Showing posts with label agribisnis. Show all posts
Showing posts with label agribisnis. Show all posts

Friday, January 27, 2017

Published 12:28 AM by with 0 comment

Panduan Lengkap Cara Budidaya Edamame (Kedelai Jepang) Berkualitas

Edamame adalah kacang kedelai yang masih dalam polong yang belum sepenuhnya dewasa. Edamame sering dapat ditemukan di Jepang, dan di Hawaii. Departemen Pertanian Amerika Serikat menyatakan bahwa kacang edamame adalah kedelai yang dapat dimakan langsun atau masih segar dan yang dikenal terbaik sebagai camilan dengan kandungan gizinya. Edamame kaya protein, serat makanan, dan mikronutrien, terutama folat, mangan, fosfor dan vitamin K. Keseimbangan asam lemak dalam 100 gram edamame adalah 361 mg asam lemak omega-3-1794 mg omega-6 asam lemak. Untuk itu budidaya kacang edamame juga berpotensi untuk mendorong perekonomian sehari-hari.
Edamame


Lingkungan yang Cocok


Persyaratan pertumbuhan kedelai jepang (edamame) hampir tidak berbeda dengan pertumbuhan kedelai lokal. Kedelai dalam tumbuh di daerah daratan rendah dan tinggi. Kedelai sangat baik apabila ditanam di tanah yang subur, gembur, dan cukup air, tetapi tidak becek. Kebersihan terhadap pembudidayaan kedelai jepang tergantung pada kecukupan air, kelembaban yang tinggi, dan pemeliharaan yang intensif (pemeliharaan yang teratur).


Sebagai barometer (pedoman) untuk mengetahui bahwa suatu tanah merupakan tempat yang cocok untuk tanaman kedelai atau tidak cocok dapat dilihat apakah tempat itu dapat ditanami tanaman jagung. Apabila tanaman jagung dapat tumbuh baik dan hasilnya pun baik, daerah tersebut cocok untuk tanaman kedelai baik kedelai lokal maupun kedelai jepang (edamame).

Penanaman


Pengolahan Tanah


Tanah merupakan media tumbuh dan perkembangan tanaman. Namun, tidak begitu saja tanah dapat menjamin keberhasilan usaha penanaman. Adakalanya penanaman berhasil, tetapi andakalanya kurang berhasil, dan bahkan gagal.

Untuk menunjang keberhasilan usaha penanaman, perlu diperhatikan pengolahan tanah sebelum tanam, walaupun kedelai dapat ditanam tanpa pengolahan tanah terlebih dahulu.

Teknisi pengolahan tanah berbeda-beda, bergantung pada kondisi dan jenis tanahnya. Pengolahan tanah bertujuan memperbaiki tekstur dan struktur tanah (menggemburkan tanah) sehingga didapatkan kondisi tanah yang cocok untuk pertumbuhan kedelai jepang (edamame).

Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan seperlunya saja dengan melihat struktur dan porositasnya. Dalam kondisi struktur dan porositas yang baik (sudah gembur) sebetulnya pengolahan tanah tidak diperlukan lagi. Seandainya dilakukan pengolahan tanah, hanya cukup dilakukan dengan membuang gulmanya (rumput) saja.

Pengolahan tanah yang baik, baik pengolahan ringan maupun dalam, perlu disesuaikan dengan per- kembangan tanaman. Pengolahan tanah perlu dilakuakn apabila kondisi tanah sudah padat. Dengan adanya pengolahan, akan dapat menggemburkan tanah dan dapat memperbaiki pori-pori tanah sehingga udara dapat tersebar merata dalam tanah.

Untuk mendapatkan hasil pengolahan tanah yang baik, kita perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Pengolahan tanah tidak menjadi penyebab hilangnya kandungan bahan organik dari tempat semula di dalam tanah.
  2. Pengolahan tanah dengan bajak, pembuatan guludan (bedengan) harus searah dengan garis kontur (sengkedan) atau menyilang lereng.
  3. Pada bagian tanah yang memiliki kemiringan agak curam, pengolahan tanah harus mencakup pembuatan kontur (sengkedan) agar dapat menghindari hanyutnya lapisan olah tanah (mencegah erosi).

Dengan pengolahan tanah, dapat diubah sifat fisika tanah yang dapat mempengaruhi peredaran udara, air, zat-zat yang terlarut dalam tanah, dan mikro organisme atau jasad renik dalam tanah. Semuanya itu dapat berpengaruh terhadap kehidupan dan perkembangan tanaman.

Teknisi pengolahan tanah berbeda-beda, bergantung pada kondisi dan jenis tanahnya. Pengolahan tanah bertujuan memperbaiki tekstur dan struktur tanah (menggemburkan tanah) sehingga didapatkan kondisi tanah yang cocok untuk pertumbuhan kedelai jepang (edamame).

Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan seperlunya saja dengan melihat struktur dan porositasnya. Dalam kondisi struktur dan porositas yang baik (sudah gembur) sebetulnya pengolahan tanah tidak diperlukan lagi. Seandainya dilakukan pengolahan tanah, hanya cukup dilakukan dengan membuang gulmanya (rumput) saja.

Pengolahan tanah yang baik, baik pengolahan ringan maupun dalam, perlu disesuaikan dengan per- kembangan tanaman. Pengolahan tanah perlu dilakuakn apabila kondisi tanah sudah padat. Dengan adanya pengolahan, akan dapat menggemburkan tanah dan dapat memperbaiki pori-pori tanah sehingga udara dapat tersebar merata dalam tanah.

Untuk mendapatkan hasil pengolahan tanah yang baik, kita perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Pengolahan tanah tidak menjadi penyebab hilangnya kandungan bahan organik dari tempat semula di dalam tanah.
  2. Pengolahan tanah dengan bajak, pembuatan guludan (bedengan) harus searah dengan garis kontur (sengkedan) atau menyilang lereng.
  3. Pada bagian tanah yang memiliki kemiringan agak curam, pengolahan tanah harus mencakup pembuatan kontur (sengkedan) agar dapat menghindari hanyutnya lapisan olah tanah (mencegah erosi).

Dengan pengolahan tanah, dapat diubah sifat fisika tanah yang dapat mempengaruhi peredaran udara, air, zat-zat yang terlarut dalam tanah, dan mikro organisme atau jasad renik dalam tanah. Semuanya itu dapat berpengaruh terhadap kehidupan dan perkembangan tanaman.

Cara Tanam


Penanaman dilakukan dengan jarak tanam 20 x 20 sampai dengan 25 x 25 cm dengan kedalaman ± 3 cm, satu lubang ditanami satu biji.

Pemberian Penutup Tanah (Mulsa)


Jerami


Setelah kedelai tumbuh, segera diberi penutup tanah (mulsa) dari jerami. Pemberian jerami dilakukan secara hati-hati agar tidak mematahkan kedelai yang baru tumbuh. Mulsa selain dapat mempertahankan kelembapan tanah, juga dapat menekan pertumbuhan gulma (rumput pengganggu). Selain itu, setelah busuk, jerami dapat berfungsi sebagai pupuk.

Pola Tanam


Kedelai jepang (edamame) memiliki tiga macam pola tanam. Pola tanam itu adalah sebagai berikut:

  1. Pola tanam menokultur (satu jenis tanaman), tanaman kedelai ditanam khusus pada satu areal tanpa adanya campuran tanaman lain.
  2. Pola tanam tumpang sari, tanaman kedelai ditanam dalam satu arela bersama dengan tanaman lain, misalnya dengan tanaman jagung dan ketela pohon.
  3. Pola tanam Alley cropping, tanaman kedelai ditanam pada areal berlereng dengan batas tanaman lain sebagai pagar.

Pemeliharaan Tanaman


Pemeliharaan tanaman dalam pembudi- dayaan edamame meliputi, penyulaman, penyiangan, pemupukan, pengairan, pem- bumbunan, dan pengendalian hama penyakit.

Penyulaman


Agar tanaman dapat tumbuh dengan serempak, sebaiknya bersamaan dengan penanaman disiapkan juga pembibitan kedelai dalam polybag atau kantong-kantong plastik kecil yang telah diisi dengan campuran tanah, pasir, dan pupuk kandang\kompos dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Penyemaian kedelai untuk cadangan penyulaman lebih kurang | bagian (^-nya dari jumlah benih yang ditanam).

Namun, apabila penyulaman dilakukan dengan menggunakan biji, penyulaman di­lakukan sedini mungkin (lebih kurang 5 hari setelah tanam). Penyulaman dapat mengguna­kan benih cadangan yang disiapkan untuk penyulaman.

Peyiangan


Penyiangan dalam pembudidayaan kedelai jepang (edamame) mutlak dilakukan untuk mengurangi persaingan hidup antara tanaman pokok dan gulma yang ada pada tanaman. Penyilangan dilakukan pada umur 3-4 minggu. Penyilangan tidak boleh dilakukan pada saat tanaman sedang berbunga karena dapat merontokkan bunga.

Gulma yang sampai sekarang merupakan kendala yang sulit dikendalikan adalah rumput teki. Hal itu disebabkan daur hidupnya relatif singkat. Umbi yang tertinggal ± 2 hari mulai tumbuh kembali.

Pembumbunan


Pembumbunan biasanya dilakukan ber- samaan dengan penyilangan dan sekaligus dengan penggemburan tanah di sekitar batang.

Pembumbunan pada edmame bertujuan


  1. Memperkokoh batang edamame agar tidak mudah roboh;
  2. Memperbaiki aerasi (pertukaran udara dalam tanah) dan pengairan tanah;
  3. Menekan pertumbuhan gulma (rumput pengganggu);
  4. Mempercepat proses pembusukan mulsa (penutup tanah) sebagai penambahan pupuk organik tanah.

Pembumbunan dilakukan pada saat setelah dilakukan pemupukan susulan, ± pada umur 20 hari, agar pupuk yang diberikan dapat diserap tanaman secara efektif (dengan baik).

Pembumbunan selanjutnya dilakukan menjelang tanaman berbunga. Pembumbunan dilakukan dengan mengesrik dan menaikkan tanah antarbedengan ke permukaan bedengan di antara barisan tanaman.

Pemupukan


Tanah merupakan media untuk tumbuh tanaman. Di dalam tanah terkandung unsur-unsur hara, baik unsur makro maupun mikro. Namun, kandungan hara belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Jika kekurangan unsur tersebut, tanah harus diberi pupuk. Tanah yang kekurangan pupuk, tetapi tidak diberi tambahan pupuk maka petumbuhan tanaman akan terganggu.

Untuk mendaptkan pemupukan yang efektif, pemupukan harus memenuhi persyaratan kuantitatif dan kualitatif. Persyaratan kuantitatif adalah dosis pupuk yang diberikan. Persyaratan kualitatif mencakup 3 hal.

  1. Unsur hara (pupuk) diberikan sesuai dengan kebutuhan tanaman.
  2. Waktu dan penempatan pupuk harus tepat.
  3. Pupuk yang diberikan dapat diserap oleh tanaman.

Apabila pemupukan dapat memenuhi persayaratan seperti di atas, kemungkinan besar hasil pemupukan akan tercapai secara maksimal.

Dalam pemupukan dikenal adanya pemupukan persediaan dan pemupukan susulan. Pemupukan persediaan dilakukan sebelum tanam atau bersamaan dengan penanaman, sedangkan pemupukan susulan diberikan setelah tanam.

Pupuk adalah bahan organik/anorganik yang diberikan pada tanah guna melengkapi unsur hara esensial bagi tanaman atau untuk memperbaiki sifat tanah.

Pupuk Anorganik


Yang termasuk pupuk anorganik adalah Urea, ZA, TSP, KCI, dan ZK pupuk buatan pabrik.

Kebaikan pupuk anorganik, antara lain adalah :

  1. Susunan dan kandungan unsurnya tetap;
  2. Perhitungannya lebih mudah sehingga mudah untuk menetapkan dosis;
  3. Menghemat tenaga.

Keburukan pupuk anorganik adalah:

  1. Apabila terus-menerus dipupuk dengan pupuk anorganik karena sebagian mengandung unsur mikro, tanah akan kekurangan unsur mikro.
  2. Pupuk anorganik sering memberi pengaruh yang kurang baik terhadap keadan fisik tanah (struktur tanah menjadi jelek).
  3. Mikro organisme tanah tidak berkembang dengan baik.
  4. Kesalahan teknis menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya tanaman seperti terbakar.
  5. Pada umumnya pupuk anorganik hanya mengandung 2 unsur makro saja, ada kalanya mengandung 2 unsur atau lebih, seperti pupuk kompond/campuran (NPK).

Pupuk Organik


Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari sisa tanaman atau kotoran hewan yang telah membusuk. Dalam penggunakaan pupuk, lebih tepat apabila petani menggunakan pupuk organik (pupuk kandang, kompos atau pupuk hijau).

Dengan menggunakan pupuk organik, petani dapat memanfaatkan sisa-sisa tanaman, sampah, dan juga kotoran hewan untuk dijadikan pupuk yang baik bagi tanaman dan tanah. Penggunaan pupuk organik selain dapat menambah kekurangan unsur hara yang dibutuhkan tanaman juga dapat memperbaiki struktur tanah (memperbaiki kondisi tanah).

Dengan demikian, tanah yang tadinya padat dan keras akan menjadi gembur. Jenis pupuk organik, di antaranya, adalah pupuk kandang, pupuk kompos, dan pupuk hijau.

Pupuk Kandang


Pupuk kandang adalah pupuk yang terbuat dari kotoran ternak, sisa makanan, atau kotoran bekas alas tidur ternak. Kotoran yang baru keluar dari perut ternak belum dapat digunakan untuk memupuk. Kotoran ternak itu harus ditimbun dahulu selama ± 2 bulan. Setelah itu, dapat digunakan untuk pupuk.

Pupuk Kompos


  • Pupuk kompos adalah pupuk yang berasal dari sisa-sisa tanaman atau rumput-rumputan yang telah membusuk.

Cara pembuatan pupuk kompos adalah sebagai berikut:

  • Sisa-sisa tanaman, sampah atau jerami padi yang telah dipotong-potong ditimbun di tempat yang tidak terkena hujan.
  • Setelah timbunan mencapai ± 50 cm, di atasnya dihamparkan kotoran ternak dan tanah setebal 5-10.
  • Di atas timbunan kotoran ternak dan tanah diberi tumpukan sisa-sisa tanaman lagi setebal 50 cm, kemudian ditaburi kotoran ternak dan tanah setebal 5-10 Pekerjaan ini diulangi sampai tumpukan mencapai tinggi 1,5-2 meter.

Seluruh tumpukan dilapisi dengan tanah. Setelah 2 minggu, tumpukan dibongkar dan dibalik-balik, kemudian ditimbun kembali. Lama pembuatan kompos ini lebih kurang 2 bulan dan setiap 2 minggu sekali dilakukan pembalikan.

Tanda-tandanya kompos yang sudah jadi adalah berwarna kelabu atau cokelat tua dan apabila dipegang sudah tidak panas lagi. Kompos yang demikian itu sudah dapat digunakan.

Pembuatan kompos


Pupuk Hijau


Pupuk hijau adalah pupuk yang bahannya berasal dari bagian-bagian tanaman yang berwarna hijau dan yang dimasukkan ke dalam tanah.

Tanaman pupuk hijau ini pada umumnya berbentuk perdu (semak). Syarat agar tanaman dapat digunakan sebagai pupuk hijau adalah

  • tumbuhnya cepat;
  • produksi daunnya banyak;
  • dapat tumbuh baik pada tanah-tanah yang kurus;
  • batang dan daunnya mudah busuk dan terurai apabila dimasukkan ke dalam tanah;
  • tanaman yang mempunyai bintil-bintil akar.

Contoh tanaman yang baik untuk pupuk hijau, antara lain, adalah orok-orok (Crotalaria juncea), rimusa (mimosa), dan lamtoro (petai cina).

Cara penggunaan pupuk hijau adalah sebagai berikut:

  • Tanaman Crotalaria dan mimosa yang menjelang berbunga serta daun lamtoro yang telah dipotong-potong dimasukkan ke dalam tanah bersamaan dengan pengolahan tanah pertama. Selama lebih kurang 2 minggu, tanaman yang dimasukkan tadi akan hancur menjadi pupuk.

  • Jenis dan dosis pemupukan edamame berbeda-beda, disesuaikan dengan hasil rekomendasi yang diberikan oleh dinas pertanian daerah masing-masing.

  • Tujuan pemupukan adalah memberi atau menambah unsur hara (zat-zat yang dibutuhkan tanaman) pada tanah dan tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara tanaman.

Waktu dan cara pemupukan


  • Pupuk kandang diberikan 7 hari sebelum tanam dengan kedalaman 10-15
  • Pupuk dasar diberikan 3 hari sebelum tanam.
  • Pupuk susulan diberikan apabila dirasa perlu. Pupuk yang digunakan untuk pupuk susulan adalah ZA atau Urea dengan dosis + 200 kg per hektar KCI 200 kg/ha. Cara pemberian pupuk adalah dengan ditugalkan.

Hama dan Penyakit Tanaman


Hama


Hama-hama yang dominan yang menyerang tanaman edamame pada setiap fase per- tumbuhan berbeda. Hal itu dipengaruhi oleh lingkungan yang mendukung hama, seperti cuaca atau ketersediaan makanan hama.

Hama-hama yang dapat menyerang tanaman kedelai, antara lain, sebagai berikut:

  • Lalat Bibit (Ophimyia Phaseoii)

Hama lalat bibit menyerang kedelai pada waktu perkecambahan. Lalat bibit meletak-kan telurnya pada keping biji atau pucuk daun yang masih muda.

Larva (ulat) yang keluar dari telur akan langsung menggerek keping biji atau pucuk daun yang masih muda sambil memakan, lalu masuk ke dalam batang dan dapat merusak kulit batang. Akhirnya, membentuk pupa pada pangkal batang. Akibat serangan itu tanaman akan layu dan apabila serangan parah tanaman akan mati.

  • Ulat Grayak (Prodebia Litura)

Ulat grayak diberi nama grayak karena serangannya dilakukan bersama-sama dalam jumlah yang besar dan secara mendadak.

Ulat-ulat yang baru menetas hidup secara bergerombol dan memakan daun. Setelah besar, ulat-ulat akan berpencar untuk mencari makan dan berpindah dari tanaman satu ke tanaman yang lain.

  • Ulat Polong (Etiela Zinchelta)

Ulat polong pemakan buah yang masih muda. Ulat polong yang baru menetas dari telur akan masuk ke dalam polong dan tinggal di dalamnya hingga besar.

Polong yang terserang memberikan tanda- tanda sebagai berikut:

  • Dalam buah terdapat lubang kecil, karena biji kedelai dimakan, sehingga di dalamnya tinggal ulat dan kotorannya.
  • Waktu buah masih hijau, bagian luar buah berubah warna dan jika dibuka terdapat ulat yang berwarna hijau.

Kumbang Daun Tembikar (Phaedonia Inciusa)

Kumbang daun tembikar berukuran kecil, berwarna hitam, dan di bagian tepi tubuhnya bergaris kuning. Kumbang itu berkembang biak dengan bertelur yang diletakkan di atas daun kedelai. Larva anak kumbang yang baru menetas dan kumbangnya memakan daun sehingga daun berlubang-lubang. Kumbang itu selain merusak daun juga merusak bunga dan polong.

  • Kepik Hijau

Hama kepik hijau menyerang tanaman dengan merusak kulit polong dan biji. Apabila serangan terjadi pada polong muda, biji akan mengkerut dan polongnya gugur. Apabila serangan akan hampa, lalu mengering. Apabila serangan terjadi pada masa pengisian biji, biji akan hitam dan busuk. Apabila polong telah tua, akan terbentuk bintik-bintik hitam pada biji atau kulit biji menjadi keriput.

  • Kutu Daun (Aphis Glycine)

Hama kutu daun berwarna hitam. Kutu daun yang dewasa ada yang bersayap ada yang tidak bersayap. Kutu daun biasanya menyerang tanaman kedelai pada awal pertumbuhan dan pada masa pertumbuhan bunga dan polong. Kutu daun menempel di balik daun dan kuncup tunas.

Penyakit


Penyakit yang sering menyerang tanaman kedelai, antara lain adalah sebagai berikut :

  • Penyakit Layu Bakteri

Penyakit layu bakteri disebabkan oleh bakteri yang menyerang pangkal batang sehingga tanaman menjadi layu mendadak. Penyakit itu menyerang tanaman pada kebun yang kelembabannya tinggi dan tanaman yang jarak tanamannya terlalu rapat. Penyakit layu bakteri menyerang tanaman pada umur 3-4 minggu.

  • Penyakit Layu Jamur/Cendawan Tanah

Penyakit layu jamur menyerang bagian daun sehingga menjadi layu. Selain itu, penyakit layu jamur menyerang tanaman yang jarak tanamannya terlalu rapat dan menyerang tanaman pada umur 3-4 minggu.

  • Penyakit Antraknosa

Penyakit antraknosa menyerang bagian daun dan polong yang telah tua. Bagian yang terserang akan terbentuk bintik-bintik hitam. Polong yang terserang menjadi hampa atau kerdil.

  • Penyakit Busuk Batang

Batang yang terserang penyakit busuk batang akan menguning, kemudian berubah menjadi cokelat dan basah. Lama-kelamaan batang akan membusuk dan mati.

  • Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama dan penyakit tanaman dapat dilakukan dengan 3 cara. Berikut ini akan dikemukakan satu per satu.

  • Pengendalian secara Mekanis

Pengendalian secara mekanis adalah pengendalian dengan cara mengambil dan membunuh hama yang menyerang tanaman satu per satu.

  • Pengendalian secara Biologis

Pengendalian hama secara biologis ini hanya mengandalkan serangan pemakan hama, baik yang dipelihara maupun yang hidup secara liar pada areal penanaman kedelai.

  • Pengendalian secara Kimiawi (Menggunakan Pestisida atau Obat untuk Membasmi Hama dan Penyakit)

Pengendalian secar kimia banyak digunakan karena merupakan cara yang paling efektif, baik untuk pengendalian hama maupun penyakit. Dalam pengendalian  secara kimiawi tanaman yang terserang hama atau penyakit disemprot dengan menggunakan pestisida (obat pembasmi hama dan penyakit).

Penggunaan pestisida berdasarkan pada tingkatan serangan hama atau penyakit yang menyerang tanaman. Cara dan dosis yang dperlukan disesuaikan dengan label yang terdapat dalam kemasan (pembungkus) pestisida yang digunakan.

Panen


Kedelai jepang (edamame) dipanen pada umur 60 – 65 hari. Caranya batang kedelai dipotong, kemudian polong-polong yang ada pada batang dipetik.


Sumber : Buku (Sukamto, B.Sc. / Edamame Kedelai Jepang)
Baca Lengkap
      edit

Thursday, January 26, 2017

Published 8:34 PM by with 0 comment

Panduan Praktis Budidaya Terong

Terdapat banyak ragam terong yang dibudidayakan di Indonesia, mulai dari terong lokal seperti terong gelatik, terong kopek, terong bogor, terong medan hingga terong impor seperti terong Jepang. Bentuk dan warna buah terong cukup beragam ada yang putih, hijau hingga ungu. Bentuknya pun ada yang bulat, lonjong besar, hingga lonjong dengan ujung lancip.
Kondisi tanah ideal untuk budidaya terong adalah tanah lempung berpasir dengan kisaran pH 6,5-7. Terong berproduksi maksimal pada kisaran suhu 22-30oC. Tanaman ini membutuhkan sinar matahari yang cukup, oleh karena itu cocok ditanam pada musim kemarau.
Terong masih satu keluarga dengan cabe, tomat dan kentang. Hama dan penyakit yang biasa menyerang tanaman-tanaman tersebut bisa juga mengganggu budidaya terong. Oleh karena itu dalam melakukan rotasi tanaman, usahakan tidak dengan tanaman-tanaman tersebut.

Penyemaian benih terong

Benih yang baik untuk budidaya terong memilki daya tumbuh di atas 75%. Dengan benih seperti itu, kebutuhan benih untuk satu hektar mencapai 300-500 gram. Sebelum ditanam di lahan terbuka, benih terong sebaiknya disemaikan terlebih dahulu.
Langkah pertama siapkan dulu tempat penyemaian benih. Buat bedengan dengan lebar satu meter dan tinggi 20 cm. Bedengan dibuat dari campuran tanah, arang sekam dan kompos dengan perbandingan 1:1:1. Atau, silahkan baca cara membuat media persemaian. Kemudian berikan naungan terhadap bedengan tersebut.
Rendam benih terong dalam air hangat selama 10-15 menit, kemudian bungkus benih dengan kain basah dan diamkan selama 24 jam. Buat alur berjarak 5-10 cm diatas bedengan untuk menebarkan benih. Kemudian tebarkan benih dan tutup dengan tanah tipis-tipis. Setelah itu, tutup bedengan dengan daun pisang atau karung goni basah. Siram dengan air untuk menjaga kelembaban persemaian.
Setelah 2-3 hari kecambah mulai tumbuh menjadi tanaman, buka daun pisang atau karung goni tersebut. Kemudian siram setiap hari tanaman tersebut. Setelah 10-15 hari, pindahkan bibit tanaman kedalam bumbunan daun pisang atau polybag kecil (9X10 cm), satu polybag satu tanaman. Isi polybag atau bumbunan daun pisang dengan tanah dan kompos, perbandingan 1:1. Silahkan baca cara membuat media tanam polybag.
Sirami tanaman yang ada dalam polybag tersebut setiap hari. Setelah tanaman berumur 1-1,5 bulan atau telah memiliki minimal 4 helai daun, tanaman tersebut siap dipindahkan ke lahan terbuka.

Pengolahan tanah dan penanaman

Lahan untuk budidaya terong dicangkul atau dibajak dengan kedalaman 30 cm. Bersihkan tanah dari gulma dan kerikil. Bentuk bedengan dengan lebar 1 meter tinggi 30 cm dan panjang disesuaikan dengan bentuk lahan. Jarak antar bedengan 40 cm.
Gunakan pupuk organik sebagai pupuk dasar, bisa berupa kompos atau pupuk kandang sebanyak 15 ton per hektar. Taburkan di atas bedengan dan aduk hingga merata. Budidaya terong menghendaki tingkat keasaman tanah sekitar pH 5-6. Apabila pH kurang dari 5 tambahkan kapur pertanian atau dolomit sebanyak 1-2 ton per hektar satu minggu sebelum tanam.
Buat lubang tanam secara berbaris, satu bedengan sebanyak dua baris. Jarak tanam antar lubang tanam 60 cm dan jarak antar baris 70 cm. Lebar lubang dan kedalaman disesuaikan dengan ukuran polybag bibit.
Sebelum bibit dipindahkan, siram bedengan dengan air. Tanaman terong cenderung tidak tahan dengan kekeringan. Pindahkan bibit tanaman satu lubang diisi satu bibit tanaman. Hati-hati dalam memindahkan tanaman, jaga agar akar tanamah tidak putus atau rusak.

Perawatan budidaya terong

Lakukan penyulaman tanaman setelah satu minggu. Cabut tanaman yang terlihat layu atau tidak sehat dan pertumbuhannya abnormal. Pencabutan dilakukan beserta media tumbuhnya. Ganti dengan bibit baru.
Pemupukan tambahan dilakukan mulai dari 2 minggu setelah bibit ditanam. Untuk budidaya terong non-organik berikan pupuk urea dengan dosis 80 kg/ha dan KCl 45 Kg/ha. Sedangkan untuk budidaya terong organik berikan pupuk kompos atau pupuk kandang, masing-masing satu kepal atau kira-kira 0,5 kg per tanaman.
Ulangi pemberian pupuk susulan pada minggu ke-5 dan ke-7 setelah bibit ditanam. Sambil memberikan pupuk susulan, siangi gulma yang terdapat dalam bedengan tanaman. Bersihkan juga semak belukar yang terdapat disekitar area tanaman.
Pemasangan ajir atau bilah bambu untuk menopang tanaman dilakukan setelah tanaman berumur 3 minggu. Penancapan ajir hendaknya berjarak 5-7 cm dari pangkal batang. Jangan sampai penancapan ajir melukai akar tanaman. Ikat tanaman pada ajir dengan tali rafia.
Apabila tidak turun hujan penyiraman hendaknya dilakukan setiap tiga hari sampai tanaman berbunga. Setelah tanaman berbunga, tingkatkan frekuensinya hingga dua hari sekali.

Panen budidaya terong

Panen pertama usaha budidaya terong biasanya dilakukan setelah 70-80 hari sejak bibit ditanam. Selanjutnya, panen dilakukan setiap 3-7 hari sekali. Dalam satu kali musim tanam, bia mencapai 13-15 kali panen, bahkan bisa lebih.
Waktu yang tepat untuk panen adalah pagi dan sore hari. Buah dipetik dengan tangkainya, buah terung tidak tahan lama. Oleh karena itu harus segera dipasarkan begitu selesai panen. Sortasi untuk budidaya terong dilakukan berdasarkan ukuran dan warna buah.
Sumber: http://alamtani.com/
Baca Lengkap
      edit
Published 8:30 PM by with 0 comment

Panduan Teknis Budidaya Tomat

Tomat (Lycopersicon esculentum L.) merupakan tanaman asli dari Amerika Tengah dan Selatan. Tanaman ini idealnya ditanam pada kisaran suhu 20-27oC dengan curah hujan sekitar 750-1250 mg per tahun. Secara umum tomat dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 0-1500 m dpl.
Dewasa ini terdapat lebih dari 400 varietas tomat yang ditanam secara global. Ada varietas yang hanya cocok di dataran tinggi seperti berlian, mutiara dan kada. Ada yang cocok di dataran rendah seperti varietas intan, ratna dan CLN. Ada juga yang bisa ditanam baik di dataran tinggi maupun rendah, seperti GH2 dan GH4.

Memilih benih tomat

Untuk memilih jenis tomat yang akan ditanam hendaknya sesuaikan dahulu dengan karateristik lokasi. Apabila kebun Anda berada di dataran tinggi pilihlah varietas yang cocok untuk dataran tinggi begitu juga sebaliknya.
Benih tomat bisa didapatkan dengan mudah diberbagai toko penyedia saprotan. Apabila Anda sulit mendapatkannya atau harganya terlalu mahal, kita bisa membuatnya sendiri. Caranya dengan menyeleksi buah tomat yang paling baik dari segi ukuran (besar) dan bentuk (tidak cacat).
Langahnya sebagai berikut, pilih buah tomat yang akan dijadikan benih. Kemudian biarkan buah tomat tersebut menua di pohon. Setelah cukup tua ambil bijinya dan bersihkan dari lendir yang menyelubunginya dengan air. Setelah itu rendam dalam air, pilih biji yang tenggelam. Kemudian lakukan seleksi sekali lagi terhadap biji tomat, pilih yang bentuknya sempurna (tidak cacat atau keriput). Setelah itu keringkan dengan dijemur dan simpan dalam wadah yang kering dan steril.

Penyemaian benih tomat

Sebelum ditanam secara luas, benih tomat sebaiknya disemaikan dahulu sampai memiliki daun dan batang yang cukup kuat. Penyemaian hendaknya dilakukan di atas media yang terpisah dengan penanaman masal. Lihat cara membuat media persemaian untuk tanaman hortikultura.
Untuk budidaya tomat, sebaiknya pilih media persemaian dengan ploybag. Hal ini untuk mengurangi resiko tanaman stres ketika dipindahkan. Namun persemaian polybag ini biayanya relatif lebih mahal. Apabila Anda memilih persemaian bedeng, hendaknya hati-hati saat mencabut dan memindahkan bibit. Lamanya penyemaian sampai tanaman siap dipindahkan sekitar 35-40 hari.
Tips untuk persemaian bedengan, buat larikan (garis) diatas media persemaian dengan jarak antar larik 5 cm dan kedalaman larik 1 cm. Kemudian taburkan benih dalam larikan, jangan sampai bertumpuk-tumpuk, sebaiknya jarak antar benih 2-3 cm. Kemudian tutup larikan dengan tanah dan siram secukupnya. Metode pemindahanbisa dilakukan dengan dua cara. Pertama dengan pencabutan, sebelum benih dicabut siram dengan air untuk melunakan media sehingga akar tidak putus ketika ditarik. Kedua, cara putar yaitu mengambil tanaman dengan tanah disekitarnya.
Tips untuk persemaian polybag/pot, setelah media persemaian dibuat lubangi permukaanya sedalam 1 cm. Kemudian bubuhkan biji tomat satu butir untuk setiap polybag, tutup dengan media tanam. Cara memindahkannya adalah dengan merobek atau melepas polybag/pot. Lalu masukkan tanaman beserta tanah yang terdapat di polybag/pot kedalam lubang tanam.

Pengolahan tanah

Tomat tumbuh baik pada tingkat keasaman tanah pH 5,5-7. Apabila tanah terlalu asam (<5,5), tambahkan dolomit atau kapur pertanian. Manfaat pengapuran selain menaikan pH tanah juga untuk memperbaiki struktur tanah. Dosisnya harus disesuaikan dengan tingkat pH tanah masing-masing.
Bajak atau cangkul tanah hingga gembur kemudian bentuk bedengan dengan ketinggian 30 cm, lebar 1 meter dan pajang mengikuti kontur lahan. Buat jarak antar bedeng selebar 30-40 cm. Kemudian diamkan tanah kira-kira satu minggu.
Setelah itu, berikan pupuk dasar berupa pupuk organik seperti pupuk kandang atau pupuk kompos sebanyak 20 ton per hektar. Aduk hingga merata diatas bedengan. Untuk memperkaya kandungan fosfor bisa ditambahkan pupuk TSP secukupnya (kira-kira 5 gram per tanaman). Untuk budidaya tomat organik, jangan ditambahkan pupuk kimia tapi pupuk dasar harus lebih banyak, kira-kira 30-40 ton per hektar.
Kemudian tutup bedengan dengan mulsa plastik, penutupan dengan mulsa sangat berguna terutama pada musim kemarau. Mulsa plastik berguna untuk mempertahankan kelembaban tanah, mengendalikan gulma dan agar buah tomat tetap bersih tidak menyentuh tanah. Biarkan kembali tanah selama satu minggu sebelum ditanami.

Penanaman bibit tomat

Pertama-tama buat lubang tanam pada mulsa dengan diameter 5-7 cm. Dalam satu bedengan terdapat dua lajur lubang tanam, jarak antar lajur sebesar 70-80 cm dan jarak antar lubang dalam satu lajur 40-50 cm, kedalaman lubang tanam kira-kira 5-7 cm.
Setelah itu masukkan bibit siap tanam. Untuk bibit yang disemai dalam polybag atau pot, lepas terlebih dahulu wadahnya lalu masukkan semua media tanam tanpa mencabut akar tanaman. Kemudian tutup dan ratakan dengan tanah sekitar. Untuk bibit yang ditanam di persemaian bedeng, masukkan tanaman kemudian timbun dengan tanah bekas galian lubang. Ratakan dan siram dengan air untuk menjaga kelembabannya.

Pemeliharaan dan perawatan

Tanaman tomat cukup sensitif dan perlu perawatan yang intensif. Tanaman ini sangat rentan terhadap hama dan penyakit, terutama yang ditanam di dataran rendah. Setelah pemanenan, resiko kerusakan buah tomat masih tinggi sekitar 20-50%. Berikut beberapa perawatan penting apabila kita hendak melakukan budidaya tomat.

a. Penyulaman

Penyulaman berfungsi untuk mengganti tanaman yang gagal tumbuh, baik sakit atau rebah karena cuaca. Penyulaman dilakukan setelah seminggu tomat ditanam. Cabut tanaman yang terlihat tidak sehat (kuning/layu) atau mati. Ganti dengan bibit sisa penyemaian.

b. Penyiangan

Penyiangan dalam budidaya tomat biasanya dilakukan 3-4 kali selama musim tanam. Pada areal tanam yang ditutup mulsa penyiangan bisa lebih jarang lagi. Penyiangan bertujuan untuk mengangkat gulma yang ada di areal tanam. Pertumbuhan gulma akan menganggu tanaman, karena tanaman harus bersaing dalam mendapatkan nutrisi. Selain itu gulma juga mengundang hama dan penyakit yang bisa menyerang tanaman utama.

c. Pemangkasan

Pemangkasan pada tanaman tomat dilakukan setiap minggu. Pemangkasan tunas yang tumbuh pada ketiak daun harus segera agar tidak tumbuh menjadi batang. Pemangkasan tunas muda bisa dilakukan dengan tangan. Namun apabila batang sudah terlalu keras, sebaiknya gunakan pisau atau gunting. Untuk mengatur ketinggian tanaman tomat, ujung tanaman bisa dipotong. Pemotongan ujung tanaman dilakukan setelah terlihat jumlah dompolan buah sekitar 5-7 buah.

d. Pemupukan tambahan

Pada budidaya tomat organik, semprotkan pupuk organik cair yang mempunyai kandungan kalium tinggi pada saat tanaman akan berbunga dan berbuah (fase generatif). Penyemprotan bisa dilakukan setiap minggu. Harus diperhatikan, pupuk organik cair harus diencerkan terlebih dahulu, 1 liter pupuk cair dengan 100 liter air. Penting untuk dicatat, konsentrasi pupuk organik cair tidak boleh melebihi 2%. Selain itu, kita bisa menambahkan pupuk kandang atau kompos setelah tanaman berumur 2-3 minggu dengan dosis satu gengam tangan per tanaman.
Untuk budidaya tomat non-organik, pada usia satu minggu berikan campuran urea dan KCl dengan perbandingan 1:1 sebanyak 1-2 gram per tanaman. Kemudian setelah umur 2-3 minggu berikan kembali urea dan KCl sebanyak 5 gram per tanaman. Bila pada umur lebih dari 4 minggu tanaman masih terlihat kurang gizi berikan urea dan KCl sebanyak 7 garm per tanaman. Perhatikan, pemberian urea dan KCl jangan sampai mengenai tanaman karena bisa melukai tanaman tersebut. Berikan jarak 5-7 cm dari tanaman.

e. Penyiraman dan pengairan

Tanaman tomat tidak terlalu banyak membutuhkan air, namun jangan sampai kekurangan. Kelebihan air dalam budidaya tomat membuat pertumbuhan vegetatif (daun dan batang) yang subur tetapi akan menghambat fase generatif. Sebaliknya, kekuranga air yang berkepanjangan bisa menyebabkan pecah-pecah pada buah tomat yang dihasilkan.
Kekeringan yang panjang bisa menyebabkan kerontokan bunga. Penyiraman hendaknya disesuaikan dengan kondisi cuaca. Bila curah hujan cukup relatif tidak perlu lagi penyiraman. Justru yang harus diperbaiki adalah saluran drainase agar air tidak menggenang disekitar areat tanaman. Pada musim kemarau, penyiraman bisa dilakukan pada pagi hari. Cegah jangan sampai tanah retak-retak kekeringan.

f. Pemasangan lenjeran

Pemasangan lenjeran atau ajir bertujuan sebagai tempat mengikatkan tanaman agar tidak roboh. Lenjeran dibuat dari bambu sepanjang 1,5-2 meter. Lenjeran ditancapkan pada jarak sekitar 10-20 cm dari tanaman. Lenjeran bisa dibiarkan tegak mandiri atau ujungnya diikatkan dengan lenjeran lain yang berdekatan. Pengikatan ujung berguna untuk memperkokoh posisi lenjeran.
Pemasangan lenjeran hendaknya sedini mungkin untuk mencegah luka pada akar tanaman akibat penancapan. Tanaman yang masih kecil akarnya belum menyebar kemana-mana sehingga kemungkinan tertancap kecil. Luka pada akar yang diakibatkan tusukan lenjeran bisa menghambat pertumbuhan dan mengundang penyakit.
Pemasangan lenjeran dilakukan setelah tinggi tanaman berkisar 10-15 cm. Ikatkan tanaman tomat dengan tali plastik pada lenjeran. Model ikatan sebaiknya berbentuk angka 8 agar batang tomat tidak terluka karena bergesekan dengan tiang lenjeran. Ikatan hendaknya jangan terlalu kuat agar tidak menghambat pembesaran batang. Setelah itu, setiap tanaman bertambah tinggi 20 cm ikatkan batang tanaman dengan tali plastik pada lenjeran.

Pengendalian hama dan penyakit

Beberapa jenis hama dan penyakit yang kerap menyerang budidaya tomat antara lain, ulat buah, kutu daun thrips, lalat putih, lalat buah, tungau, nematoda, penyakit layu, bercak daun, penyakit kapang daun, bercak coklat, busuk daun dan busuk buah. Apabila serangannya menggila, hama dan penyakit tersebut bisa disemprot dengan pestisida. Penggunaan pestisida harus bijak, sesuaikan dengan lingkungan sekitar (para petani lain), riwayat penyemprotan dan ikuti petunjuk/dosis penggunaan. Apabila tomat yang akan diproduksi ditujukan untuk pasar organik, hendaknya menggunakan pestisida yang alami. Silahkan lihat cara membuat pestisida organik.
Hama dan penyakit pada budidaya tomat tidak bisa diberantas dengan hanya mengandalkan pestisida saja. Karena manfaat pestisida hanya sementara dan jangka pendek. Selebihnya serangan hama dan penyakit akan tetap datang dan kemungkinan akan lebih resisten. Menaikan dosis penggunaan pestisida mungkin efektif tapi akan menimbulkan efek lingkungan yang buruk dan juga menaikan biaya produksi. Kalau pun harus menggunakan pestisida sebaiknya berganti-ganti merek dengan bahan aktif berbeda.
Untuk menanggulangi hama dan penyakit secara menyeluruh gunakan prinsip-prinsip pengendalian hama terpadu (PHT). Penerapan PHT harus dilakukan secara berkesinambungan. Adapun variabel-variabel yang harus diperhatikan antara lain pemilihan bibit unggul atau varietas yang cocok, benih bebas penyakit, pemberian pupuk berimbang, rotasi tanaman, memanfaatkan predator alami, memanfaatkan tanaman pengusir hama dan terakhir penyemprotan pestisida baik kimia sintetis maupun alami.

Pemanenan budidaya tomat

Budidaya tomat baru bisa dipanen 60-100 hari setelah tanam, tergantung dari varietasnya. Penentuan waktu panen berdasarkan umur tanaman kadang kala tidak efektif. Sebaiknya gunakan pengamatan fisik terhadap tanaman. Tanaman tomat sudah dikatakan siap panen apabila kulit buah berubah dari hijau menjadi kekuning-kuningan, bagian tepi daun menguning dan bagian batang mengering.
Pemetikan hendaknya dilakukan di pagi atau sore hari karena pada siang hari tanaman masih melakukan fotosintesis. Pada keadaan demikian penguapan sedang tingi-tingginya sehingga buah tomat yang dipetik akan cepat layu. Pemanenan bisa dilakukan setiap 2-3 hari sekali. Di Indonesia produktivitas tanaman tomat secara rata-rata mencapai 15,84 ton per hektar. Namun untuk varietas tertentu dan didaerah-daerah tertentu bisa mencapai 25-30 ton per hektar.
Sumber: http://alamtani.com/
Baca Lengkap
      edit