempelajari skenario sebelum berlangsungnya pembelajaran
  • Guru membentuk kelompok peserta didik yang anggotanya 5 orang
  • Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai dalam pembelajaran
  • Memanggil para peserta didik yang sudah ditunjuk untuk melakukan skenario yang sudah dipersiapkan
  • Masing-masing peserta didik duduk dikelompoknya masing-masing sambil memperhatikan/mengamati skenario yang sedang diperagakan
  • Setelah selesai dipentaskan, masing-masing peserta didik diberikan kertas sebagai lembar kerja untuk membahas
  • Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya
  • Guru memberikan simpulan secara umum
  • Evaluasi
  • Penutup

MODEL SCRAMBLE
  • Media:
  • Buatlah pertanyaan yang sesuai dengan materi
  • Buat jawaban yang diacak hurufnya
  • Guru menyajikan materi yang sesuai dengan kompetensi
  • Membagikan lembar kerja sesuai dengan contoh

MODEL STUDENT FACILITATOR AND EXPLAINING
  • Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
  • Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi
  • Memberikan kesempatan peserta didik untuk menjelaskan kepada pesarta lainnya baik melalui bagan/peta konsep maupun yang lainnya
  • Guru menyimpulkan ide/pendapat dari peserta didik
  • Guru menerangkan semua materi yang disajikan saat itu
  • Penutup

MODEL TIM SISWA-KELOMPOK PRESTASI (STUDENT TEAMS-ACHIEVEMENT DIVISION)
  • Membentuk kelompok yang beranggotakan 3-5 orang secara heterogen
  • Guru menyajikan materi pelajaran
  • Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan anggota kelompok yang menguasai diminta menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti/memahami
  • Guru memberikan kuis/pertanyaan kepada seluruh peserta didik. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu
  • Guru memberi evaluasi
  • Simpulan

MODEL TAKE AND GIVE
  • Siapkan kelas sebagaimana mestinya
  • Jelaskan materi sesuai kompetensi + 45 menit
  • Untuk memantapkan penguasaan peserta didik, setiap peserta didik diberi masing-masing satu kartu untuk dipelajari (dihapal) lebih kurang 5 menit
  • Semua peserta didik disuruh berdiri dan mencari pasangan untuk saling menginformasikan materi sesuai kartu masing-masing, dan setiap peserta didik harus mencatat nama pasangannya pada kartu kontrol
  • Demikian seterusnya sampai setiap peserta dapat saling memberi dan menerima materi masing-masing
  • Untuk mengevaluasi keberhasilan, berikan peserta didik pertanyaan yang sesuai dengan kartunya (kartu orang lain)
  • Simpulan

MODEL TEBAK KATA
  • Jelaskan materi + 45 menit
  • Suruhlah peserta didik berdiri di depan kelas dan berpasangan
  • Seorang peserta didik diberi kartu yang berukuran 10 x 10 Cm yang nanti dibacakan pada pasangannya. Seorang peserta didik lainnya diberi kartu berukuran 5 x 2 Cm yang isinya tidak boleh dibaca (dilipat) kemudian ditempelkan di dahi atau diselipkan di telinga
  • Sementara peserta didik yang membawa kartu 10 x 10 Cm membacakan kata-kata yang tertulis didalamnya. Sementara pasangannya menebak apa yang dimaksud pada kartu 10 x 10 Cm. Jawab dengan tepat dan sesuai yang tertulis pada kartu yang ditempel di dahi
  • Apabila jawabannya tepat (sesuai yang tertulis pada kartu) maka pasangan ini boleh duduk. Bila belum tepat pada waktu yang telah ditetapkan boleh mengarahkan dengan kata-kata lain asal jangan langsung memberi jawabannya
  • Dan seterusnya sampai selesai
  • Penutup dan simpulan

Model Word Square
Media:
  • Buat kotak sesuai keperluan
  • Buat kotak sesuai dengan materi
  • Langkah-langkah:
  • Sampaikan materi sesuai kompetensi
  • Bagikan lembar kegiatan sesuai contoh
  • Siswa disuruh menjawab soal kemudian mengarsir huruf dalam kotak sesuai jawaban
  • Berikan poin setiap jawaban dalam kotak.

Baca Lengkap
      edit
Published 6:34 PM by with 0 comment

MODEL PEMBELAJARAN DAN MODEL PENGELOLAAN PEMBELAJARAN

A. MODEL PEMBELAJARAN
Pengertiian Pembelajaran
Pembelajaran merupakan suatu istilah yang memiliki keterkaitan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam proses pendidikan. Pembelajaran seharusnya merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan suasana atau memberikan pelayanan agar siswa belajar.

Untuk itu, harus dipahami bagaimana siswa memperoleh pengetahuan dari kegiatan belajarnya. Jika guru dapat memahami proses pemerolehan pengetahuan, maka guru akan dapat menentukan strategi pembelajaran yang tepat bagi siswanya. Menurut Sudjana (2000) dalam Sugihartono, dkk (2007: 80) pembelajaran merupakan setiap upaya yang dilakukan dengan sengaja oleh pendidik yang dapat menyebabkan peserta didik melakukan kegiatan belajar. Sedangkan Nasution (2005) dalam Sugihartono, dkk (2007: 80) mendefinisikan pembelajaran sebagai suatu aktifitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak didik sehingga terjadi proses belajar. Lingkungan dalam pengertian ini tidak hanya ruang belajar, tetapi juga meliputi guru, alat peraga, perpustakaan, laboratorium, dan sebagainya yang relevan dengan kegiatan belajar siswa.

Sedangkan menurut Dimyati dan Mudjiono dalam Syaiful Sagala (2006: 62) pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain intruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan 10 sumber belajar. Pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreatifitas berfikir yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran.

Pengertian  Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas (Arends dalam Trianto, 2010: 51). Sedangkan menurut Joyce & Weil (1971) dalam Mulyani Sumantri, dkk (1999: 42) model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu, dan memiliki fungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktifitas belajar mengajar. Berdasarkan dua pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dan berfungsi sebagi pedoman bagi perancang pembelajaran dan para guru dalam merancang dan melaksanakan proses belajar mengajar. 

Menurut Trianto (2010: 53) fungsi model pembelajaran adalah sebagai pedoman bagi perancang pengajar dan para guru dalam melaksanakan pembelajaran. Untuk memilih model ini sangat dipengaruhi oleh sifat dari materi yang akan diajarkan, dan juga dipengaruhi oleh tujuan yang akan dicapai dalam pengajaran tersebut serta tingkat kemampuan peserta didik. Di samping itu pula, setiap model pembelajaran juga mempunyai tahap-tahap (sintaks) yang dapat dilakukan siswa dengan bimbingan guru. Antara sintaks yang satu dengan sintaks yang lain juga mempunyai perbedaan. Perbedaan-perbedaan ini, diantaranya pembukaan dan penutupan pembelajaran yang berbeda antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu, guru perlu menguasai dan dapat menerapkan berbagai keterampilan mengajar, agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang beraneka ragam dan lingkungan belajar yang menjadi ciri sekolah pada dewasa ini. Menurut Kardi dan Nur dalam Trianto (2011: 142) istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada strategi, metode, atau prosedur. 

Model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi, metode, atau prosedur. Ciri-ciri khusus model pembelajaran adalah:
1. Rasional teoretis logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya. Model pembelajaran mempunyai teori berfikir yang masuk akal. Maksudnya para pencipta atau pengembang membuat teori dengan mempertimbangkan teorinya dengan kenyataan sebenarnya serta tidak secara fiktif dalam menciptakan dan mengembangankannya. 

2. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai). Model pembelajaran mempunyai tujuan yang jelas tentang apa yang akan dicapai, termasuk di dalamnya apa dan bagaimana siswa belajar dengan baik serta cara memecahkan suatu masalah pembelajaran. 

3. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil. Model pembelajaran mempunyai tingkah laku mengajar yang diperlukan sehingga apa yang menjadi cita-cita mengajar selama ini dapat berhasil dalam pelaksanaannya. 

4. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai. Model pembelajaran mempunyai lingkungan belajar yang kondusif serta nyaman, sehingga suasana belajar dapat menjadi salah satu aspek penunjang apa yang selama ini menjadi tujuan pembelajaran.

Pada Akhirnya setiap model pembelajaran memerlukan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang berbeda. Setiap pendekatan memberikan peran yang berbeda kepada siswa, pada ruang fisik, dan pada sistem sosial kelas. Sifat materi dari sistem syaraf banyak konsep dan informasi-informasi dari teks buku bacaan, materi ajar siswa, di samping itu banyak kegiatan pengamatan gambar-gambar. Tujuan yang akan dicapai meliputi aspek kognitif (produk dan proses) dari kegiatan pemahaman bacaan dan lembar kegiatan siswa (Trianto, 2010: 55).

Beberapa Model Pembelajaran
Berikut ini  contoh model Pembelajaran
1. Examples Non Examples
a)   Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran
b)   Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP
c)   Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada peserta didik untuk memperhatikan/menganalisa gambar
d)   Melalui diskusi kelompok 2-3 orang peserta didik, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas
e)   Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya
f)    Mulai dari komentar/hasil diskusi peserta didik, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai
g)   Kesimpulan

2. Picture And Picture
a)         Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
b)         Menyajikan materi sebagai pengantar
c)         Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi
d)         Guru menunjuk/memanggil peserta didik secara bergantian memasang/ mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
e)         Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
f)          Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
g)         Kesimpulan/rangkuman
3. Numbered Heads Together
a)       Peserta didik dibagi dalam kelompok, setiap peserta didik dalam setiap kelompok mendapat nomor
b)       Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya
c)        Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya
d)       Guru memanggil salah satu nomor peserta didik dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka
e)       Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain 
f)         Kesimpulan

4. Cooperative Script
a)      Guru membagi peserta didik untuk berpasangan
b)      Guru membagikan wacana/materi tiap peserta didik untuk dibaca dan membuat ringkasan
c)      Guru dan peserta didik menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar
d)      Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar :
e)      Menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap
f)       Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya
g)      Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Serta lakukan seperti diatas.
h)      Kesimpulan Peserta didik bersama-sama dengan Guru
i)        Penutup

5. Kepala Bernomor Struktur
a)      Peserta didik dibagi dalam kelompok, setiap peserta didik dalam setiap kelompok mendapat nomor
b)      Penugasan diberikan kepada setiap peserta didik berdasarkan nomor terhadap tugas yang berangkai. Misalnya : peserta didik nomor satu bertugas mencatat soal. Peserta didik nomor dua mengerjakan soal dan peserta didik nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya.
c)      Jika perlu, guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. Peserta didik disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa peserta didik bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini peserta didik dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka
d)      Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain
e)      Kesimpulan

6. Student Teams-Achievement Divisions
a)      Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll)
b)      Guru menyajikan pelajaran
c)      Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya yang sudah mengerti dapat menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
d)      Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh peserta didik. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu
e)      Memberi evaluasi
f)       Kesimpulan

7. Jigsaw
a)      Peserta didik dikelompokkan ke dalam = 4 anggota tim
b)      Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
c)      Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan
d)      Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka
e)      Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh- sungguh
f)       Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
g)      Guru memberi evaluasi
h)      Penutup

8. Problem Based Introduction
a)      Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai dan menyebutkan sarana atau alat pendukung yang dibutuhkan. Memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
b)      Guru membantu peserta didik mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
c)      Guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
d)      Guru membantu peserta didik dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya
e)      Guru membantu peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap eksperimen mereka dan proses-proses yang mereka gunakan

9. Artikulasi
a)       Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
b)       Guru menyajikan materi sebagaimana biasa
c)        Untuk mengetahui daya serap peserta didik, bentuklah kelompok berpasangan dua orang
d)       Menugaskan salah satu peserta didik dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya
e)       Menugaskan peserta didik secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. Sampai sebagian peserta didik sudah menyampaikan hasil wawancaranya
f)         Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami peserta didik
g)       Kesimpulan/penutup

10. Mind Mapping
a)         Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
b)         Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi olehcpeserta didik dan sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban 3. Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang
c)         Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasilcdiskusi
d)         Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru
e)         Dari data-data di papan peserta didik diminta membuat kesimpulan atau guru memberi perbandingan sesuai konsep yang disediakan guru

11. Make – A Match
a)         Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban
b)         Setiap peserta didik mendapat satu buah kartu
c)         Tiap peserta didik memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang
d)         Setiap peserta didik mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban)
e)         Setiap peserta didik yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin
f)          Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap peserta didik mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya
g)         Demikian seterusnya
h)         Kesimpulan/penutup

12. Thik Pair And Share
a)         Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai
b)         Peserta didik diminta untuk berfikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru
c)         Peserta didik diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing
d)         Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
e)         Berawal dari kegiatan tersebut, Guru mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diungkapkan para peserta didik
f)          Guru memberi kesimpulan
g)         Penutup

13. Debate
a)         Guru membagi 2 kelompok peserta debat yang satu pro dan yang lainnya kontra
b)         Guru memberikan tugas untuk membaca materi yang akan didebatkan oleh kedua kelompok diatas
c)         Setelah selesai membaca materi, Guru menunjuk salah satu anggota kelompok pro untuk berbicara saat itu, kemudian ditanggapi oleh kelompok kontra. Demikian seterusnya sampai sebagian besar peserta didik bisa mengemukakan pendapatnya.
d)         Sementara peserta didik menyampaikan gagasannya, guru menulis inti/ide-ide dari setiap pembicaraan sampai mendapatkan sejumlah ide diharapkan.
e)         Guru menambahkan konsep/ide yang belum terungkap
f)          Dari data-data yang diungkapkan tersebut, guru mengajak peserta didik membuat kesimpulan/rangkuman yang mengacu pada topik yang ingin dicapai.

14. Role Playing
a)         Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan
b)         Menunjuk beberapa peserta didik untuk mempelajari skenario dalam waktu beberapa hari sebelum KBM
c)         Guru membentuk kelompok peserta didik yang anggotanya 5 orang
d)         Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai
e)         Memanggil para peserta didik yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan
f)          Masing-masing peserta didik berada di kelompoknya sambil mengamati skenario yang sedang diperagakan
g)         Setelah selesai ditampilkan, masing-masing peserta didik diberikan lembar kerja untuk membahas penampilan masing-masing kelompok.
h)         Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya
i)           Guru memberikan kesimpulan secara umum
j)           Evaluasi
k)         Penutup

15. Group Investigation
a)         Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen
b)         Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok
c)         Guru memanggil ketua kelompok dan setiap kelompok mendapat tugas satu materi/tugas yang berbeda dari kelompok lain
d)         Masing-masing kelompok membahas materi yang sudah ada secara kooperatif yang bersifat penemuan
e)         Setelah selesai diskusi, juru bicara kelompok menyampaikan hasil pembahasan kelompok
f)          Guru memberikan penjelasan singkat sekaligus memberi kesimpulan
g)         Evaluasi
h)         Penutup

16. Talking Stick
a)         Guru menyiapkan sebuah tongkat
b)         Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membaca dan mempelajari materi.
c)         Setelah selesai membaca materi/buku pelajaran dan mempelajarinya, peserta didik menutup bukunya.
d)         Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada peserta didik, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan peserta didik yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar peserta didik mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru
e)         Guru memberikan kesimpulan
f)          Evaluasi
g)         Penutup

17. Bertukar Pasangan
a)         Setiap peserta didik mendapat satu pasangan (guru bisa menunjuk pasangannya atau peserta didik memilih sendiri pasangannya).
b)         Guru memberikan tugas dan peserta didik mengerjakan tugas dengan pasangannya.
c)         Setelah selesai setiap pasangan bergabung dengan satu pasangan yang lain.
d)         Kedua pasangan tersebut bertukar pasangan, kemudian pasangan yang baru ini saling menanyakan dan mencari kepastian jawaban mereka.
e)         Temuan baru yang didapat dari pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan semula.
18. Snowball Throwing
a)         Guru menyampaikan materi yang akan disajikan
b)         Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi
c)         Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya
d)         Kemudian masing-masing peserta didik diberikan satu lembar kertas kerja, untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok
e)         Kemudian kertas yang berisi pertanyaan tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu peserta didik ke peserta didik yang lain selama ± 15 menit
f)          Setelah peserta didik dapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian
g)         Evaluasi
h)         Penutup

19. Student Facilitator And Explaining:
a)         Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
b)         Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi
c)         Memberikan kesempatan peserta didik untuk menjelaskan kepada peserta didik lainnya misalnya melalui bagan/peta konsep.
d)         Guru menyimpulkan ide/pendapat dari peserta didik.
e)         Guru menerangkan semua materi yang disajikan saat itu.
f)          Penutup

20. Course Review Horay
a)         Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
b)         Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi
c)         Memberikan kesempatan peserta didik tanya jawab
d)         Untuk menguji pemahaman, peserta didik disuruh membuat kotak 9/16/25 sesuai dengan kebutuhan dan tiap kotak diisi angka sesuai dengan selera masing-masing peserta didik
e)         Guru membaca soal secara acak dan peserta didik menulis jawaban di dalam kotak yang nomornya disebutkan guru dan langsung didiskusikan, kalau benar diisi tanda benar (√) dan salan diisi tanda silang (x)
f)          Peserta didik yang sudah mendapat tanda √ vertikal atau horisontal, atau diagonal harus berteriak horay ... atau yel-yel lainnya
g)         Nilai peserta didik dihitung dari jawaban benar jumlah horay yang diperoleh
h)         Penutup
21. Demontsration
a)    Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
b)    Guru menyajikan gambaran sekilas materi yang akan disampaikan
c)    Menyiapkan bahan atau alat yang diperlukan
d)    Menunjuk salah seorang peserta didik untuk mendemontrasikan sesuai skenario yang telah disiapkan.
e)    Seluruh peserta didik memperhatikan demontrasi dan menganalisanya.
f)      Tiap peserta didik mengemukakan hasil analisanya dan juga pengalaman peserta didik didemontrasikan.
g)    Gurumembuatkesimpulan.

22. Explicit Instruction
a)    Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan peserta didik
b)    Mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan
c)    Membimbing pelatihan
d)    Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
e)    Memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan

23. Cooperative Integrated Reading And Composition Kooperatif Terpadu
a)         Membaca Dan Menulis
b)         Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen
c)         Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran
d)         Peserta didik bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas
e)         Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok
f)          Guru membuat kesimpulan bersama
g)         Penutup

24. Inside-Outside-Circle (Lingkaran Kecil-Lingkaran Besar)
a)    Separuh kelas berdiri membentuk lingkaran kecil dan menghadap keluar
b)    Separuh kelas lainnya membentuk lingkaran di luar lingkaran pertama, menghadap ke dalam
c)    Dua peserta didik yang berpasangan dari lingkaran kecil dan besar berbagi informasi. Pertukaran informasi ini bisa dilakukan oleh semua pasangan dalam waktu yang bersamaan
d)    Kemudian peserta didik berada di lingkaran kecil diam di tempat, sementara peserta didik yang berada di lingkaran besar bergeser satu atau dua langkah searah jarum jam.
e)    Sekarang giliran peserta didik berada di lingkaran besar yang membagi informasi. Demikian seterusnya

25. Tebak Kata
a)    Buat kartu ukuran 10X10 cm dan isilah ciri-ciri atau kata-kata lainnya yang mengarah pada jawaban (istilah) pada kartu yang ingin ditebak.
b)    Buat kartu ukuran 5X2 cm untuk menulis kata-kata atau istilah yang mau ditebak (kartu ini nanti dilipat dan ditempel pada dahi ataudiselipkan ditelinga
c)    Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai atau materi ± 45 menit.
d)    Guru menyuruh peserta didik berdiri berpasangan didepan kelas
e)    Seorang peserta didik diberi kartu yang berukuran 10x10 cm yang nanti dibacakan pada pasangannya. Seorang peserta didik yang lainnya diberi kartu yang berukuran 5x2 cm yang isinya tidak boleh dibaca (dilipat) kemudian ditempelkan di dahi atau diselipkan ditelinga.
f)      Sementara peserta didik membawa kartu 10x10 cm membacakan kata- kata yang tertulis didalamnya sementara pasangannya menebak apa yang dimaksud dalam kartu 10x10 cm. jawaban tepat bila sesuai dengan isi kartu yang ditempelkan di dahi atau telinga.
g)    Apabila jawabannya tepat (sesuai yang tertulis di kartu) maka pasangan itu boleh duduk. Bila belum tepat pada waktu yang telah ditetapkan boleh mengarahkan dengan kata-kata lain asal jangan langsung memberi jawabannya.
h)    Dan seterusnya

26. Word Square
a)    Buat kotak sesuai keperluan * Buat soal sesuai TPK
b)    Guru menyampaikan materi sesuai kompetensi yang ingin dicapai.
c)    Guru membagikan lembaran kegiatan sesuai contoh
d)    Peserta didik menjawab soal kemudian mengarsir huruf dalam kotak sesuai jawaban
e)    Berikan poin setiap jawaban dalam kotak

27. Scramble
a)    Buatlah pertanyaan yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
b)    Buat jawaban yang diacak hurufnya
c)    Guru menyajikan materi sesuai kompetensi yang ingin dicapai
d)    Membagikan lembar kerja sesuai contoh

28. Take And Give
a)       Buat kartu ukuran ± 10x15 cm sejumlah peserta tiap kartu berisi sub materi (yang berbeda dengan kartu yang lainnya, materi sesuai dengan TPK
b)       Siapkan kelas sebagaimana mestinya
c)        Jelaskan materi sesuai kompetensi yang ingin dicapai
d)       Untuk memantapkan penguasaan peserta tiap peserta didik diberi masing- masing satu kartu untuk dipelajari (dihapal) lebih kurang 5 menit
e)       Semua peserta didik disuruh berdiri dan mencari pasangan untuk saling menginformasi. Tiap peserta didik harus mencatat nama pasangannya pada kartu contoh.
f)         Demikian seterusnya sampai tiap peserta dapat saling memberi dan menerima materi masing-masing (take and give).
g)       Untuk mengevaluasi keberhasilan berikan berikan peserta didik pertanyaan yang tak sesuai dengan kartunya (kartu orang lain).
h)       Strategi ini dapat dimodifikasi sesuai keadaan
i)          Kesimpulan

29. Concept Sentence
a)         Guru menyampaikan kompentensi yang ingin dicapai
b)         Guru menyajikan materi secukupnya
c)         Guru membentuk kelompok yang anggotanya ± 4 orang secara heterogen
d)         Guru menyajikan beberapa kata kunci sesuai materi yang disajikan
e)         Tiap kelompok disuruh membuat beberapa kalimat dengan menggunakan minimal 4 kata kunci setiap kalimat

30. Complete Sentence
a)         Siapkan blangko isian berupa paragraf yang kalimatnya belum lengkap
b)         Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
c)         Guru menyampaikan materi secukupnya atau peserta didik disuruh membacakan buku atau modul dengan waktu secukupnya
d)         Guru membentuk kelompok 2 atau 3 orang secara heterogen
e)         Guru membagikan lembar kerja berupa paragraf yang kalimatnya belum lengkap (lihat contoh).
f)          Peserta didik berdiskusi untuk melengkapi kalimat dengan kunci jawaban yang tersedia.
g)         Peserta didik berdiskusi secara berkelompok
h)         Setelah jawaban didiskusikan, jawaban yang salah diperbaiki. Tiap peserta membaca sampai mengerti atau hapal
i)           Kesimpulan

31. Time Token Arends 1998
a)         Kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi (cooperative learning / CL)
b)         Tiap peserta didik diberi kupon berbicara dengan waktu ± 30 detik. Tiap peserta didik diberi sejumlah nilai sesuai waktu yang digunakan.
c)         Bila telah selesai bicara kopon yang dipegang peserta didik diserahkan. Setiap bebicara satu kupon.
d)         Peserta didik yang telah habis kuponnya tak boleh

32. Pair Check
a)         Bekerja berpasangan, Guru membentuk tim berpasangan berjumlah 2 (dua) peserta didik. Setiap pasangan Mengerjakan soal yang pas sebab semua itu akan membantu melatih
b)         Pelatih mengecek. Apabila patner benar pelatih memberi kupon
c)         Bertukar peran. Seluruh patner bertukar peran dan mengurangi langkah 1 – 3
d)         Pasangan mengecek, Seluruh pasangan tim kembali bersama danmembandingkan jawaban
e)         Penegasan guru. Guru mengarahkan jawaban /ide sesuai konsep

33. Keliling Kelompok
a)         Salah satu peserta didik dalam masing-masing kelompok menilai dengan memberikan pandangan dan pemikirannya mengenai tugas yang sedang mereka kerjakan
b)         Peserta didik berikutnya juga ikut memberikan kontribusinya
c)         Demikian seterusnya giliran bicara bisa

34. Tari Bambu
a)    Separuh kelas atau seperempat jika jumlah peserta didik terlalu banyak berdiri berjajar . Jika ada cukup ruang mereka bisa berjajar di depan kelas. Kemungkinan lain adalah peserta didik berjajar di sela-sela deretan bangku. Cara yang kedua ini akan memudahkan pembentukan kelompok karena diperlukan waktu relatif singkat.
b)    Separuh kelas lainnya berjajar dan menghadap jajaran yang pertama
c)    Dua peserta didik yang berpasangan dari kedua jajaran berbagi sinformasi.
d)    Kemudian satu atau dua peserta didik yang berdiri di ujung salah satu jajaran pindah ke ujung lainnya di jajarannya. Jajaran ini kemudian bergeser. Dengan cara ini masing-masing peserta didik mendapat pasangan yang baru untuk berbagi. Pergeseran bisa dilakukan terus sesuai dengan kebutuhan

35. Dua tinggal dua tamu (two stay two stray)
a)         Peserta didik bekerja sama dalam kelompok yang berjumlah 4 (empat) orang
b)         Setelah selesai, dua orang dari masing-masing menjadi tamu kedua kelompok yang lain
c)         Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi ke tamu mereka
d)         Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain
e)         Kelompok mencocokkan dan membahas hasil kerja mereka



B. MODEL PENGELOLAAN  PEMBELAJARAN
Pengertian Pengelolaan  Pembelajaran
Peningkatan mutu pendidikan akan tercapai apabila proses belajar mengajar yang diselenggarakan efektif dan berguna untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Karena pada dasarnya proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan, dan guru merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan berhasilnya proses pembelajaran. Oleh karena itu pendidik dan khususnya Kepala Sekolah dituntut untuk meningkatkan peran dan kompetensinya, dalam mengorgainasi atau mengelola pembelajaran dengan menciptakan lingkungan belajar yang efektif, efisien dan menyenangkan agar hasil belajar peserta didik berada pada tingkat yang optimal. 

Dalam kegiatan pembelajaran, seoran pendidik dapat memainkan berbagai peran pengelola pembelajaran sebagai demonstrator, pengelola kelas, mediator dan fasilitator/mentor dan sebagai evaluator. Sebagai tenaga profesional, seorang pendidik dituntut mampu mengelola kelas yaitu menciptakan dan mempertahankan kondisi belajar yang optimal bagi tercapainya tujuan pengajaran. 

Pengelolaan pembelajaran dapat diartikan sebagai upaya untuk mempertahankan ketertiban kelas, tetapi ngengertian pengelolaan pembelajaran ini telah mengalamai perkembangan dan diartikan proses seleksi dan menggunakan alat-alat yang tepat terhadap problem dan situasi pengelolaan pembelajaran. Pengelolaan pembelajaran adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar dicapai kondisi yang optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar mengajar seperti yang diharapkan (Arikunto, 1986: 143).

Fungsi pengelolaan pembelajaran sangat mendasar sekali karena kegiatan pendidik dalam mengelola pembelajaran meliputi kegiatan mengelola tingkah laku peserta didik dalam kelas, menciptakan iklim sosio emosional dan mengelola proses kegiatan kelompok, sehingga keberhasilan pendidik dalam menciptakan kondisi yang memungkinkan proses belajar mengajar berlangsung secara efektif.

Menurut berbagai sumber belajar tujuan pengelolaan pembelajaran adalah sebagai berikut:
1)    Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
2)    Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi belajar mengajar.
3)    Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan peserta didik belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual peserta didik dalam kelas.
4)    Membina dan membimbing sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.
5)    Menciptakan suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional, dan sikap serta apresiasi pada peserta didik.
6)    Memfasilitasi setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien

Prinsip-Prinsip Pengelolaan pembelajaran
Secara umum faktor yang mempengaruhi pengelolaan pembelajaran dibagi menjadi dua golongan yaitu, faktor internal dan faktor eksternal peserta didik. Faktor internal peserta didik berhubungan dengan masalah emosi, pikiran, dan perilaku. Kepribadian peserta didik denga ciri-ciri khasnya masing-masing menyebabkan peserta didik berbeda dari peserta didik lainnya sacara individual. Perbedaan sacara individual ini dilihat dari segi aspek yaitu perbedaan biologis, intelektual, dan psikologis.

Faktor eksternal peserta didik terkait dengan masalah suasana lingkungan belajar, penempatan peserta didik, pengelompokan peserta didik, jumlah peserta didik, dan sebagainya. Masalah jumlah peserta didik di kelas akan mewarnai dinamika kelas. Semakin banyak jumlah peserta didik di kelas, misalnya dua puluh orang ke atas akan cenderung lebih mudah terjadi konflik. Sebaliknya semakin sedikit jumlah peserta didik di kelas cenderung lebih kecil terjadi konflik. 

Dalam rangka memperkecil masalah gangguan dalam pengelolaan pembelajaran dapat dipergunakan prinsip-prinsip pengelolaan pembelajaran sebagai berikut.

Hangat dan Antusias diperlukan dalam proses belajar mengajar. Pendidik yang hangat dan akrab pada anak didik selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada aktifitasnya akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan pembelajaran.

Penggunaan kata-kata, tindakan, cara kerja, atau bahan-bahan yang santun, arif, ramah dan menantang akan meningkatkan gairah peserta didik untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.
Bervariasi. Penggunaan alat atau media, gaya mengajar pendidik, pola interaksi antara pendidik dan anak didik akan mengurangi munculnya gangguan, meningkatkan perhatian peserta didik. Kevariasian ini merupakan kunci untuk tercapainya pengelolaan pembelajaran yang efektif dan menghindari kejenuhan.

Keluwesan. Keluwesan tingkah laku pendidik untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan peserta didik serta menciptakan iklim belajarmengajar yang efektif. Keluwesan pengajaran dapat mencegah munculnya gangguan seperti keributan peserta didik, tidak ada perhatian, tidak mengerjakan tugas dan sebagainya.

Penekanan pada hal-hal yang Positif. Pada dasarnya dalam mengajar dan mendidik, pendidik harus menekankan pada hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal-hal yang negative. Penekanan pada hal-hal yang positif yaitu penekanan yang dilakukan pendidik terhadap tingkah laku peserta didik yang positif daripada mengomeli tingkah laku yang negatif. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif dan kesadaran pendidik untuk menghindari kesalahan yang dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar.

Penanaman Disiplin Diri. Tujuan akhir dari pengelolaan pembelajaran adalah anak didik dapat mengembangkan dislipin diri sendiri dan pendidik sendiri hendaknya menjadi teladan mengendalikan diri dan pelaksanaan tanggung jawab. Jadi, pendidik harus disiplin dalam segala hal bila ingin anak didiknya ikut berdisiplin dalam segala hal.

B. MODEL PENGELOLAAN PEMBELAJARAN
Terdapat berbagai model pengelolaan pembelajaran atau pengelolaan kelas. Model- pengelolaan pembelajaran yang dikembangkan dilandasi dengan argumentasi teoritis tertentu. Antara satu model dan model lainnya terdapat beberapa perbedaan pendekatan, strategi, metode, taktik dan sebagai, tetapi yang perlu diingat bahwa semua model pengelolaan pembelajaran bertujuan sama yaitu menjadikan proses pembelajaran berjalan secara efektif dan memdorong terjadinya proses belajar.  Beberapa model pengelolaan pembelajaran yang sering kita dengar seperti pembelajaran klasikal, pembelajaran individual, pembelajaran tematik, pembelajaran terpadu, pembelajaran kontektual, pembelajaran bermakna dsb.

Fokus perhatian yang dijadikan landasan penyusunan dan pemilihan model-model pembelajar sangat beraga, sebagai misal atas dasar kelompok peserta didik sehingga dikenal pembelajaran klasikal dan pembelajaran individual. Model pengelolaan pembelajaran lebih didasarkan pada tema pembelajaran sehingga dalam tema tersebut peserta didik dapat kesempatan belajar berbagai materi ajar yang terkait sehingga kita mengenal model pmbelajaran tematik. Model pembelajaran yang menekankan pada pengaturan waktu sehingga dikenal pembelajaran sistem blok. Terdapat juga model pembelajaran yang lebih didasarkan pada bagaimana aktivitas peserta didik belajar sehingga muncul model pembelajaran model PAKEM dengan segala variasinya.

Beragam model pembelajaran yang telah dikembangkan selama ini masing-masing memiliki persyaratan-persyaratan tertentu agar supaya proses pembelajaran yang terjadi efektif, dan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu pemilihan model pembelajaran yang dipergunakan bergantung pertimbangan dan keputusan para pendidik.

Pendidik sebagai pengelola pembelajaran merupakan orang yang mempunyai peranan yang strategis yaitu orang yang merencanakan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan di kelas, orang yang akan mengimplementasikan kegiatan yang direncanakan dengan subjek dan objek peserta didik, orang menentukan dan mengambil keputusan dengan strategi yang akan digunakan dengan berbagai kegiatan di kelas, dan pendidik pula yang akan menentukan alternatif solusi untuk mengatasi hambatan dan tantangan yang muncul; maka dengan tiga pendekatan-pendekatan yang dikemukakan, akan sangat membantu pendidik dalam melaksanakan tugas pekerjaannya.

Pendidik dalam melakukan tugas mengajar di suatu kelas, perlu merencanakan dan menentukan pengelolaan pembelajaran yang bagaimana yang perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi kemampuan belajar peserta didik serta materi pelajaran yang akan diajarkan di kelas tersebut, sarana prasarana yang tersedia, serta sosial budaya peserta didik. Menyusun strategi untuk mengantisipasi apabila hambatan dan tantangan muncul agar proses belajar mengajar tetap dapat berjalan dan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan dapat tercapai.

Pengelolaan pembelajaran akan menjadi sederhana untuk dilakukan apabila pendidik memiliki motivasi kerja yang tinggi, dan pendidik mengetahui bahwa gaya kepemimpinan situasional akan sangat bermanfaat bagi pendidik dalam melakukan tugas mengajarnya. Dengan demikian pengelolaan pembelajaran tidak dapat terlepas dari motivasi kerja pendidik, karena dengan motivasi kerja pendidik ini akan terlihat sejauhmana motif dan motivasi pendidik untuk melakukan pengelolaan pembelajaran, sedangkan dengan gaya kepemimpinan pendidik yang tepat yang digunakan dalam pengelolaan pembelajaran akan mengoptimalkan dan memaksimalkan keberhasilan pengelolaan pembelajaran tersebut.

Pengelolaan pembelajaran adalah proses mengelola dan mengendalikan lingkungan kelas. Untuk memastikan bahwa antara pendidik dan peserta didik dapat saling berhubungan secara efektif dan produktif, tanpa gangguan atau perilaku mengganggu, mereka menggunakan teknik tertentu. Indikator manajemen pembelajaran digunakan untuk mengukur keberhasilan guru dalam mengelola pembelajaran dan kegiatan mereka.

Salah satu indikator kesuksesan pengelolaan pembelajaran adalah memastikan bahwa peserta didik aktif dan sibuk, bahkan ketika pendidik sibuk atau terjebak dalam tugas-tugas lain atau kegiatan. Sebagai contoh, dari waktu ke waktu, pendidik mungkin perlu berkonsultasi dengan pendidik lain atau administrator tentang hal-hal kelas, atau mereka mungkin harus membantu peserta didik secara individu dengan masalah atau isu. Ketika ini terjadi, kelas yang tersisa untuk perangkat sendiri, jika tidak dikelola dengan baik, ini dapat menyebabkan masalah bagi pendidik atau peserta didik lain. Menyediakan kelas dengan kursus atau tugas selama periode ini merupakan indikator keberhasilan manajemen kelas. Kelas yang disimpan diduduki bahkan ketika perhatian penuh guru tidak tersedia merupakan indikator bahwa guru kelas telah berhasil dengan sukses.

Indikator lain pengelolaan pembelajaran adalah kemampuan menyiapankan rencana pembelajaran cadangan. Pada saat rencana pelajaran yang telah disiapkan tidak berhasil. Ketika ini terjadi, kemampuan pendidik untuk memberikan peserta didik dengan rencana pelajaran cadangan dan kegiatan merupakan indikator kualitas pengelolaan pembelajaran, karena memperkuat gagasan peserta didik bahwa kelas adalah lingkungan belajar. Jika peserta didik dibiarkan tanpa fokus yang jelas dengan tugas dan instruksi yang telah disiapkan, mereka tidak tertarik dan kemungkinan akan meninggalkan kegiatan pembelajaran.

Model Pengelelolaan Pembelajaran Klasikal

Pengajaran klasikal adalah model pengelolaan pembelajaran yang biasa kita lihat sehari-hari. Istilah klasikal bisa diartikan sebagai secara klasik yang menyatakan bahwa kondisi yang sudah lama terjadi, bisa juga diartikan sebagai bersifat kelas. Jadi pembelajaran klasikal berarti pembelajaran konvensional yang biasa dilakukan di kelas selama ini, yaitu pembelajaran yang memandang peserta didik berkemampuan tidak berbeda atau sama sehingga mereka mendapat pelajaran secara bersama, dengan cara yang sama dalam satu kelas sekaligus. Pembelajaran klasikal tidak berarti jelek, tergantung proses kegiatan yang dilaksanakan, yaitu apakah semua peserta didik berartisipasi secara aktif terlibat dalam pembelajaran, atau pasif tidak terlibat, atau hanya mendengar dan mencatat, apakah pembelajara efektif mencapai tujuan pembelajaran, apakah pembelajaran menyenangkan bagi pendidik dan peserta didik.

Pada model pengelolaan pembelajaran ini pendidik mengajar sejumlah peserta didik, biasanya antara 30-40 peserta didik di dalam sebuah ruangan kelas. Dalam kondisi seperti ini, kondisi belajar peserta didik secara individual baik menyangkut kecepan belajar, kesulitan belajar dan minat belajar kurang diperhatikan oleh pendidik. Pada umumnya cara pendidik dalam menentukan kecepatan menyajikan materi pembelajaran dan tingkat kesukaran materi pembelajaran bergantun pada informasi kemampuan peserta didik secara umum. Pendidik tapak sangat mendominasi dalam menentukan semua kegiatan pembelajaran. Banyaknya materi yang akan diajarkan, urutan materi pelajaran, kecepatan pendidik mengajar dan lain-lain sepenuhnya ada ditangan pendidik. 

Model pembelajaran klasikal konvensional biasanya menuntut disiplin yang tinggi dari para peserta didik, dan pendidik memiliki otoritas penuh di ruang kelas. Pembelajaran klasikal cenderung digunakan oleh pendidik apabila dalam proses pembelajarannya lebih banyak bentuk penyajian materi dari pendidik. Penyajian lebih menekankan untuk menjelaskan sesuatu materi yang belum diketahui atau dipahami peserta didik. Metode yang digunakan cenderung metode ceramah dan tanya jawab bervariasi.

Pembelajaran klasikal akan memberi kemudahan bagi pendidik dalam mengorganisasi materi pelajaran, karena dalam pelajaran klasikal secara umum materi pelajarannya akan seragam diserap oleh peserta didik. Pembelajaran klasikal dapat digunakan apabila materi pelajaran lebih bersifat informatif atau fakta. Proses pembelajaran klasikal dapat membentuk kemampuan peserta didik dalam menyimak atau mendengarkan, membentuk kemampuan dalam mendengarkan dan kemampuan dalam bertanya.

Penyelenggaraan pendidikan sekolah di negara ini lebih cenderung bersifat klasikal, bentuk pengajaran klasikal berhasil menempatkan pendidik sebagai faktor dominan dan menjadi sangat penting/kunci bagi peserta didik karena pendidik sering menjadi tokoh identifikasi diri. Oleh karena itu, sangat bijaksana jika seorang pendidik memiliki perilaku ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karsa dan tut wuri handayani serta memiliki talenta yang memadai untuk mengembangkan potensi peserta didiknya secara utuh. Pendidik dituntut untuk dapat bekerja secara teratur, konsisten, dan kreatif dalam menghadapi masalah yang terkait dengan tugasnya terutama kemampuan melaksanakan program belajar mengajar yaitu kemampuan menciptakan interaksi belajar mengajar sesuai dengan situasi dan kondisi serta program yang telah ditentukan. Seorang pendidikan dalam

Pembelajaran klasikal mempunyai kelemahan, diantaranya adalah pembelajaran tidak memperhatikan pengalaman peserta didik, peserta didik menjadi penerima secara pasif, serta pembelajaran bersifat abstrak dan teoritis. Pembelajaran klasikal dapat diminimalisir jika didukung dengan buku teks pelajaran yang relevan dan kontekstual serta penggunaan sumber-sumber belajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik serta mudah diakses oleh peserta didik. 

Model Pengelolaan Pembelajaran Individual
Pembelajaran secara individual adalah kegiatan pembelajaran yang mengakomodasi perbedaan-perbedaan individu dalam pengorganisasian pembelajaran yang menitik beratkan bantuan dan bimbingan belajar kepada individual kelas secara khusus. 

Secara umum perbedaan pembelajaran individual dan klasikal yaitu :
1)   Perhatian dan motivasi, perhatian mempunyai peranan di dalam kegiatan belajar.
2)   Keaktifan menurut psikologi anak adalah makhluk yang aktif
3)   Keterlibatan langsung/ pengalaman belajar haruslah dilakukan sendiri oleh peserta didik, belajar adalah mengalami sendiri dan tidak bisa dilimpahkan pada orang lain.
4)   Perbedaan individual peserta didik merupakan makhluk individual yang unik yang mana masing-masing mempunyai perbedaan yang khas.

Pengertian pembelajaran individual atau pembelajaran perseorangan (Individual Instruction) merupakan suatu siasat (strategi) untuk mengatur kegiatan belajar mengajar sedemikian rupa sehingga setiap peserta didik memperoleh perhatian lebih banyak daripada yang dapat diberikan dalam rangka pengelolaan kegiatan belajar mengajar dalam kelompok peserta didik yang besar. 

Pembelajaran individual merupakan suatu cara pengaturan program belajar dalam setiap mata pelajaran, disusun dalam suatu cara tertentu yang disediakan bagi tiap peserta didik agar dapat memacu kecepatan belajarnya dibawah bimbingan guru. 

Pembelajaran secara individual adalah kegiatan mengajar pembelajar yang memetik beratkan bantuan dan bimbingan belajar kepada masing-masing individu. Bantuan dan bimbingan belajar kepada individu juga ditemukan pada pembelajaran klasikal, tetapi prinsipnya berbeda. Pada pembelajaran individual, pembelajar memberi bantuan pada masing-masing pribadi.  Ciri-ciri yang menonjol pada pembelajaran individual dapat ditinjau dari segi: tujuan pembelajaran, peserta didik sebagai subjek yang belajar, pendidik sebagai fasilisator, program pembelajaran, orientasi dan tekanan utama dalam pelaksanaan pembelajaran. 

Tujuan Pembelajaran Individual yang menonjol adalah pemberian kesempatan dan keleluasaan peserta didik untuk belajar berdasarkan kemampuan sendiri. Pengembangan kemampuan tiap individu secara optimal, setiap individu memiliki paket belajar sendiri-sendiri, yang sesuai dengan tujuan belajarnya secara individual juga. Posisi Peserta didik dalam pembelajaran Individual: Posisi peserta didik bersifat sentral Keleluasaan belajar berdasarkan kemampuan sendiri Kebebasan menggunakan waktu belajar. Keleluasaan dalam mengontrol kegiatan dsb.

Model Pengelolaan Pembelajaran Tematik
Pengelolaan pembelajaran tematik menitikberatkan tema sebagai dasar perancangan kegiatan pembelajaran. Berdasarkan tema tertentu peserta didik dapat mengikuti kegiatan pembelajaran klasikal atau individual. Pembelajaran tematik pada umumnya sering dipergunakan dalam pembelajaran peserta didik yang berada pada kelas awal sekolah dasar berada pada rentangan usia dini. Peserta didik yang berada pada sekolah dasar kelas satu, dua, dan tiga berada pada rentangan usia dini. Pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya mereka masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (berpikir holistik) dan memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih bergantung kepada objek-objek konkret dan pengalaman yang dialami secara langsung. Kondisi-kondisi tersebut ini menjadi landasan bagi pengembangan pola dan strategi pembelajaran yang tepat, tidak saja agar tujuan-tujuan pembelajaran dapat tercapai, melainkan juga agar tujuan program pendidikan dapat terpenuhi, yaitu meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Pembelajaran tematik yang melibatkan berbagai mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada peserta didik, merupakan model pembelajaan inovatif yang dapat menjadi solusi bagi pembelajaran terpisah yang selama ini digunakan di kelas-kelas awal sekolah dasar.

Salah satu dimensi penting dari pembelajaran tematik tersebut adalah strategi pembelajarannya. Penetapan strategi pembelajaran yang tepat dan optimal akan mendorong prakarsa dan memudahkan belajar peserta didik. Titik awal upaya ini diletakkan pada perbaikan proses. Oleh karena itu, penyelidikan yang cermat tentang strategi pembelajaran tematik menjadi penting dan mendesak di tengah kebingungan banyak sekolah menemukan sosok utuh strategi pembelajaran tematik, teristimewa melalui kajian empirik. 

Saat ini, pelaksanaan kegiatan pembelajaran terutama di SD kelas I – III untuk setiap mata pelajaran dilakukan secara terpisah, misalnya IPA 2 jam pelajaran, IPS 2 jam pelajaran, dan Bahasa Indonesia 2 jam pelajaran. Dalam pelaksanaan kegiatannya dilakukan secara murni mata pelajaran yaitu hanya mempelajari materi yang berhubungan dengan mata pelajaran itu. Sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan (berpikir holistik), pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran secara terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik

Sesuai dengan tahapan karakteristik perkembangan anak, karakteristik cara anak belajar, konsep belajar dan belajar bermakna, maka kegiatan pembelajaran bagi anak kelas awal SD sebaiknya dilakukan dengan pembelajaran tematik. Pembelajaan tematik adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman belajar bermakna kepada peserta didik.

Ciri pembelajaran tematik antara lain :
a)         Berpusat pada anak
b)         Memberikan pengalaman langsung pada anak
c)         Pemisahan antara bidang studi/mata pelajaran dalam tidak begitu jelas
d)         Menyajikan konsep  dari berbagai bidang studi/mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran
e)         Bersifat luwes
f)          Hasil  pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak
g)         Dengan menggunakan pembelajaran tematik diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, di antaranya:
h)         Peserta didik mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu;
i)           Peserta didik mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama;
j)           Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
k)         Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan matapelajaran lain dengan pengalaman pribadi peserta didik;
l)           Peserta didik mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas;
m)       Peserta didik lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain;
n)         Guru dapat menghemat waktu karena beberapa mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.

Dalam pelaksanaan pembelajaran tematik, perlu dilakukan beberapa hal yang meliputi tahap perencanaan yang mencakup kegiatan pemetaan kompetensi dasar, pengembangan jaringan tema, pengembangan silabus dan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran. 

Pemetaan Kompetensi Dasar. Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh semua standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator dari berbagai mata pelajaran yang dipadukan dalam tema yang dipilih. Kegiatan yang dilakukan dalam pemetaan kompetensi antara lain melakukan kegiatan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran ke dalam indikator yang sesuai dengan karakteristik peserta didik, sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, terukur dan/atau dapat diamati

Dalam menetukan tema yang akan dipergunakan pada pembelajaran tematik dapat dilakukan dengan pertama pertama, mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam masing-masing mata pelajaran, dilanjutkan dengan menentukan tema yang sesuai.  Atau kedua, menetapkan terlebih dahulu tema-tema pengikat keterpaduan, untuk menentukan tema tersebut, guru dapat bekerjasama dengan peserta didik sehingga sesuai dengan minat dan kebutuhan anak. 

Dalam menetapkan tema perlu memperhatikan memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan peserta didik, tingkat kesulitan materi pelajaran dan sebaiknya diurutkan dari yang termudah menuju yang sulit, dari yang sederhana menuju yang kompleks, dari yang konkret menuju ke yang abstrak.Tema yang dipilih harus memungkinkan terjadinya proses berpikir pada diri peserta didik dan ruang lingkup tema disesuaikan dengan usia dan perkembangan peserta didik, termasuk minat, kebutuhan, dan kemampuannya
Penetapan jaringan tema. Setelah tema ditemukan maka dilanjutkan dengan pembuatan jaringan tema. Jaringan tema yaitu menghubungkan kompetensi dasar dan indikator dengan tema pemersatu. Dengan jaringan tema tersebut akan terlihat kaitan antara tema, kompetensi dasar dan indikator dari setiap mata pelajaran. Jaringan tema ini dapat dikembangkan sesuai dengan alokasi waktu setiap tema

Pembelajaran tematik mempunyai kelebihan yakni: menyenangkan karena berangkat dari minat dan kebutuhan peserta didik; mMemberikan pengalaman dan kegiatan belajar mengajar yang relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik; hasil belajar dapat bertahan lama karena lebih berkesan dan bermakna; mengembangkan keterampilan berpikir peserta didiksesuai dengan persoalan yang dihadapi; menumbuhkan keterampilan sosial melalui kerja sama; mMemiliki sikap toleransi, komunikasi dan tanggap terhadap gagasan orang lain; mMenyajikan kegiatan yang bersifat nyata sesuai dengan persoalan yang dihadapi dalam lingkungan peserta didik. Selain itu pembelajaran tematik juga memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan pembelajaran tematik tersebut terjadi apabila dilakukan oleh guru tunggal. Misalnya seorang guru kelas kurang menguasai secara mendalam penjabaran tema sehingga dalam pembelajaran tematik akan merasa sulit untuk mengaitkan tema dengan materi pokok setiap mata pelajaran. Di samping itu, jika skenario pembelajaran tidak menggunakan metode yang inovatif maka pencapaian standar Kompetensi dan kompetensi dasar tidak akan tercapai karena akan menjadi sebuah narasi yang kering tanpa makna.

Pemilihan Model Pengelolaan Pembelajaran
Setiap model pengeloaan pembelajaran memiliki persyaratan-persyaratan tenrtentu untuk dapat diimplementasikan secara sukses untuk membantu peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran atau menguasai kompetensi yang diajarkan. Usia peserta didik menjadi salah satu dasar pertimbangan dalam pemilihan model pengelolaan pembelajaran. Peserta didik yang berusia belia terutama yang berada pada sekolah dasar kelas satu, dua, dan tiga berada pada rentangan usia dini. Pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya tingkat perkembangan masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) serta mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih bergantung kepada objek-objek konkrit dan pengalaman yang dialami secara langsung. 

Setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang objek. Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret., integratif dan hirarkis. Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Integratif, pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian. Hirarkis, pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi
Baca Lengkap
      edit