Showing posts with label Wisata. Show all posts
Showing posts with label Wisata. Show all posts

Saturday, January 21, 2017

Published 2:57 AM by with 0 comment

Buku Inspirasi Perjalanan

Berikut ini buku-buku tentang perjalanan yang berhasil memikat dan menginspirasi para pejalan untuk memulai langkah mereka untuk menjelajah.
Buku Inspirasi PerjalananAda banyak buku tentang perjalanan yang bisa menginspirasi Anda untuk melakukan penjelajahan. (Ben White/Unsplash.com)
Inspirasi perjalanan bisa datang dari mana saja, termasuk dari buku-buku yang merekam kisah penjelajahan para pejalan. Beberapa waktu lalu, kami menyapa Kawan Traveler melalui akun Twitter @NGTravelerID dan berbincang tentang buku perjalanan yang menginspirasi untuk melakukan perjalanan. Buku apa saja yang menjadi favorit Kawan Traveler? Yuk simak rangkumannya berikut ini!
Buku The Green Traveler karya Wiwik Mahdayani menjadi inspirasi bagi @trainveller. “Deskripsi tentang taman nasional (TN) di Indonesia lengkap banget!” katanya. Setelah membaca buku tersebut, Ia pun terinspirasi menjelajah berbagai taman nasional di Indonesia. Sejauh ini, @trainveller telah menyambangi TN Meru Betiri, TN Bromo-Tengger-Semeru, TN Baluran, TN Manusela, TN Karimun Jawa, TN Kepulauan Seribu.
Selain itu, ia juga menggemari buku Traveler's Tale karya Adhitya Mulya dkk. “Empat sudut pandang dan cerita tentang empat benua berbeda. Bikin pengen kesana!” ujarnya.
Sedangkan @andrie_tann menggemari buku Life Traveler karya Windy Ariestanty. “Bukunya nggak cuma memberi petunjuk untuk traveling tapi juga arti hidup,” katanya.
Buku yang sama juga berhasil memikat @gitajunn. Menurutnya, Life Traveler mengajarkannya tentang berbagai hal sepele tapi penting, mulai cara berkemas, memilih kendaraan umum untuk jalan-jalan, tips jalan-jalan kilat untuk menghabiskan waktu transit, dan beragam tips ajaib lainnya. “Buku ini juga yang ‘mengajak’ saya untuk mencoba keliling Asia Tenggara, mulai dari Malaysia sampai Vietnam.”
Sementara kawan @riizkychuk dan @DikkiBayuAji sepakat bahwa serial The Naked Traveler karya Trinity berhasil membuat hasrat traveling mereka menggelembung.
“Banyak pengalaman seru yang bisa bikin ikut ngakak, ada info destinasi baru, bahasa penulisannya sederhana. Buku ini ‘meracuni’ saya untuk traveling,” ujar @riizkychuk.
Ketiga buku karya Agustinus Wibowo yang berjudul Selimut Debu, Titik Nol, dan Garis Batas, menjadi favorit @maydaisti. “Semuanya bagus. Perjalanannya menegangkan dan seru. Cerita dari tiap buku punya suasana yang beda, jadi suka!”
Tampaknya, pejalan sekaligus penulis yang akrab disapa Gus Weng ini berhasil menghanyutkan para pembaca dalam cerita-cerita perjalanannya menjelajah negeri-negeri nun jauh dan tak terduga.
Tidak hanya @maydaisti yang menggemari Gus Weng, tapi juga kawan @earlynnzzz. Menurutnya, catatan perjalanan Agustinus Wibowo dalam buku Titik Nol mengisahkan sebuah perjalanan yang begitu sarat makna dan filosofi. “Mimpi ke Nepal makin besar setelah baca buku ini!” ungkapnya.

(Lutfi Fauziah)
Baca Lengkap
      edit
Published 2:55 AM by with 0 comment

Rupa Rasa di Timur Tapal Kuda

Banyuwangi dikenal memiliki berbagai kuliner dengan cita rasa yang sangat beragam dan sulit dilupakan lidah.
Rupa Rasa di Timur Tapal KudaPerahu nelayan di pesisir Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur. (Yavuz Sariyildiz/Thinkstock)
Banyuwangi dikenal pula dengan berbagai kuliner yang unik. Untuk sarapan di pagi hari ada sega janganan (sega cawuk). Siang atau malam hari variasinya lebih beragam. Mulai dari yang orisinal sampai percampuran coba-coba yang akhirnya malah menjadi menu tersendiri yang nikmat, seperti rujak soto atau pecel. Tidak seperti di bagian Jawa lainnya, makanan Banyuwangi umumnya cenderung asin, asam, dan pedas.
Saya berkunjung di dua tempat yang menyajikan menu khas Banyuwangi: Sega Tempong, Pindang Koyong, dan Pecel Pitik plus Uyah Asem. Sega Tempong Mbok Wah di Bakungan, sebelah barat kota Banyuwangi. Desa ini juga tempat ritual adat Seblang yang ditarikan oleh perempuan yang sudah berumur 70-80 tahunan pada malam setelah Hari Raya Idul Adha. Pelanggan tinggal antre untuk pesan.
Sego Tempong (Nasi Tampar) berasal dari pedasnya sambal yang disajikan. Ciri khas sambalnya adalah menggunakan ranti (tomat mawar) yang terasa agak asam, dan disajikan di atas sayuran rebus, terong welut (yang kecil-kecil sebesar jari dan rasanya manis), bayam dan irisan timun segar. Lauknya tinggal kita pilih sendiri, biasanya ikan laut goreng, ayam goreng, udang, atau cumi. Di tempat Mbok Wah disediakan juga Pindang Koyong ikan. Pindang Koyong biasanya kepala ikan Kue, tapi di sini disajikan irisan daging ikan segar.
Sego Tempong (Nasi Tampar) berasal dari pedasnya sambal yang disajikan. Ciri khas sambalnya adalah menggunakan ranti (tomat mawar) yang terasa agak asam, dan disajikan di atas sayuran rebus, terong welut.
Kemiren yang terletak sekitar empat kilometer di sebelah barat kota menyimpan banyak keunikan kuliner Banyuwangi. Selain menjadi “ibukota kopi” tempat diseleggarakannya acara tahunan Festival Ngopi 10.000, juga rumah dari pohon induk Durian Merah. Pada acara-acara ritual, selalu ditampilkan makanan khas: Pecel Pitik.
Tidak seperti pemahaman umumnya, pecel di Kemiren bukanlah sambal bumbu kacang yang dihaluskan. Pitik atau ayam kampung “dipethetheng” (posisi kaki, dada sayang terbentang dari kanan ke kiri), kemudian dibakar. Setelahnya disuwir-suwir kasar dicampur parutan kelapa muda yang sudah dibumbui. Biasanya disajikan dengan potongan timun.
Dalam hari-hari biasa, sulit mendapatkan Pecel Pitik. Untungnya sekarang ada Pesantogan Kemangi (Pesantogan berarti tempat pemberhentian). Dikelola oleh karang taruna setempat dan Bumdes, warung ini menempati tiga buah Umah Tikel, rumah khas orang Using. Nasi dan Pecel Pitik disajikan terbungkus daun pisang, sehingga aroma segar daun yang tersentuh panas nasi. Saya jamin selera kita berlipat ganda.
Menu lain yang khas adalah Uyah Asem Pitik. Ada juga yang menyebut Kesrut. Ayam kampung yang dimasak berkuah pedas dan asam. Segar. Pesantogan Kemangi menyediakan juga camilan tradisional seperti pisang go­reng, kue cucur, atau jenang bedhil, diuntungkan dengan tempatnya yang persis di jalan raya Kemiren, tempat lalu lalang turis. Tempat parkirnya lumayan besar, dan suasana tradisionalnya apabila senja datang sangat romantis. Oya, Pesantogan Kemangi adalah salah satu tempat makan yang menyediakan kopi asli racikan Banyuwangi. Mereka juga menyediakan kopi asli tersebut dalam merek Jaran Goyang.
Lalu ada cafe D’Cinnamon di belakang Rumah Sakit Yasmin. Berada di tengah kebun, D'Cinnamon menyajikan kopi dan penganan. Sangat cocok untuk mengobrol sembari menikmati kudapan dan kopi Banyuwangi asli.  Keunikan tersaji di depan mata. 

(Antariksawan Jusuf)
Baca Lengkap
      edit
Published 2:54 AM by with 0 comment

Kota Candu Bersiap Menuju World Travel and Tourism Council 2017

Lasem memiliki tinggalan hasil akulturasi beragam budaya. Bingkai sejarah budaya ini merupakan salah satu kekuatan perkembangan Kota Candu tersebut.
Kota Candu Bersiap Menuju World Travel and Tourism Council 2017Rumah berarsitektur Hindia dengan pilar megah, Tiongkok Kecil Heritage. Rumah ini milik Rudy Hartono. Sejak Lasem bergairah mengembangkan wisata, Rudy membukanya untuk pejalan yang ingin bermalam dengan suasana pecinan lawas. (Feri latief/National Geographic Indonesia)
Teras kediaman H.M. Zaim Ahmad Ma’shoem, yang kerap disapa Gus Zaim, tampak berpendar. Lampion-lampion menyala-nyala di atas karpet lesehan. Lepas magrib, rumah bergaya Cina-Hindia itu didatangi tamu-tamu undangan  dari perwakilan warga, komunitas pelestarian dan wisata di Lasem.
Acara itu digelar pada 6 November malam di rumah Guz Zaim, yang ber­ada di kompleks Pondok Pesantren Kauman, Lasem. Sejatinya, para pemuka dan warga sungguh merindukan kembalinya semangat kebersamaan dan gotong-royong di Lasem.
“Acara ini kami gagas karena perkembangan  Lasem ke arah pariwisata dan pelestarian sudah sangat pesat," ujar  Lasem yang punya banyak pusaka ini memerlukan peran aktif komunitas untuk bergerak bersama, bergotong royong, dan malam ini saya harap kita dapat merumuskan tujuan bersama,” ujar Gus Zaim.
Gerbang rumah 'Tiongkok Kecil ...Gerbang rumah 'Tiongkok Kecil Heritage' yang bergaya Fujian. (Feri Latief/National Geographic Traveler))
Jagongan Pusaka Lasem dihadiri pengurus klenteng se-Lasem, komunitas pesantren, Pemuda Ansor, ulama, pemilik bangunan kuno, penggiat kesenian, pengusaha batik Lasem. Juga, komunitas pelesetarian pusaka seperti Bhre Lasem, Rembang Heritage So­ciety, Lasem Creative Heritage Society, Pusaka Lasem, Padepokan Sambua, Dasun Heritage Society, Karang Taruna Ira Adhimukti Desa Ngemplak, Srawung Soditan, hingga Lasem Fest.
Lasem memiliki sejumlah julukan seperti Kota Candu, Corong Candu, Kota Santri, Kota Batik, Kota Wayang Pesisir, Kota Garam, dan Tiongkok Kecil. Kota kecamatan di Kabupaten Rembang ini memiliki kebudayaan berlapis, yang bermula dari prasejarah, Hindu dan Buddha, Islam, Cina, hingga kolonial. Lasem memiliki tinggalan hasil akulturasi beragam budaya. Bingkai sejarah budaya ini merupakan salah satu kekuatan perkembangan Lasem.
Acara Jagongan Pusaka Lasem ...Acara Jagongan Pusaka Lasem digelar di kediaman Gus Zaim yang berlanggam Cina-Hindia abad ke-19. Mereka bersepakat membangun Lasem sebagai kota wisata berbasis pelestarian yang akan menonjolkan komunitas sebagai pelaku utamanya. (Agni Malagina)
Baskoro dari Rembang Heritage Society menyatakan, "Pengembangan wisata Lasem harus berbasis pelesta­rian. Manusia-manusia pelestarinya harus mendapat perhatian, seperti tukang tempe yang sudah tiga generasi beroperasi, anak-anak muda Dasun yang setiap hari menyiram bibit tanaman di pantai untuk mencegah abrasi.”
Para pemuka masyarakat sepakat bahwa Lasem akan menjadi kota wisata berbasis pelestarian yang akan menonjolkan komunitas sebagai pelaku utama­nya. Idealnya, jejaring komunitas dapat bersinergi dan saling memberdayakan.
"Pengembangan wisata Lasem harus berbasis pelesta­rian. Manusia-manusia pelestarinya harus mendapat perhatian, seperti tukang tempe yang sudah tiga generasi beroperasi, anak-anak muda Dasun yang setiap hari menyiram bibit tanaman di pantai untuk mencegah abrasi.”
Jelang acara, National Geographic Indonesia mengirimkan kabar kepada perwakilan komunitas setempat me­ngenai rencana keikutsertaan Lasem pada lomba pariwisata internasional World Travel and Tourism Council (WTTC) 2017 untuk kategori Destination Award. Kementerian Pariwisata telah menunjuk Lasem untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pemerintah daerah pun telah berkomitmen mendukung upaya program ini.
“Kita sepakat turut serta WTTC ya! Ini momen penting bagi komunitas untuk bekerja sama. Pusaka Lasem, pejuang pelestari, dan komitmen pemerintah dari daerah sampai pusat bergerak untuk memajukan Lasem,” ujar Gus Zaim saat menutup  Jagongan Pusaka Lasem.
Sejak malam itu jalan panjang pelestarian mulai terbentang. Mereka berharap dapat bersinergi untuk melindungi kawasan pusaka Lasem. Kiranya, cita-cita mulia akan terwujud apabila komunitas, pemerintah, dan swasta menyatukan gairah bersama untuk melestarikan budaya Lasem.

(Agni Malagina, pemerhati budaya Cina dari FIB-UI)
Baca Lengkap
      edit
Published 2:52 AM by with 0 comment

Dua Petualang yang Menjelajah Bumi dengan Kursi Roda

Dua petualang yang harus menjalani hidup di atas kursi roda ini meyakini bahwa keterbatasan fisik bukanlah alasan untuk menyerah dan berhenti menjelajah.
Dua Petualang yang Menjelajah Bumi dengan Kursi RodaMaciej Kaminski (kiri) dan Michal Woroch menyesuaikan Land Rover Defender untuk perjalanan epik mereka. (Rafal Maslow via National Geographic)
Tampaknya ide gila: dua orang duduk di kursi roda memulai perjalanan sejauh 16.000 kilometer melintasi Eropa. Tapi, pada tahun 2012, dua pria asal Polandia, Maciej Kaminski, seorang pemain poker, dan Michal Woroch, seorang desainer grafis dan fotografer, menyingkirkan segala perasaan was-was dan memulai perjalanan seumur hidup.
Mereka mengalami banyak hambatan. Kendaraan mereka pernah terjebak di pasir, diserang dan dirampok. Pada saat mereka kembali ke Polandia pada akhir perjalanan mereka, mereka kecanduan menjelajah dan siap untuk tantangan yang lebih besar.
Selama dua setengah tahun terakhir, Kaminski, 31, dan Woroch, 32, yang tinggal di desa kecil Otloczyn di Polandia tengah, meneliti kemungkinan suatu penjelajahan yang lebih besar: perjalanan melalui Amerika Selatan.
Pasangan ini memenangkan Andrzej Zawada Award, hibah Polandia untuk penjelajah muda, untuk membiayai perjalanan mereka. Keduanya dibekali dengan mobil Land Rover Defender keluaran 1996 yang dilengkapi dengan dapur, pemanas, transmisi otomatis, dan peralatan yang memungkinkan mereka untuk mengontrol pedal gas dan rem dengan tangan. Mereka juga memasang dua lift, satu untuk membantu mereka keluar masuk mobil dan yang lain untuk membantu mereka mencapai tenda tidur di atap mobil.
Bulan ini, pasangan penjelajah itu terbang dari Polandia ke Buenos Aires, kemudian menjemput mobil mereka yang menyeberangi lautan dengan kapal barang. Keduanya siap memulai perjalanan yang akan berlangsung selama satu tahun. Saat ini mereka sedang mengarah ke selatan menuju Cape Horn dan Tierra Del Fuego, lantas berbelok ke utara mengikuti pantai Pasifik melalui Argentina, Cili, Bolivia, dan Peru. Mereka berencana untuk melintasi Darién Gap, Panama, melaju melewati Amerika Latin, dan akhirnya mencapai Washington, D.C.
Sepanjang perjalanan, mereka berencana untuk mengunjungi dukun Amazon yang dipercaya dapat menyembuhkan atrofi otot tulang belakang yang diderita Woroch dan kelumpuhan yang dialami Kaminski akibat penghapusan tumor tulang belakang.
“Sejauh yang saya ingat, pada setiap perjalanan utama, saya bertemu dengan orang-orang yang ingin menyembuhkan saya,” kata Woroch.
“Mari kita lihat apa yang akan terjadi. Ini perjalanan yang besar, liar dan terbuka,” ujarnya.
Land Rover itu dibongkar dari ...Land Rover itu dibongkar dari kontainer pengiriman di Buenos Aires pada tanggal 15 November 2016. (Michal Woroch)
Berikut ini petikan wawancara National Geographic dengan Michal Woroch (MW) dan Maciej Kaminski.
Bagaimana kalian memulai perjalanan?
MW: Perjalanan melintasi Eropa adalah ekspedisi pertama kami bersama-sama. Sebelumnya, teman-teman saya yang mengajak saya pada perjalanan mereka untuk membuat saya berhenti berpikir bahwa kecacatan adalah akhir dunia. Mengingat hal itu kembali, saya sangat berterima kasih kepada mereka karena telah menunjukkan kepada saya bahwa seseorang dapat hidup secara berbeda. Ini mengajarkan saya bahwa kita sering menciptakan pembatasan untuk diri kita sendiri. Tentu saja, berpikir positif tidak akan menghapus kesulitan yang berhubungan dengan perjalanan di kursi roda. Untuk perjalanan ini, saya belajar bahwa hasrat untuk mengeksplorasi dunia baru lebih penting dan dapat mengatasi kerasnya perjalanan; upaya ini hanya unsur ekspedisi, bukan halangan.
Bisakah Anda memberikan gambaran pada kami, bagaimana rasanya melakukan perjalanan di atas kursi roda?
MK: Bepergian di kursi roda membutuhkan banyak kesabaran. Kita harus belajar bagaimana untuk menunggu. Jika ada langkah yang tidak bisa dilakukan sendiri, Anda harus bersabar dan tidak frustrasi. Kadang-kadang, perlu untuk meminta bantuan, dan di 99 dari seratus kasus, Anda menerima bantuan tersebut.
Contoh dari situasi semacam ini terjadi pada kami dua hari yang lalu. Sebelum naik pesawat dari Buenos Aires, kami mendapati bahwa maskapai mengharuskan orang-orang cacat untuk memiliki pengasuh untuk mendampingi dan membantu selama penerbangan, yang tentu saja tidak kami miliki. Dalam satu jam sebelum penerbangan, kami mencari orang yang juga hendak terbang ke Buenos Aires dan bersedia menjadi wali kami. Untungnya, kami berhasil menemukan pasangan muda yang setuju untuk melakukan hal itu. Orang sering membantu kami, dan cerita dari bandara tersebut tampaknya mengkonfirmasi hal ini.
Apa tantangan yang pernah Anda hadapi dan harus diatasi selama melakukan perjalanan dengan keterbatasan fisik?
MW: Proses internal berpikir positif dimulai ketika saya sedang mempersiapkan sebuah ekspedisi ke Mongolia pada tahun 2008. Sebelum perjalanan, saya tahu sebelumnya bahwa akan ada bentangan jalan yang hanya bisa ditempuh menggunakan kuda. Tujuan dari proyek ini adalah untuk membuat sebuah film dokumenter tentang Tsaatan, kelompok nomad penangkaran rusa di pegunungan utara.  Untuk mencapainya, dibutuhkan waktu tiga hari berkuda naik dari Danau Tsagaan. Setelah beberapa pelajaran, saya terus mendengar dari instruktur berkuda saya tentang hal yang sama, berulang-ulang, bahwa tidak mungkin untuk bertahan hidup di atas kuda selama lebih dari satu jam dengan kondisi kesehatan saya. Terlepas dari semua itu, saya merancang tali kekang khusus sehingga saya bisa mengamankan diri di pelana dan berkuda selama tiga hari  melalui rawa-rawa sungai, hutan, dan bukit-bukit. Pengalaman yang mengajarkan saya bahwa berpikir kreatif dan tekad memberdayakan kita untuk menjangkau untuk impian terbesar.
Apa hal yang Anda harapkan untuk dilihat dalam perjalanan kali ini?
MW: Ekspedisi ini bukan tentang atraksi untuk melihat dan menetapkan tujuan. Pertama-tama, ini adalah tentang mengalami pergerakan terus menerus, menyatu dengan keheningan lanskap dan suara mesin mobil. Ini tentang melewati jarak jauh, sampai ke sana, dan kembali ke rumah. Ini tentang mengenal orang lain dan memahami satu sama lain. Perjalanan ini juga tentang kursi roda dan bagaimana berdamai dengan kecacatan kami, dengan tubuh kami sendiri dan membersihkan pikiran kami.
Michal Woroch dan Maciej ...Michal Woroch dan Maciej Kaminski (kanan, di kursi pengemudi) mengemudikan Land Rover mereka di jalan negara di Polandia. (Magda Woroch)
Apa tantangan terbesar yang harus Anda antisipasi dalam perjalanan ini?
MW: Bagi saya pribadi, tantangan terbesarnya adalah ketinggian. Saya bertanya-tanya bagaimana tubuh saya akan mengatasi penyakit ketinggian.
MK: Cobaan akan menunggu kami sepanjang waktu. Kami harus menghindari bahkan kesalahan sekecil apapun dalam penanganan Land Rover kami dan peralatan yang terpasang di atasnya. Ada banyak derek, tali, dan kerekan. Cedera salah satu dari kami akan berarti akhir dari petualangan. Pada ekspedisi sebelumnya kami diserang dan kamera kami. Melihat kembali situasi ini, saya akan mengatakan bahwa kami harus lebih waspada. Senjata terbesar kami di Amerika Selatan ialah firasat, intuisi, dan antisipasi. Kami harus menjaga mata dan telinga  terbuka lebar.
Apa tujuan utama Anda dalam perjalanan ini?
MK: Ini adalah pertanyaan yang sulit. Tujuannya mungkin untuk melintasi rute dengan aman dan nyenyak, untuk bertemu orang-orang, yang dari mereka, saya bisa belajar sesuatu. Mungkin beberapa orang yang mengikuti tindakan kita akan berpikir tentang penderitaan fisik yang menyertai ekspedisi dan mengevaluasi kehidupan sehari-hari mereka sendiri, yang  terlalu banyak mengeluh dan tidak cukup sukacita.
MW: Sejauh ini, saya tidak punya harapan yang berhubungan dengan ekspedisi. Hal ini banyak ditentukan dengan spesifikasi dari kehidupan kita, atau yang terbatas di kursi roda. Dari pengalaman pribadi, saya tahu bahwa lebih baik menjalani hidup daripada menghabiskan energi menyesali bagaimana seharusnya kehidupan ini. Tujuannya, adalah perjalanan itu sendiri, di tanah maupun di dalam diri saya sendiri. Apa yang ingin saya sampaikan kepada orang lain dari perjalanan ini adalah,  mendorong orang untuk mulai hidup dan bukan hanya melewati waktu.

(Lutfi Fauziah. Sumber: Kate Siber/National Geographic)
Baca Lengkap
      edit
Published 2:51 AM by with 0 comment

Perjumpaan di Stasiun Kereta Listrik Pertama Hindia Belanda

Bersama begawan sejarah menyaksikan riwayat si ular besi yang melenggak-lenggok selama satu setengah abad di negeri ini.
Perjumpaan di Stasiun Kereta Listrik Pertama Hindia BelandaLangit-langit peron nan megah di Stasiun Tanjungpriuk, yang dibangun 1914-1925 ketika Eropa melintasi masa Perang Dunia Pertama. Stasiun ini menggantikan stasiun lama yang dibangun lebih dahulu di sisi utaranya pada 1885. Salah satu cagar budaya penanda peradaban Jakarta ini masih lestari dan terawat. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Traveler)
“Ini adalah foto kedatangan rombongan Jenderal Soedirman dalam kaitannya pasca-Perundingan Linggarjati,” ujar Rusdhy Hoesein menunjuk sebuah foto yang dipamerkan di aula utama Stasiun Tanjungpriuk. “Jenderal Soedirman didampingi Mayor Jenderal Abdulkadir tiba di Stasiun Manggarai pada bulan November 1946.”
Dia melanjutkan bercerita, kedatangan mereka berkaitan dengan konferensi garis pertahanan antara pihak Indonesia dengan pihak Belanda. Jadi, imbuhnya, ketika Jakarta diduduki oleh Sekutu, kemudian oleh Belanda, banyak orang Republik yang terjebak. Mereka tidak sudi untuk berada di wilayah pendudukan Belanda.
“Bagaimana mereka diangkut ke dalam Republik?” tanyanya dengan gaya retorik. “Diangkut kereta api atas biaya pemerintah—tidak bayar!”
Rusdhy menarasikan sederet foto-foto terkait kereta pada masa revolusi Indonesia. Jelang Pertempuran 10 November, ujarnya sambil menunjuk sebingkai foto, banyak sekali pejuang yang datang dari luar Surabaya. Mereka menunggu di stasiun-stasiun di jawa Timur untuk diangkut ke Surabaya.
Foto lain bercerita tentang masa Bersiap, ketika Republik Indonesia bekerja sama dengan serdadu Sekutu untuk mengangkut tentara Jepang pulang ke negerinya pada April 1946. Tampak Tentara Keamanan Rakyat turut berjaga-jaga.
Pintu masuk utama menampilkan ...Pintu masuk utama menampilkan semangat arsitektur awal abad ke-20, yang menjargonkan keserhanaan sebagai jalan terdekat menuju keindahan. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Traveler)
Kedatangan serdadu Sekutu di Stasiun Bekasi pada 1946 juga tak luput diabadikan dalam foto. Sebuah foto mengabadikan dinding Stasiun Bekasi yang penuh coretan semangat juang—Indonesia Merdeka, Merdeka atau Mati, dan sebagainya. Masih terkait peristiwa itu, pada September 1946, sejumlah bekas tawanan Jepang  tiba di Bekasi. Mereka dikawal Tentara Keamanan Rakyat dan diangkut dengan kereta api. Bahkan, terpajang juga foto yang mengabadikan Bung Karno berkeliling Jawa dengan Kereta Api Luar Biasa ketika Indonesia masih belia. Tampaknya, riwayat kereta api begitu dekat dengan tapak perjuangan negeri ini.
“Bagaimana mereka diangkut ke dalam Republik?” tanyanya dengan gaya retorik. “Diangkut kereta api atas biaya pemerintah—tidak bayar!”
Rusdhy, yang kerap berompi, dikenal sebagai dokter dan sejarawan. Siang itu dia menjelaskan tentang foto-foto yang dipamerkan dalam "Pesta Peron Stasiun Tanjung Priok 2016” yang digelar oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) pada pertengahan November. Acara ini dihadiri oleh komunitas pencinta sejarah dan pencinta kereta. 
Keberadaan stasiun ini tidak terlepas dari lokasi Pelabuhan Tanjungpriuk sebagai pintu gerbang Kota Batavia pada akhir abad ke-19. Stasiun yang kami kunjungi ini mulai dibangun dalam pemerintahan Gubernur Jendral Alexander Willem Frederik Idenburg  pada 1914. Bersamaan dengan perayaan setengah abad Staatsspoorwegen beroperasi di Hindia Belanda pada 6 April 1925, stasiun ini pun diresmikan. Sang arsitek, C.W. Koch, menampilkan semangat rasionalisme dalam balutan selimut art-deco nan megah. Inilah tengara arsitektur awal abad ke-20.
 
Rusdhy HoeseinRusdhy Hoesein, seorang dokter dan sejarawan yang kini berusia 71 tahun, tengah menarasikan foto-foto peristiwa yang terkait kereta api pada awal kemerdekaan Republik ini. "Pesta Peron Stasiun Tanjung Priok 2016” yang digelar oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) pada pertengahan November. Acara ini dihadiri oleh komunitas pencinta sejarah Sahabat Museum dan berbagai komunitas pencinta kereta. 
(Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Traveler)

Namun, kabarnya, bangunan itu menggantikan stasiun lama yang dibangun pada 1885. Tapak stasiun lama itu berada di sisi utara Stasiun Tanjungpriuk yang sekarang. Alasan utama pembangunan stasiun baru adalah kepadatan penumpang dan kesibukan bongkar muat pelabuhan yang kian meningkat hingga awal abad baru.
Stasiun Tanjungpriuk merupakan stasiun pertama yang melayani kereta listrik. Saat peresmiannya, lokomotif listrik ESS-3200 melaju dengan kereta penumpang yang menempuh rute Tanjungpriuk-Meester Cornelis. Ada dua rute utama, lewat Kemayoran dan lewat Koningsplein—sekarang kawasan Istana Merdeka.
Boleh dikata, inilah stasiun pertama yang melayani kereta listrik yang menjadi cikal bakal Commuterline kebanggaan warga Jakarta dan sekitarnya pada saat ini. Lewat penelusuran sejarah, apakah kita akan merayakaan Hari Kereta Listrik setiap April?  

Poster Poster "Memori Kereta Api", terbit di majalah National Geographic Traveler edisi Oktober 2010, yang menampilkan wajah Stasiun Tanjungpriuk. (National Geographic Traveler)

Di depan enam jalur rel, saya kembali menjumpai Rusdhy. Saya menunjuk tulisan di topi yang dikenakannya sambil berujar, "No History No Future". Saya bertanya kepadanya, "Apa sih yang bisa kita pelajari dari sejarah kereta api di Indonesia?"
Dia tersenyum, lalu menjawab pertanyaan saya. Di Asia, ujarnya, sejarah kereta api Indonesia memiliki riwayat tertua setelah India. Tampaknya, semasa kolonial pun orang sudah berpikir bahwa pada suatu hari jalan raya tidak akan mampu menampung begitu banyaknya kendaraan.
Mungkin saat itu para kolonialis telah memiliki pandangan jauh ke depan, setidaknya pembangunan angkutan kereta api di Hindia Belanda sangat menguntungkan secara ekonomi. “Jadi pemerintah kolonial sudah berpikir bagaimana pengangkutan murah, efektif, dan bisa melibatkan banyak sekali sistem lain yang akan tentunya membuka lapangan pekerjaan baru,” ujarnya. “Itu Fakta!”
Ada delapan peron lengkap ...Ada delapan peron lengkap dengan pagar pembatas semasa. Stasiun Tanjungpriuk setiap hari melayani enam kali perjalanan ke Stasiun Jakarta Kota. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Traveler)
Suatu hari pada 1864, Gubernur Jenderal Ludolph Anne Jan Wilt Baron Sloet van De Beele melakukan pencangkulan pertama untuk pembangunan rel kereta api rute Kemijen–Tanggung. Pembangunan rel ini mendapat pengawasan dari J.P. de Bordes dari Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM).  Akhirnya, NISM meresmikan jalur kereta api Semarang–Tanggung sejauh 25 kilometer pada 10 Agustus 1867. Inilah peristiwa bersejarah ketika untuk pertama kalinya roda-roda kereta uap menggelinding di Hindia Belanda.
“Jadi pemerintah kolonial sudah berpikir bagaimana pengangkutan murah, efektif, dan bisa melibatkan banyak sekali sistem lain yang akan tentunya membuka lapangan pekerjaan baru,” ujarnya. “Itu Fakta!”
Namun, penawaran investasi kepada pihak swasta ternyata berakhir dengan kerugian pihak swasta, ujar Rusdhy. NISM tak kuasa menanggung semuanya. Tampaknya investasi di Hindia Belanda tidak selalu mulus seperti di Eropa. Akhirnya, pemerintah membuat sendiri Staatsspoorwegen untuk kepentingan penanganan masalah keamanan dan pertahanan—termasuk untuk memadamklan pemberontakan.
“Mengangkut tentara itu paling efektif dengan kereta api,” ujarnya. “Makanya, kalau di Jawa utamanya untuk ekonomi, pertanian, dan perdagangan, di Sumatra kereta api betul-betul untuk perlawanan terhadap para perusuh.”
Arus modal telah membuat wajah Hindia Belanda berubah. Investor besar membangun jalan kereta api, sementara investor lain membangun trem. Rusdhy mengingatkan bahwa  kereta api dan trem  mempekerjakan buruh yang begitu banyak di berbagai bidang. Kereta api menjelma sebagai salah sektor angkutan padat karya.
“Di negeri mana pun organisasi buruh rawan terlibat masalah politik,” ujarnya. “PKI lahirnya dari organisasi buruh kereta api dan trem di Semarang.”
Tangga melingkar yang ...Tangga melingkar yang menghubungkan lantai dasar, yang kini telah terendam air laut, hingga lantai di atap Stasiun Tanjungpriuk. Tangga ini digunakan oleh awak stasiun, bukan oleh penumpang kereta. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Traveler)
“Kenapa sejarah kereta api begitu penting?” Rusdhy kembali menyodorkan pertanyaan retoris. “Karena cara memaknainya itulah letak pentingnya.” Kemudian dia menambahkan, “Masa kereta api uap sudah terbukti bahwasanya kereta api itu menguntungkan, terutama bagi rakyat kecil.”
Rusdhy menunjuk atap Stasiun Tanjungpriuk yang melengkung megah. Kendati pembangunannya bersamaan dengan kecamuk Perang Dunia Pertama di Eropa, seluruh rangka besi dan porselennya diimpor dari Eropa. Pagar-pagar yang membatasi kawasan peron pun masih orisinal.
"Jadi saya pikir," ujarnya, "menapaki masa lalu itu sungguh penting. Hanya mereka yang bisa memahami masa lalu, yang akan meraih masa depan!" Menurutnya, masa lalu turut menjadi bagian budaya kita, sehingga berbanggalah kita sebagai manusia Indonesia yang masih memiliki budaya. "Seyogyianya, perhatian kita ke masa-masa yang akan datang,  jangan sampai menghapus sejarah."
Di atap stasiun, para pejalan ...Di atap stasiun, para pejalan bisa berfoto dengan latar belakang peti-peti kemas di Pelabuhan Tanjungpriuk. Pada awalnya, stasiun ini dibangun karena kesibukan pelabuhan. Namun, lantaran kini akses ke pelabuhan dapat ditempuh dengan berbagai moda angkutan, stasiun ini seolah tenggelam dalam gelumat kota. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Traveler)
Kami memasuki aula berlangit-langit tinggi, yang dihubungkan oleh beberapa pintu. Ruangan ini memiliki semacam meja resepsionis layaknya hotel. Di sebelahnya terdapat ruangan lagi dengan pilar-pilar. Setiap sisi pilarnya tertambat meja gantung, mungkin digunakan untuk menulis berkas pendek.  
Selain sebagai stasiun kereta, dahulu bangunan ini juga merangkap sebagai penginapan. Setelah lelah mengarungi samudra, para pejalan bisa beristirahat di penginapan Stasiun Tanjungpriuk sembari menanti keberangkatan mereka ke Stasiun Bogor, atau tujuan lain. Sederet kamar penginapan berlokasi di lorong kantai kedua pada sayap barat stasiun, hingga kini masih lestari. Deretan kamar itu dihubungkan oleh dua anak tangga di setiap ujungnya.
Kami memasuki kamar kecil yang terletak di balik aula tadi. Tiga urinoar porselen putih berlabel “R.S.Stokvis & Zonen – Rotterdam” warna biru masih memukau perhatian. Bisnis perusahaan yang didirikan Rafael Samuel Stokvis ini sohor melayani kebutuhan kendaraan bermotor, sepeda, hingga urusan peturasan.
“Budaya keramik ini pernah menyemarakkan pembangunan Kota Jakarta,” ujar Rusdhy sambil menunjuk lantai kamar kecil yang menampilkan paduan pola nan indah. "Gaya-gaya seperti inilah yang mewakili awal abad ke-20."
Sejak bersolek kembali sejak ...Sejak bersolek kembali sejak pascarevitaslisasi pada 2009, stasiun ini menerbitkan minat penghobi fotografiâ€"dan model jelita. Langit-langit stasiun ini kerap disebut-sebut sebagai kembaran Stasiun Amsterdam Centraal di Belanda. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Traveler)
Di balik kamar kecil, dari tangga sempit yang melingkar, kami naik hingga atap stasiun. Sudah barang tentu, dahulu tangga ini hanya digunakan oleh awak stasiun, bukan tetamu. Tangga itu juga menghubungkan dengan ruangan lantai dasar stasiun yang kini dibiarkan gelap gulita dan terbanjiri air. Menaiknya muka laut, mengingatkan kita tentang bencana ambles dan tenggelamnya Jakarta.
"Jadi saya pikir," ujarnya, "menapaki masa lalu itu sungguh penting. Hanya mereka yang bisa memahami masa lalu, yang akan meraih masa depan!"
Di atap Stasiun Tanjungpriuk, saya memandangi kesibukan derek yang memindahkan peti kemas di pelabuhan. Kesibukan yang pernah menandai kemunculan stasiun ini pada abad akhir ke-19. 
Kita telah berkereta satu setengah abad. Apa yang bisa kita petik dari riwayat kereta api untuk masa depan Indonesia? Saya teringat perkataan Rusdhy bahwa andaikata perkerataapian di Indonesia bisa dibangun hingga sepuluh tahun mendatang, kelak hasilnya sangat berdampak pada kemajuan transportasi di Indonesia.
Kereta boleh jadi transportasi paling murah. Sekarang, kereta api lebih sehat dan aman ketimbang kereta pada satu dekade silam. Stasiun-stasiun juga bersolek sehingga membuat nyaman penumpang, kendati belum semuanya bisa dikategorikan nyaman. Tampaknya, ada penanda peradaban baru dalam berkereta listrik di Indonesia: tersedianya tempat duduk prioritas bagi penumpang berkebutuhan khusus dan tak ada lagi penumpang di atap kereta. Untuk segelintir persoalan di metropolitan, tampaknya kereta telah mengubah budaya transportasi kita. 
Pintu masuk utama Stasiun ...Pintu masuk utama Stasiun Tanjungpriuk, yang menghadap ke terminal bus dan angkutan kota lainnya. Satu-satunya kawasan di Jakarta yang menautkan angkutan kapal, kendaraan bermotor, dan kereta api! Kendati telah satu setengah abad melenggak-lenggok di Indonesia, peran kereta masih aktual sebagai moda angkutan kota dan antarkota. Kini, perlu kesungguhan tekad negeri ini untuk merevitalisasi jalur kereta (di Jawa, Sumatra, dan Sulawesi) dan membangun jalur kereta baru di kawasan lainnya. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Traveler)
Salah satu upaya membangkitkan kembali semangat berkereta sebagai solusi transportasi zaman kini, menurut Rusdhy, adalah merevitalisasi aset-aset kereta api kita. Upaya utamanya, meruwat jalur-jalur rel kereta yang hilang di Jawa, Madura, Sumatra, dan Sulawesi. Mungkin, panjang rel yang tak lagi digunakan, atau bahkan hilang, mencapai ribuan kilometer.
“Dulu di Madura ada kereta api, di Sulawesi ada kereta api, kenapa sekarang hilang?” Kemudian Rusdhy  menandaskan, “Jadi bangsa kita, abis menjebol, lupa membangun!”
Baca Lengkap
      edit
Published 2:48 AM by with 0 comment

Quokka, Marsupial Khas Australia Barat nan Lucu dan Menggemaskan

Quokka amat ramah terhadap manusia, marsupial ini bahkan dijuluki sebagai hewan paling bahagia di dunia, karena kerap tampak tersenyum ketika diajak berswafoto.
Quokka, Marsupial Khas Australia Barat nan Lucu dan MenggemaskanDi Pulau Rottnest, Australia Barat, tak kurang dari 15 ribu quokka beranak pinak. (Tourism of Western Australia)
Tahukah Anda, di Australia Barat ada satwa lucu yang hanya bisa ditemui di kawasan ini? Ya, satwa bernama quokka ini, memang penghuni asli beberapa wilayah Australia Barat, seperti Pulau Rottnest, Pulau Bald dan sedikit di kawasan daratan.
Populasi quokka terbanyak, berada di Pulau Rottnest. Di pulau yang terletak 18 kilometer dari kota tua Fremantle ini, tak kurang dari 15 ribu quokka beranak pinak. Satwa marsupial ini sangat ramahterhadap manusia, bahkan pengunjung Pulau Rottnest bisa mengajaknya untuk berswafoto! Seakan tak mau mengecewakan setiap pengunjung, mereka pun senantiasa tersenyum di setiap kesempatan foto-foto. Karena terlihat selalu tersenyum ketika diajak berswafoto oleh para pengunjung, tak heran jika quokka dijuluki sebagai hewan paling bahagia di dunia.
Karena terlihat selalu ...Karena terlihat selalu tersenyum ketika diajak berswafoto oleh para pengunjung, tak heran jika quokka dijuluki sebagai hewan paling bahagia di dunia. (Tourism of Western Australia)
Mamalia kecil ini adalah herbivora yang hidup berkelompok dan memiliki pejantan pelindung yang dominan di setiap kelompoknya. Mereka hidup di hamparan rerumputan yang tinggi di atas tanah dan dekat dengan sumber air. Meski mereka hidup di atas tanah, quokka ini ternyata bisa memanjat lho!
Quokka biasanya mencari makan di malam hari karena mereka merupakan satwa nokturnal. Mereka biasanya makan dedaunan, kulit pohon serta rerumputan. Sebuah studi menemukan bahwa tanaman berbunga dari genus Guichenotia merupakan salah satu makanan favorit quokka. Jika kondisi alam dilanda kemarau panjang, quokka bisa bertahan cukup lama tanpa makanan atau air karena menyimpan lemak di ekor mereka.
Satwa marsupial ini sangat ...Satwa marsupial ini sangat ramah terhadap manusia, bahkan pengunjung Pulau Rottnest bisa mengajaknya untuk berswafoto! (Tourism of Western Australia)
Sama seperti kanguru, quokka juga berkembang biak dengan beranak. Di daratan Australia Barat, quokka bisa berkembang biak sepanjang tahun, namun di Pulau Rottnest mereka hanya bisa berkembang biak antara bulan Januari hingga Agustus. Masa kehamilan quokka hanya satu bulan, dan bayi yang disebut joey ini selanjutnya akan tinggal di kantung sang ibu selama enam bulan. Induk quokka bisa melahirkan dua kali dalam setahun.
Quokka biasanya mencari makan ...Quokka biasanya mencari makan di malam hari karena mereka merupakan satwa nokturnal. (Tourism of Western Australia)
Selepas enam bulan, anak quokka sudah bisa meninggalkan kantung ibunya, namun ia masih bergantung pada air susu ibunya hingga dua bulan ke depan. Quokka bisa mulai beranak pinak saat usianya satu setengah tahun. Usia quokka di alam liar bisa mencapai sepuluh tahun.
Satwa khas Australia Barat ini termasuk satwa yang dilindungi, karena populasinya yang sedikit. Dalam Daftar Merah IUCN, status konservasi quokka masuk dalam kategori rentan (vulnerable). Predator yang mengancam keberlangsungan kehidupan quokka adalah rubah, anjing liar dan kucing-kucing di daratan utama, namun di Pulau Rottnest ancaman justru datang dari manusia. Mamalia kecil ini, juga rentan terhadap penyakit otot, sebuah penyakit yang melemahkan dan merusak otot.
Bersepeda di Pulau Rottnest. Bersepeda di Pulau Rottnest. (Tourism of Western Australia)
Untuk menjaga kelangsungan hidup quokka, Pemerintah Australia Barat melindungi mamalia unik ini dengan peraturan hukum. Para pengunjung di Pulau Rottnest dilarang untuk memberi makan quokka, sebab mengkonsumsi makanan manusia dapat berbahaya bagi kesehatan hewan satu ini, karena dapat menyebabkan dehidrasi dan malnutrisi. Selain itu, pengunjung juga dilarang membuang sampah di pulau ini agar tidak dimakan oleh para quokka. 

(Tourism Western Australia)
Baca Lengkap
      edit
Published 2:48 AM by with 0 comment

Menjelajah Sisi Lain Hong Kong Melalui Kegiatan Olahraga Outdoor

Tak hanya menawarkan kemegahan kota dan beragam pusat perbelanjaan, Hong Kong juga memiliki area yang menjadi pusat berbagai kegiatan outdoor.
Menjelajah Sisi Lain Hong Kong Melalui Kegiatan Olahraga OutdoorTak hanya menawarkan kemegahan kota dan beragam pusat perbelanjaan, Hong Kong juga memiliki area yang menjadi pusat berbagai kegiatan outdoor. (Hong Kong Tourism Board)
Hong Kong selama ini dikenal sebagai destinasi wisata yang menawarkan kemegahan kota dan berbagai pusat perbelaanjaan. Tetapi jangan salah, kota ini juga ramah bagi para pecinta kegiatan olahraga outdoor. Hong Kong memiliki beberapa area yang menjadi pusat berbagai kegiatan olahraga outdoor, yaitu Cheung Chau, Stanley dan Nam Sang Wai. Ketiga tempat ini dapat menjadi alternatif baru bagi para pelancong yang hendak berlibur ke Hong Kong.
Mendaki perbukitan dan menjelajah Gua Cheung Po Tsai di Cheung Chau
Cheung Chau adalah pulau kecil dengan bentuk memanjang. Nama Cheung Chau sendiri dalam Bahasa Kanton artinya pulau panjang. Pulau ini dihiasi oleh bukit-bukit di bagian ujung utara dan selatan. Sedangkan pada bagian tengahnya terdapat pemukiman penduduk yang telah menghuni pulau ini lebih lama dari penduduk di tempat manapun di wilayah Hong Kong.
Pengunjung dapat melakukan pendakian di wilayah perbukitan Cheung Chau melewati beberapa tempat unik yang memiliki cerita-cerita menarik, seperti Kuil Cheung Chau yang didirikan sekitar 200 tahun lalu. Kuil ini didirikan sebagai penghormatan kepada Pak Tai yang dikenal sebagai dewa laut Tao atau sebagai Adikaisar di Surga Utara atau Surga Misterius. Dalam kuil ini terdapat ukiran kayu berlapis emas yang berasal dari Dinasti Qing (1644-1911) dan sebuah pedang besi Dinasti Song (960-1279). Pada bagian atap kuil terdapat ukiran naga yang merupakan arsitektur China klasik. Kuil ini juga merupakan pusat festival selama Festival Bakpao yang diadakan pada hari kedelapan bulan keempat kalender Tionghoa.
Tujuan pendakian selanjutnya adalah gua yang dipercaya sebagai tempat persembunyian Cheung Po Tsai, seorang bajak laut tangguh di kawasan Laut Cina Selatan pada akhir abad ke-18. Gua Cheung Po Tsai merupakan salah salah satu tempat persembunyian bajak laut yang karakternya pernah hadir dalam film The Pirates of Carribean : The World End sebagai Sao Feng yang diperankan oleh aktor kawakan Hong Kong, Chow Yun-fat. Untuk memasuki area gua yang gelap disarankan membawa headlamp atau senter dan peralatan pengaman lainnya. 
Merasakan kembali pengalaman seorang bajak laut juga dapat dilakukan dengan mendayung kano di pantai yang berada di sekitar wilayah Cheung Chau. Pantai ini juga menjadi tempat yang ideal untuk bermain selancar angin.
Para pecinta kuliner bisa mencicipi beragam panganan khas setempat di area Pak She Praya Road yang menghadirkan berbagai restoran dengan pilihan menu seafood segar hasil tangkapan nelayan lokal. Ah Sun’s Kitchen adalah salah satu restoran yang wajib dicoba karena restoran ini masuk dalam daftar Top 10 Seafood Restoran. Anda juga bisa memilih menu seafood yang ingin dimasak.
Para pecinta kuliner bisa ...Para pecinta kuliner bisa mencicipi beragam panganan khas setempat di area Pak She Praya Road yang menghadirkan berbagai restoran dengan pilihan menu seafood segar hasil tangkapan nelayan lokal. (Hong Kong Tourism Board)
Untuk mencapai Cheung Chau, perjalanan dari pusat kota Hong Kong ditempuh dengan menggunakan kapal feri dari Dermaga Central Pier 5. Setiap 30 menit ada feri yang berangkat, bergantian antara feri biasa dan feri cepat. Untuk feri biasa tarifnya sebesar 16,80 dolar Hong Kong (sekitar Rp 28.000,-) dengan lama perjalanan  1 jam. Sedangkan untuk feri cepat tarifnya sebesar 22,50 dolar Hong Kong (sekitar Rp 37.500,-) dengan waktu tempuh 45 menit. Biasanya tiap hari Minggu, jadwal feri akan bertambah dan tarifnya sedikit lebih tinggi.
Menjajal beragam olahraga air di Stanley
Stanley terkenal dengan pantainya yang menjadi salah satu pantai terindah di Hong Kong. HK Aqua Bond Center merupakan pusat kegiatan di Stanley yang menawarkan berbagai kegiatan olahraga air seperti wake-boarding, stand-up paddle boarding dan kayaking. Bagi yang mau mencoba olahraga ini harus bisa berenang di laut dengan jarak minimal 50 meter dan dalam kondisi tubuh yang fit.
Selain mengunjungi Stanley Main Beach, pengunjung juga bisa menikmati pantai lainnya seperti St. Stephen Beach yang berada di bagian barat Stanley Main Beach. Di Stanley Water Front Mart terdapat aneka kafe, pub, bar dan restoran yang menyajikan berbagai jenis makanan dan minuman. Anda yang ingin berbelanja, bisa mampir di Stanley Market yang menjual aneka souvenir dengan harga terjangkau. Cenderamata yang dijajakan antara lain pakaian, sepatu, barang antik, karya seni dan mainan yang merupakan perpaduan gaya kebudayaan barat dan timur.
HK Aqua Bond Center merupakan ...HK Aqua Bond Center merupakan pusat kegiatan di Stanley yang menawarkan berbagai kegiatan olahraga air seperti wake-boarding, stand-up paddle boarding dan kayaking. (Hong Kong Tourism Board)
Untuk menuju kawasan Stanley, perjalanan dapat ditempuh dengan menggunakan bus atau MRT. Kita dapat menggunakan Bus 6, 6A, 6X, 66 atau 260 dari Exchange Square bus ujung (dekat MTR Hong Kong Station, Exit D). Atau dari Stasiun Bay Causeway MTR, Exit F1. Berjalan ke Jardine Bazaar dan kemudian mengambil minibus 40. Dapat juga menggunakan Bus 973 dari Kanton Road di Tsim Sha Tsui luar Silvercord Centre.
Bersepeda santai di Nam Sang Wai
Nam Sang Wai merupakan daerah basah di Utara Yuen Long, Hong Kong. Kawasan ini terletak di daerah segitiga berbatasan dengan Shan Pui River dan dipisahkan dari Yuen Long Industrial Estate. Nam Sang Wai menjadi rumah bagi sejumlah besar burung dan bebek. Tempat ini kerap menarik banyak pengamat burung, pengendara sepeda, fotografer, dan kru film  untuk datang menikmati pemandangan dan tingkah hewan-hewan lucu itu. Selain itu, tempat ini juga sangat cocok untuk mengadakan kegiatan piknik.
Biasanya ketika menjelajahi Nam Sang Wai, wisatawan kerap berkeliling dengan mengendarai sepeda untuk menjelajahi Nam Sang Wai Road dan juga mengelilingi jalanan Nam Sang Wai. Wisatawan dapat bersepeda di sepanjang tepi Shan Pui River sambil menikmati pemandangan alam. Wisatawan bisa mencapai Nam Sang Wai melalui MTR di Yuen Long Station dan Yuen Long Centre Bus.
Titik Awal eksplorasi diawali di Jalan Nam Sang Wai dengan menelusuri tepi Sungai Shan Pui dan menikmati pemandangan yang masih hijau alami. Bersepeda akan membuat perjalanan eksplorasi terasa lebih nikmat dan leluasa.  Setelah menempuh jarak beberapa kilometer, Anda akan berhadapan dengan sungai yang lebih besar yaitu Sungai Kam Tin. Kedua muara sungai ini merupakan tempat yang sangat baik untuk mengamati berbagai burung, termasuk burung migrant. Tidak hanya itu, terdapat juga satwa liar di kawasan lahan basah Nam Sang Wai termasuk kepiting biola, spesies khas yang cukup unik.
Di sepanjang jalan, Anda akan menyaksikan barisan pohon-pohon karet “river red” yang cukup tinggi. Pastikan Anda mengambil foto di sini, karena pemandangannya sangat instagramable. Berkunjung ke wilayah Nam Sang Wai sangat cocok apabila Anda sekalian membawa bekal untuk piknik. Dengan begitu, setelah mengeksplorasi tempat, Anda bisa memakan bekal sembari menikmati pemandangan.

(Sumber: Hong Kong Board Tourism)
Baca Lengkap
      edit
Published 2:44 AM by with 0 comment

Indonesia Raih 12 Penghargaan Bergengsi di Ajang The World Halal Tourism Awards 2016

Keberhasilan Indonesia meraih 12 penghargaan dari 16 kategori diharapkan bisa meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia
Indonesia Raih 12 Penghargaan Bergengsi di Ajang The World Halal Tourism Awards 2016Ibu Rosnani, 57 tahun, seorang pandai sikek atau penenun kain songket di Nagari Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar Sumatra Barat. Sejak berumur 15 tahun ia sudah mulai menenun kain songket. Selembar kain songket butuh waktu pengerjaan antara 20-45 hari. (Feri Latief)
Penghargaan paling bergengsi untuk pariwisata halal dunia, World Halal Tourism Awards 2016 telah diumumkan. Pengumuman pemenang dilakukan di Abu Dhabi, Selasa (7/12/2016). 

Indonesia berhasil menyabet 12 kategori dari 16 kategori yang diperebutkan dalam penghargaan ini. "12 penghargaan dari World Halal Tourism Awards untuk Bangsa Pemenang," ujar Menteri Pariwisata Republik Indonesia Arief Yahya. 

World Halal Tourism Awards 2016 ini merupakan ajang bagi pelaku industri yang bergelut dalam penyediaan barang ataupun jasa untuk pariwisata halal. Penghargaan ini menjadi salah satu tolak ukur bagi industri pariwisata halal dunia. 

"Kemenangan dalam penghargaan World Halam Tourism Awards ini penting. Inilah salah satu bentuk penerapan rumus 3C, yakni calibration, confidence, dan credibility," ujar Arief Yahya. "Kita harus mengkalibrasi atau mengukur apakah yang kita lakukan (untuk kemajuan pariwisata Indonesia) sudah pada jalur yang benar sesuai dengan standar dunia. Selanjutnya kemenangan ini akan meningkatkan self confidence, rasa percaya diri bangsa ini akan semakin kuat. Tentunya kemenangan ini bisa meningkatkan kredibilitas bangsa Indonesia di mata dunia," menanggapi kemenangan Indonesia dalam ajang ini. 

Adapun penghargaan yang diterima Indonesia adalah sebagai berikut:
1. World’s Best Airline for Halal Travellers (Garuda Indonesia)
2. World’s Best Airport for Halal Travellers (Sultan Iskandar Muda Internasional Airport, Aceh)
3. World’s Best Family Friendly Hotel (The Rhadana Kuta, Bali)
4. World’s Most Luxurious Family Friendly Hotel (The Trans Luxury Bandung)
5. World’s Best Halal Beach Resort (Novotel Lombok Resort and Villas)
6. World’s Best Halal Tour Operator (ERO Tours Sumatera Barat)
7. World’s Best Halal Travel Website (www.wonderfullomboksumbawa.com)
8. World’s Best Halal Honeymoon Destination (Sembalun Valley Region, Nusa Tenggara Barat)
9. World’s Best Hajj & Umrah Operator (ESQ Tours and Travel)
10. World’s Best Halal Destination (Sumatera Barat)
11. World’s Best Halal Culinary (Sumatera Barat)
12. World’s Best Halal Cultural Destination (Aceh)

Dalam upaya meningkatkan angka kunjungan wisatawan mancanegara setiap tahun—hingga mencapai angka 20 juta turis pada 2019, tentunya kememangan ini bisa menjadi salah satu cara untuk mendatangkan para wisatawan mancanegara ke Tanah Air. Selamat Indonesia!

(Yunaidi/National Geographic Indonesia)
Baca Lengkap
      edit
Published 2:43 AM by with 0 comment

10 Aplikasi Travel yang Perlu Anda Ketahui

Berikut Aplikasi yang dapat membantu Anda memudahkan kegiatan traveling Anda.
10 Aplikasi Travel yang Perlu Anda KetahuiIlustrasi. (Thinkstock)
Aplikasi dalam gawai dapat membantu para pejalan untuk lebih mudah mengetahui kapan waktu terbaik untuk memesan tiket pesawat, menerjemahkan menu berbahasa asing lewat kamera gawai, dan masih banyak lagi. Setidaknya terdapat dua juta aplikasi yang bis diunduh para pejalan terkait perjalanan wisata. Berikut ini segelintir aplikasi gratis yang dapat dipilih untuk semua pejalan digital yang cerdas.
Untuk merencanakan penerbangan dan penghematan : Hopper
Hematlah waktu yang dihabiskan untuk mencari harga tiket pesawat dengan aplikasi yang mudah digunakan ini. Hopper dapat menganalisis setiap arsip triliunan dari harga tiket pesawat sehingga dapat memberitahu Anda kapan waktu yang tepat untuk membeli tiket pada rute tertentu, menyediakan estimasi kerangka waktu kapan harga tiket tersebut akan turun hingga kapan waktu yang tepat untuk memesan tiket pesawat sebelum harganya kembali naik.
Jika Anda ingin menunggu atau mencari beberapa rute perjalanan, Anda dapat menyimpan rute tersebut dan Anda akan diberi pemberitahuan kapan harga tiket tersebut akan turun. Seiring dengan pencarian harga tiket yang tepat, para pengguna juga dapat berbelanja untuk penerbangan pada aplikasi bebas iklan ini.
Untuk mencari Hotel : Agoda
Biarkan aplikasi Agoda mengetahui lokasi Anda saat ini. Agoda membantu memudahkan Anda menemukan harga hotel terbaik pada menit-menit terakhir, atau mencari dengan cepat salah satu dari 925.000 hotel dan penginapan lainnya. Aplikasi ini akan memperlihatkan peta dari hotel pilihan. Sederhana namun canggih, Agoda juga memiliki sebuah filter pencarian untuk membantu mempersempit hasil dan pilihan dalam melihat harga (dalam berbagai mata uang). Setiap halaman hotel yang ditampilkan akan disertai foto, ulasan, fasilitas, dan informasi lainnya untuk membantu Anda memutuskan pilihan.
Untuk Menerjemahkan Bahasa: Google Translate
Google memiliki beberapa aplikasi yang berguna untuk para pejalan. Salah satunya adalah alat penerjemah: Google Translate, yang membantu pengguna menerjemahkan 103 bahasa melalui ketikan, suara, atau kamera (sekitar 30 bahasa dapat diterjemahkan melalui foto). Jika Anda tidak berencana untuk menggunakan data seluler internasional dalam perjalanan, terdapat aplikasi 50 bahasa yang dapat diunduh dan digunakan dengan menggunakan terjemahan offline.
Untuk peta : MAPS.ME
Jika ada masalah dengan penggunaan data seluler di luar negeri, aplikasi gratis ini dapat memberikan Anda kemudahan dalam mengunduh rincian peta offline ke gawai cerdas Anda. Selain menawarkan navigasi untuk mengemudi, berjalan, atau bersepeda ke alamat atau lokasi tertentu, setiap peta dilengkapi dengan perangkat pecarian di dekat pengguna, seperti tempat menarik, hotel, dan ATM.
Untuk pencarian makanan: Foodspotting
Membantu Anda untuk memutuskan apa yang harus disantap. Tak sekadar menyarankan tempat, tetapi aplikasi ini juga berperan sebagai pemandu menu visual untuk berbagai jenis makanan di daerah sekitar Anda. Foodspotting merekomendasikan santapan melalui foto dan informasi mereka tentang santapan yang pernah dicoba oleh para pejalan atau foodspotter. Kita bisa membaca komentar dari orang-orang yang pernah mencicip aneka santapan.
Setiap foodspotter juga memiliki halamannya sendiri. Jika Anda telah menikmati hidangan yang direkomendasikan oleh seseorang, Anda dapat mengikuti halaman para foodspotter untuk melihat perjalanan kuliner mereka.
Untuk mengemudi dan perjalanan jauh: Waze
Bagi para pejalan jauh, Waze akan membantu. Aplikasi komunitas yang berbasis peta, informasi lalu lintas, dan navigasi . Para pengemudi di area tertentu dapat membagikan keadaan lalu lintas yang macet secara langsung. Informasi tentang durasi atau waktu tempuh perjalanan yang ditampilkan dapat membantu setiap orang untuk memperkirakan kedatangan. Bahkan, Anda juga dapat menghemat biaya bahan bakar karena panduan jarak terdekatnya.
Untuk kiat warga setempat: Cool Cousin
Salah satu aplikasi terbaru dari daftar ini adalah Cool Cousin. Aplikasi ini dilengkapi dengan peta yang dikuratori oleh warga setempat dari berbagai latar belakang dan industri yang berbeda. Setelah memilih kota unggulan, Anda dapat memilih siapa yang akan menjadi pemandu Anda atau ‘Cool Cousin’.
Sebagai contoh, jika Anda berencana untuk mengunjungi London dan menyukai makanannya, mungkin salah satu dari ‘cousins’ yang seorang foodies dapat membagikan destinasi yang masih sedikit diketahui, hingga restoran favorit mereka. Anda juga dapat mendapatkan sebuah masukkan dari beberapa 'cousins' sekaligus.
Saat ini aplikasi ini masih tersedia untuk iPhoneiPad dan iPod touch. Selain London, kota-kota lain yang tersedia adalah Tel Aviv, Paris, Roma, Berlin, Barcelona, Lisbon dan Rio de Janeiro. Para pengembang peranti ini tengah bekerja untuk menyediakan aplikasi ini dalam versi Android dan berencana untuk menambahkan beberapa kota lagi.
Untuk penyuka kebugaran : Nike Training Club
Dengan lebih dari seribu tempat berolahraga, audio yang jernih, serta panduan visual dari para ahli, aplikasi ini membantu Anda untuk berolahraga di mana saja. Apakah Anda perlu berolahraga dengan alat atau cukup dengan pemandu saja? Urutkan berdasarkan jumlah waktu yang Anda miliki, hingga  tingkat kesulitan yang berbeda.
Untuk pemilik hewan peliharaan: Pet First Aid
Aplikasi ini dibesut oleh American Red Cross, yang diciptakan khusus untuk para pemilik anjing dan atau kucing. Seiring dengan akses instruksi petunjuk pertolongan pertama dan situasi darurat, aplikasi ini dapat sangat berguna ketika Anda berpergian bersama hewan peliharaan.
Para pengguna dapat mengetahui lokasi dokter hewan terdekat. Pet First Aid juga akan membantu Anda untuk menemukan hotel yang membolehkan hewan peliharaan berada di dalamnya, didukung oleh BringFido. Ada pula panduan untuk para pemilik hewan selama perjalanan, mulai dari sebelum dan selama berada di mobil, pesawat, atau wisata perahu.
Untuk mengonversi pengukuran mata uang : Convert Any Unit Free
Sederhana namun cakupannya luas. Aplikasi ini sangat membantu dalam menghitung konversi secara cepat. Dengan lebih dari 5.900 unit dalam 44 kategori, Anda akan dengan mudah membandinkan mata uang atau mengonversi bolak balik dari sistem metrik. Aplikasi ini hanya tersedia pada iPhone, iPad, dan iPod touch.

(Nisrina Darnila. Sumber: Andrew Villagomez)
Baca Lengkap
      edit