Showing posts with label Astronomi. Show all posts
Showing posts with label Astronomi. Show all posts

Wednesday, February 8, 2017

Published 2:45 AM by with 0 comment

Mengapa Bintang dan Planet Berbentuk Bulat?

Japan Meteorological Agency Wajah Bumi dari luar angkasa seperti diambil satelit Himawari 8 milik Jepang. Bumi tampak lebih abu-abu.

Perdebatan tentang bentuk planet ramai terjadi belakangan. Sekelompok orang mengklaim bahwa bumi sebenarnya berbentuk datar, bukan bulat seperti biasa dimengerti.

Perdebatan riuh terjadi di media sosial. Umumnya, perdebatan terkait dengan bukti-bukti bumi datar dan bulat. Satu kelompok dan kelompok lainnya saling membantah.

Sebuah pertanyaan yang dikirimkan oleh seorang anonim di Brebes ke situs Langitselatan menarik untuk jadi perhatian.

"Mengapa bintang dan planet bentuknya bulat? Apakah semua planet atau bintang di alam semesta kita berbentuk bulat. Kalo ada yang lain selain itu berikan contohnya," demikian pertanyaannya.

Penjelasan berikut memuat ragam bentuk benda langit dan alasannya. Jika telah menyimaknya, Anda mungkin nanti bisa bertanya kepada mereka yang percaya bumi datar, "Mengapa bumi berbentuk datar?"

Jawaban singkatnya semua bintang dan planet bentuknya memang bulat. Tidak ada bentuk lain dari bintang dan planet. Untuk urusan bentuk planet, International Astronomical Union (IAU) menjadikannya bagian definisi planet, yakni memiliki kesetimbangan hidrostatik untuk mempertahankan bentuk bulat.

Tapi bagaimana bintang dan planet bisa berbentuk bulat? Mari kita telusuri.

Di alam semesta, kita akan menemukan berbagai benda yang punya berbagai bentuk. Ada debu, asteroid, komet yang bentuknya tidak beraturan, benda-benda berbentuk bulat laksana kentang, benda bulat sempurna, piringan / cakram dan halo.

Gravitasi merupakan penanggung jawab dari bentuk bulat benda-benda tersebut.

Proses pembentukkan bintang dan planet

Matahari sebagaimana bintang – bintang lainnya terbentuk dalam awan gas molekul yang disusun oleh 99% gas dan hanya 1% debu. Awan molekul ini merupakan awan yang punya kerapatan tinggi. Matahari juga terbentuk dalam awan serupa yang dikenal dengan sebutan Nebula Matahari.
Buzzle/Langitselatan Proses Pembentukan Tata Surya
Awan molekul ini sebenarnya cukup stabil, tetapi keruntuhan bisa terjadi jika ada gangguan yang datang dari luar. Misalnya, gelombang kejut dari ledakan bintang maha dahsyat atau ketika terjadi tabrakan antara dua awan molekul. Saat mengalami keruntuhan, awan yang sebelumnya berbentuk tidak beraturan mengalami perubahan bentuk. Momentum sudut mengubah bentuk awan yang tidak beraturan jadi cakram yang berotasi.

Ketika keruntuhan terjadi pada awan molekul, gas berakumulasi membentuk protobintang. Setelah protobintang terbentuk, ia akan menarik lebih banyak materi gas di awan untuk bergabung. Semakin banyak materi yang ditarik, gravitasi juga semakin besar. Selama proses ini, protobintang berotasi semakin cepat dan temperatur pun meningkat.

Proses berlangsung sampai protobintang memiliki energi yang cukup untuk memulai reaksi pembakaran hidrogen menjadi helium. Maka dimulailah reaksi termonuklir yang melepaskan energi sangat besar. Inilah proses kelahiran bintang yang salah satunya kita kenal sebagai Matahari, yang massanya 99.8% dari massa awan.

Sementara itu, piringan awan yang diisi sisa debu dan gas kemudian menjadi materi pembentukan planet-planet di sekeliling bintang yang baru terbentuk.

Cara kerjanya mirip juga dengan bintang. Partikel-partikel debu yang ada di piringan saling bergabung dan membentuk cikal bakal planet. Proses bergabung ini tentu saja karena materi yang ada punya massa, dan setiap benda bermassa akan punya gaya tarik. Ketika protoplanet sudah terbentuk, ia akan terus menarik materi di sekelilingnya. Semakin banyak materi yang ditarik, semakin besar massa planet dan artinya semakin besar pula gaya gravitasinya.

Bintang dan planet yang terbentuk juga berotasi pada sumbunya.
Bentuk Bintang dan Planet

Lantas mengapa bentuk bintang dan planet bulat dan bukan kotak atau bentuk lainnya?

Sederhananya, bintang dan planet itu bisa terbentuk dan terikat karena adanya gravitasi. Semakin besar sebuah benda, semakin besar massanya maka semakin besar juga gravitasinya.

Pada benda-benda berpilin ini, ada dua gaya yang bekerja. Yang pertama gaya gravitasi yang menarik semua materi ke pusat massa.

Tapi, ada yang menahannya.

Ketika sebuah benda berputar pada porosnya, berlaku kekekalan momentum sudut. Contohnya, peluncur es yang berputar. Ketika kedua tangannya terentang, ia akan berputar lebih lambat sementara untuk berputar lebih cepat ia harus menarik tangannya ke arah badan. Di sini hukum kekekalan momentum berlaku selama tidak ada gaya luar yang dimasukkan ke dalam sistem.

Boundless.com/Langitselatan Contoh kekekalan momentum sudut saat peluncur es berputar. Ia berputar lambat saat tangan terentang dan kecepatan sudut rendah. Tapi ketika tangan ditarik ke badan, momen inersia berkurang dan kecepatan sudut makin tinggi.
Hal yang sama berlaku pada bintang dan planet yang berotasi pada porosnya. Menurut hukum kekekalan momentum sudut, saat gravitasi menarik massa ke pusat, momentum sudut akan bertambah agar tercapai kekekalan momentum. Saat kecepatan sudut bertambah maka tekanan yang bekerja dari dalam bintang atau planet juga bertambah. Akibatnya tekanan yang bekerja dari dalam ke luar dan gaya gravitasi yang menarik massa ke pusat massa akan bekerja berlawanan dan pada satu titik akan saling menetralkan, sehingga terjadi kesetimbangan yang kita kenal sebagai kesetimbangan hidrostatik.

Ketika kesetimbangan hidrostatik terjadi maka benda fluida seperti bintang dan planet yang dipuntir terus menerus akan mencapai bentuk paling efisien yang akan memiliki gaya sama besar ke segala arah. Gravitasi adalah gaya isotropik atau gaya yang besarnya sama ke segala arah. Karena itu benda-benda yang massanya besar cenderung bulat karena ditarik oleh gaya gravitasi yang besarnya sama pada arah manapun.

Pada akhirnya, bintang dan planet akan menjadi bola berputar dengan kecepatan rotasi yang tetap. Untuk benda yang rotasinya lambat, bentuknya akan bulat sempurna. Contohnya adalah Matahari. Ada juga bintang yang rotasinya 100 kali lebih cepat dari Matahari, yakni VFTS 102 di nebula Tarantula. Jika bintang ini berputar lebih cepat lagi, maka ia akan hancur berantakan.

Semakin cepat rotasi sebuah benda, maka benda akan memipih di kutub atau pada ekuator akan tampak memiliki tonjolan sehingga planet tidak akan bulat sempurna. Contohnya Bumi yang bulat pepat.

Rotasi yang sangat cepat pada benda juga bisa membuat bentuk bulat tadi berubah sehingga bentuknya jadi lebih lonjong meskipun massanya juga cukup besar dan seharusnya bisa berbentuk bulat. Contohnya adalah planet katai Haumea.

Itu bintang dan planet. Benda-benda kecil di Tata Surya seperti asteroid, komet dan sebagian satelit atau bulan justru bentuknya tidak beraturan. Ini karena benda-benda tersebut memiliki massa yang kecil sehingga gravitasinya pun kecil. Akibatnya, tekanan dari dalam benda lebih besar. Tidak tercapainya kesetimbangan dan gravitasi tidak bisa memaksa benda tersebut untuk memiliki bentuk bola. Akibatnya benda akan memiliki ukuran yang tidak beraturan.

Selama tidak ada pengaruh gravitasi dari benda di sekitarnya, benda-benda antariksa akan cenderung mempunyai bentuk berupa bola. Ketidaksempurnaan bentuk bola itu menjadi petunjuk bahwa pengaruh gravitasi itu ada dan mempengaruhi rupa benda-benda antariksa yang kita kenal saat ini.

Demikian penjelasan singkat mengapa bintang dan planet, termasuk juga Bumi berbentuk bulat, bukan datar atau tidak beraturan.
 
Sumber: http://sains.kompas.com/
Baca Lengkap
      edit
Published 2:24 AM by with 0 comment

Pleiades: Mitologi dan Signifikansinya dalam Budaya Jawa

Sebagai orang Indonesia, setidaknya kita pernah mendengar istilah “Bintang Tujuh”, baik dalam sudut pandang perbintangan maupun sebagai nama perusahaan farmasi terkenal. Namun tahukah kita akan apa makna Bintang Tujuh yang sebenarnya: apa yang dimaksud, bagaimana latar belakang kisahnya, dan apa signifikansinya bagi masyarakat kita? Baiklah kita mulai.
Gugus bintang Pleiades. Kredit: Hubble
Gugus bintang Pleiades. Kredit: Hubble
Mengenal Pleiades
Dalam Astronomi, Pleiades adalah gugusan bintang terbuka (Open Star Cluster). Gugusan bintang ini terdiri dari lebih dari seribu bintang yang sudah diketahui, namun karena jaraknya yang cukup jauh dengan Bumi, Pleiades terlihat hanya terdiri dari tujuh bintang utamanya, yaitu (menurut urutan abjad): Alcyone, Celaeno, Electra,  Maia, Merope, Taygeta, dan Sterope. Kadang disebutkan ada 9 bintang utama, yaitu tujuh putri tersebut ditambahkan dua bintang lagi, yaitu Atlas dan Pleione (orang tua Pleiades dalam mitologi Yunani). Meskipun seringkali disebut sebagai rasi bintang, Pleiades sebenarnya bukanlah salah satu dari 88 rasi bintang yang diakui oleh International Astronomical Union (IAU). Lebih tepatnya Pleiades adalah salah satu asterism, yaitu kumpulan bintang yang membuat suatu bentuk tertentu (sebagaimana rasi) namun merupakan bagian dari satu atau lebih rasi yang diakui oleh IAU. Dalam hal ini, Pleiades adalah asterism dari rasi Taurus.

Lukisan Pleiades karya Elihu Vedder pada tahun 1885 yang dipasang di Metropolitan Museum of Art. Sumber: Wikipedia
Dalam mitologi Yunani, Pleiades adalah 7 bersaudara, putri-putri Atlas, raksasa (Titan) yang memanggul bola Bumi di atas bahunya. Nama-nama mereka digunakan untuk menamai 7 bintang utama Pleiades. Mengenai asal nama Pleiades sendiri, terdapat beberapa versi. Versi pertama menyebutkan bahwa Pleiades berarti “putri-putri Pleione”, yang mana Pleione adalah ibu para Pleiades. Versi kedua, yang lebih disukai, menyatakan bahwa kata Pleiades berasal dari akar kata “plein” yang berarti berlayar. Versi ini sangat terkait dengan fungsi Pleiades dalam dunia pelayaran, dimana heliacal rise Pleiades menandakan dimulainya musim pelayaran di Laut Tengah/Laut Mediterania.
Di Indonesia, Pleiades dikenal dengan berbagai nama. Di pulau Jawa, namanya adalah Lintang Kartika, dua kata yang maknanya sama yaitu ‘bintang’. Beberapa orang berpendapat bahwa nama ganda tersebut menunjukkan betapa pentingnya Pleiades bagi masyarakat Jawa. Nama lainnya adalah Bintang Tujuh, meski kadang istilah ini sedikit rancu dengan Rasi Ursa Major/Beruang Besar yang juga memiliki asterism 7 bintang.
Pleiades dalam Mitologi Jawa
Karena begitu terang dan indahnya Pleiades, asterism ini sangat dikenal di berbagai penjuru dunia. Di Nusantara, beberapa daerah memiliki kisah mereka sendiri tentang Pleiades. Namun kali ini kita akan fokus pada budaya Jawa.
Dalam budaya Jawa, Pleiades sering kali dikaitkan dengan kisah Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari. Meskipun saya belum menemukan literatur yang menunjukkan hubungan langsung kisah ini dengan Pleiades, namun kisah tersebut selalu menyertai pembahasan mengenai Pleiades. Bagi kita yang tinggal di Jawa atau dibesarkan dalam budaya Jawa tentunya kisah ini sudah tidak asing lagi. Kisah ini sudah pernah difilmkan dan bahkan beberapa kali diparodikan dalam berbagai acara televisi seperti Extravaganza. Namun bagi para pembaca yang belum pernah mendengar kisah tersebut, berikut ini adalah ringkasan ceritanya.
Alkisah ada seorang pemuda di pulau Jawa yang bernama Jaka Tarub. Suatu hari Jaka Tarub pergi berburu ke hutan. Dalam perjalanan itu, dia tiba di sebuah danau dan tak sengaja menemukan bahwa di danau tersebut terdapat tujuh orang bidadari dari langit yang sedang mandi. Karena terpikat oleh kecantikan bidadari-bidadari tersebut, Jaka Tarub mencuri selendang salah satu dari tujuh bidadari tersebut dan kembali ke tempat persembunyiannya, menunggu.
Ketika tiba waktunya para bidadari itu untuk kembali ke Kahyangan, salah satu dari mereka tidak dapat menemukan selendangnya. Nawangwulan, demikian nama bidadari itu, tidak dapat terbang kembali ke Kahyangan tanpa selendangnya. Akhirnya saudara-saudaranya terpaksa meninggalkan Nawangwulan di bumi. Nawangwulan hanya bisa menangis.
Melihat kesempatan emas ini, Jaka Tarub keluar dari persembunyiannya dan menyatakan niatnya untuk membantu. Singkat cerita, Jaka Tarub dan Nawangwulan akhirnya menikah. Sebelum menikah, Nawangwulan mengajukan syarat: Jaka Tarub tidak boleh mengintipnya ketika dia melakukan pekerjaan rumah tangga, dan tidak boleh bertanya sedikitpun mengenai hal tersebut. Karena cintanya pada Nawangwulan, Jaka Tarub menyanggupi. Dari pernikahan tersebut lahirlah seorang anak perempuan bernama Nawangsih.
Meskipun telah berjanji, Jaka Tarub penasaran akan bagaimana Nawangwulan melakukan pekerjaan rumah tangga, terutama menanak nasi. Pasalnya, beras di lumbung tidak pernah berkurang, bahkan  selalu bertambah setiap kali habis panen. Ketika ia tak mampu lagi membendung rasa ingin tahunya, ia membuka penanak nasi ketika Nawangwulan baru saja menanak nasi. Dari situ diketahuinya bahwa Nawangwulan hanya membutuhkan satu butir beras untuk memasak nasi kebutuhan hari itu. Karena ketahuan, hilanglah kekuatan gaib Nawangwulan sebagai bidadari.
Sejak saat itu, Nawangwulan harus menanak nasi sebagaimana manusia lainnya. Beras di lumbung pun semakin berkurang karena digunakan. Suatu hari, ketika timbunan beras di lumbung cukup rendah, Nawangwulan menemukan kembali selendangnya. Ia menyadari bahwa selama ini Jaka Tarub telah dengan sengaja menyembunyikan selendangnya agar ia tidak bisa kembali ke Kahyangan dan Jaka Tarub dapat menikahinya! Murka, Nawangwulan meninggalkan Jaka Tarub dan putri mereka untuk kembali ke Kahyangan. Segala air mata, penyesalan dan permohonan Jaka Tarub tidak dipedulikannya. Meskipun demikian, Nawangwulan berjanji untuk kembali dan menyusui putri mereka, dan akan kembali lagi pada malam sebelum pernikahan putri mereka tersebut. Akhirnya kembalilah Nawangwulan ke Kahyangan.
Tentunya sekarang kita bisa melihat mengapa kisah ini selalu dikaitkan dengan Pleiades. Tujuh bintang dalam asterism Pleiades dianggap sebagai representasi dari tujuh bidadari dalam kisah ini. Salah satu sumber [1] menyebutkan bahwa apabila salah satu bintang di asterism Pleiades tidak terlihat di langit, itu berarti Nawangwulan sedang turun ke Bumi untuk menyusui putrinya. Lalu apa kaitannya dengan budaya Jawa? Sekali lagi, meskipun saya belum menemukan literatur yang menyebutkan hubungan langsung Pleiades dan Kisah Jaka Tarub, beberapa tradisi dalam budaya Jawa didasarkan pada kisah ini.
Sebagai catatan, saya bukanlah ahil budaya Jawa. Apa yang akan saya tulis berikut ini adalah pengalaman dan pengetahuan pribadi yang saya dapatkan ketika tumbuh besar di lingkungan budaya Jawa yang kental.
Dalam ritual perkawinan Jawa, malam sebelum upacara pernikahan disebut sebagai Malam Midodareni bagi calon pengantin putri. Pada malam ini, para calon pengantin putri diminta untuk tidak keluar kamar dan tidak tidur semalam suntuk. Hal ini dikarenakan adanya kepercayaan bahwa pada malam itulah Nawangwulan dan saudara-saudaranya akan turun dari Kahyangan untuk mendandani calon pengantin putri sebagaimana Nawangwulan datang dan mendandani putrinya sendiri pada malam sebelum pernikahannya. Dipercaya, bila calon pengantin putri melakukan ini maka keesokan harinya saat upacara pernikahan ia akan tampil sangat cantik sehingga membuat orang pangling (bahasa Jawa “manglingi”). Kata “midodareni” sendiri dipercaya berasal dari kata “widodari” yang berarti “bidadari”.
Apakah hanya itu? Tidak juga. Ketika saya masih kecil, orang sering berkata bahwa kalau kita melihat pelangi, itu tandanya para bidadari sedang turun dari Kahyangan untuk mandi di danau terdekat. Pelangi adalah jejak cahaya ketika mereka turun. Tidak mengherankan tentunya kalau lukisan-lukisan tentang kisah Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari seringkali menggambarkan setiap bidadari mengenakan warna pakaian yang berbeda, yaitu ketujuh warna utama pelangi.
Lukisan Tarian Bedhoyo Ketawang oleh S. Pandji pad atahun 2006. Sumber: PandjiPainting
Lukisan Tarian Bedhaya Ketawang oleh S. Pandji pada tahun 2006. Sumber dan copyright: PandjiPainting
Pleiades dan Tari Bedhaya Ketawang Bedhaya Ketawang adalah salah satu tarian dari Jawa Tengah yang dianggap sangat sakral. Saking sakralnya, tarian ini hanya dapat ditampilkan pada acara-acara khusus seperti penobatan Raja/Sultan dan acara penting lainnya. Para penarinya pun harus memenuhi beberapa persyaratan ketat, antara lain: mereka harus masih perawan, tidak sedang datang bulan ketika mementaskan tarian (untuk itu mereka selalu menyediakan penari cadangan), dan harus mengikuti beberapa ritual seperti puasa dan pingitan di dalam Kraton sebelum menampilkan tarian tersebut. Mengapa harus begitu, dan apa pula hubungannya dengan Pleiades?
Berdasarkan asal katanya, Bedhaya Ketawang berarti “Tarian Langit” atau “Tarian dari Langit”. Menurut sejarah, tarian ini diciptakan oleh Panembahan Senopati, raja pertama Kesultanan Mataram. Namun ada pula versi yang menyatakan bahwa tarian ini diciptakan oleh Batara Guru, sang Dewa Utama, dan pada saat pertunjukan perdananya ditarikan oleh tujuh bidadari yang tercipta dari tujuh permata berkilauan. Masih dari sudut pandang spiritual, dipercaya bahwa tarian ini merupakan ungkapan cinta antara Kajeng Ratu Kidul, sang Ratu Laut Selatan,  kepada suaminya, yaitu Raja-raja Mataram dimulai dari raja pertamanya, yaitu Panembahan Senopati. Seperti diketahui, masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah, meyakini bahwa Kanjeng Ratu Kidul adalah istri spiritual raja-raja Mataram, Yogyakarta dan Surakarta.
Secara umum tarian ini ditarikan oleh 7-9 orang penari, yang tentu saja kesemuanya harus memenuhi persyaratan yang ketat seperti yang telah saya sebutkan di atas. Karena tarian ini adalah ungkapan cinta Kanjeng Ratu Kidul, tentu saja beliau ingin agar para penari menarikannya sesempurna mungkin. Masyarakat meyakini bahwa ketika latihan berlangsung, Kanjeng Ratu Kidul turut hadir untuk mengawasi latihan dan membetulkan gerakan penari yang kurang sempurna. Bahkan dipercaya bahwa dalam pementasan, salah satu penarinya adalah Kanjeng Ratu Kidul sendiri, baik menjelmakan diri maupun merasuki salah satu penari.
Lalu apa hubungan tarian ini dengan Pleiades? Nah, ini yang menarik. Dipercaya bahwa salah satu konfigurasi (posisi penari ketika menarikan tarian) penari dalam tarian ini mengikuti konfigurasi bintang-bintang yang membentuk asterism Pleiades! Dengan penari sejumlah 7-9 orang, tentunya tidak sulit untuk melihat hubungan tersebut, karena bintang terterang asterism Pleiades juga berjumlah 7-9 (tujuh putri Atlas, sembilan bila menyertakan bintang Atlas dan Pleione), tergantung kondisi langit ketika kita melihatnya.
Pleiades dan Pertanian
Telah disebutkan sebelumya bahwa asal kata Pleiades adalah dari kata “plein” yang berarti berlayar. Pleiades memang merupakan asterism yang digunakan dalam pelayaran tidak hanya di Eropa, namun juga di Nusantara, khususnya daerah Mentawai. Terbit dan tenggelamnya Pleiades menjadi panduan bagi masyarakat dalam pelayaran.
Bagi masyarakat Jawa, Pleiades memegang peranan cukup penting dalam pertanian. Apabila posisi Pleiades di langit mencapai 50° diatas cakrawala, itu berarti musim ketujuh atau Mangsa Kapitu dalam kalender pertanian Pranata Mangsa telah dimulai. Pada masa itu para petani mulai memindahkan bibit padi dari lahan pembibitan ke lahan utama. Meskipun Pranata Mangsa menggunakan rasi bintang Orion sebagai panduan utama, namun setiap musim memiliki rasi/gugusan bintang lainnya sebagai penanda. Untuk mengetahui lebih dalam mengenai Pranata Mangsa silakan baca tulisan Selayang Pandang Pranata Mangsa.

Sumber:  https://langitselatan.com/
Baca Lengkap
      edit
Published 2:19 AM by with 0 comment

Sirius Dalam Mitologi Mesir Kuno

Bangsa Mesir kuno adalah bangsa yang memiliki banyak catatan dan capaian dalam sejarah peradaban manusia. Segenap catatan dan capaian itu menunjukkan tingginya peradaban Mesir kala itu.
Sirius bintang terang di langit malam yang merupakan bagian dari rasi Canis Major. Kredit: Ganko
Sirius bintang terang di langit malam yang merupakan bagian dari rasi Canis Major. 
Peradaban Mesir tumbuh dan berkembang dalam kultur masyarakat yang sangat dominan dengan unsur paganisme dimana sangat banyak Dewa yang dipuja dan disembah. Capaian Mesir kuno ini juga merupakan perwujudan dan pemikiran terdalam terhadap inovasi, estetika dan kepercayaan.
Dalam bidang langit, Mesir kuno memiliki tradisi dan telaah terhadap satu bintang populer di langit bernama ‘Sirius’. Sirius adalah bintang paling terang di langit malam yang dapat dilihat tanpa menggunakan teleskop. Bintang ini terletak pada rasi Canis Mayor dan merupakan sistem bintang ganda. Sirius berasal dari bahasa Yunani yaitu ‘seirios’ yang bermakna menyala atau sangat panas. Dalam bahasa Latin disebut ‘Canicula’, sedangkan dalam bahasa Arab disebut ‘asy-syi’ra’ atau ‘an-najm asy-syi’ra’. Sedemikian melegendanya bintang ini, di dalam al-Qur’an ia diabadikan yaitu dalam QS. An-Najm ayat 49.
Bintang Sirius memainkan peranan penting dalam kehidupan religius dan sosial masyarakat Mesir silam. Dalam mitologinya, Sirius adalah bintang paling istimewa dan diyakini sebagai cahaya dari langit. Pengaruh bintang Sirius bukan semata dalam aspek religius dan mitos, namun juga terkait aspek sosial masyarakat sehari-hari.
Bintang Sirius juga dikenal dan disebutkan dalam banyak kebudayaan-kebudayaan silam dalam rentang waktu berabad-abad. Bintang ini terlihat hampir di seluruh planet Bumi. Peradaban-peradaban lampau telah mengenal baik Sirius, khususnya terkait musim dan navigasi. Jika Mesir kuno menjadikan kemunculan pertama Sirius di langit Timur (sebelum Matahari terbit) sebagai awal tahun, Yunani kuno mengenal Sirius sebagai pertanda datangnya musim panas. Sementara itu bangsa-bangsa di pasifik mengenal Sirius sebagai alat navigasi di laut. Demikian lagi bangsa-bangsa (peradaban-peradaban) lainnya memiliki tradisi dan mitos yang berbeda-beda sesuai kearifan sosio-religiusnya.
Dalam tradisi Mesir kuno, Sirius dipersonifikasi sebagai seorang dewa. Ya, fenomena-fenomena alam sebagai terjadi dalam kehidupan sehari-hari dalam kepercayaan masyarakat Mesir kuno memang sangat terkait dengan praktik sesembahan (pagan). Penyembahan dan pemujaan ini memang didasarkan pada mitologi-mitologi tertentu yang sudah mengakar, namun patut dicatat ia tak lepas dari pemaknaan sosial.
Dewi Isis representasi Sirius dalam budaya Mesir
Dewi Isis representasi Sirius dalam budaya Mesir
Dalam sudut pandang mitos dan religius, Sirius bagi bangsa Mesir kuno diyakini sebagai Dewi Isis (istri Osiris) yang dianggap sebagai Dewi kesuburan. Banjir sungai Nil sendiri sebagai terjadi setiap tahunnya diyakini oleh karena Isis menangisi kematian Osiris. Dalam konteks sosial, Sirius digunakan masyarakat Mesir kuno menjadi petunjuk perjalanan musim dingin dan musim panas, baik di siang hari maupun di malam hari. Fenomena inipun telah populer dalam literasi Arab sebagai terlihat dalam gubahan syair-syairnya.
Melalui Sirius juga Mesir kuno menghasilkan suatu sistem kalender yang terbilang akurat dan canggih di zamannya yaitu Kalender Matahari. Seperti diketahui, Sirius yang merupakan penanda tibanya musim panas mulai tampak di langit Mesir sejak bulan Juli sampai Agustus. Pada saat Sirius muncul, secara bersamaan ditandai dengan datangnya banjir sungai Nil yang menggenangi tanah-tanah di Mesir.
Kenyataannya, fenomena Sirius dan banjir sungai Nil ini terjadi secara periodik setiap tahun yaitu persis yaitu dalam rentang 365 hari. Oleh karena periodisasi nan periodik ini, masyarakat Mesir secara alami menjadikan dan menggunakan fenomena ini sebagai sistem penjadwal waktu atau yang dikenal dengan kalender. Selanjutnya, pasca banjir ini menyebabkan tanah-tanah yang digenangi air menjadi subur. Hal ini pada kenyataannya menjadi berkah bagi masyarakat Mesir, dengannya mereka memanfaatkan untuk bercocok tanam dan dapat menghasilkan panen yang memuaskan. Namun di era modern banjir sungai Nil ini tidak terjadi lagi sejak di bangunnya bendungan di Aswan (Mesir bagian Selatan) di era Gamal Abdul Nasser.
Tanpa disadari, fenomena Sirius (dan banjir sungai Nil) sesungguhnya telah membentuk peradaban Mesir yang spektakuler. Mesir kuno telah berhasil melahirkan satu produk ‘sains’ bernama kalender yang secara substansial berbeda dengan kalender-kalender yang pernah ada sebelumnya, khususnya kalender dikalangan bangsa Babilonia. Fenomena Sirius (dengan Nilnya) ini juga menunjukkan bahwa sebuah peradaban terlahir dengan adanya interaksi sosial-religius dengan fenomena alam, dan ia dihasilkan dengan proses yang sangat panjang dan berjalan secara natural. Fluktuasi keadaan geografis seperti suhu udara, iklim, curah hujan, dan kebutuhan rohani menjadi faktor terbentuknya sebuah peradaban. Dan interaksi harian dan tahunan Masyarakat Mesir terhadap bintang Sirius dan sungai Nil ini meniscayakan lahirnya inovasi dan akselerasi.

Sumber: https://langitselatan.com/
Baca Lengkap
      edit
Published 2:17 AM by with 0 comment

Teleskop Sinar-X : Membuka Pandangan Baru Dalam Astronomi

Setiap saat, Bumi kita dibombardir dengan berbagai macam radiasi gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh objek-objek langit, mulai dari sinar radio yg berenergi rendah hingga sinar gamma yg berenergi tinggi. Akan tetapi, dengan keberadaan atmosfer Bumi, hanya sinar radio dan sinar tampak (visual) yang mencapai permukaan Bumi. Sementara, sinar-sinar yang lain hanya mampu menembus hingga ketinggian tertentu.
Kedalaman berbagai radiasi elektromagnetik dalam menembus atmosfer Bumi. Hanya sinar tampak dan radio yang mampu menembus hingga ke permukaan Bumi.
Hal tersebut merupakan keberuntungan bagi manusia karena atmosfer melindungi manusia dari radiasi-radiasi energi tinggi. Akan tetapi, bagi para astronom, kenyataan tersebut mungkin justru menjadi sebuah kekurangberuntungan. Dalam dunia astronomi, segala bentuk radiasi yang dipancarkan oleh objek langit (walau hanya sedikit) sangatlah berarti. Oleh karena itu, keberadaan atmosfer membuat tidak semua cahaya/radiasi dapat diamati oleh astronom dengan menggunakan teleskop yang ada di permukaan bumi (ground based telescope). Untuk menyiasati hal tersebut maka dikembangkanlah teleskop-teleskop yang ditempatkan di luar bumi (space based telescope), salah satu contohnya adalah teleskop Chandra. Sebagian besar teleskop berbasis luar angkasa dibangun berdasarkan jenis radiasi/panjang gelombang yang ingin diamati. Ambil contoh teleskop Chandra. Teleskop ini diluncurkan untuk mengamati objek langit pada panjang gelombang sinar-x. Contoh lain, teleskop IRAS yang dibangun untuk panjang gelombang inframerah.
Studi obyek langit pada rentang panjang gelombang selain radio dan sinar tampak sangat penting. Dengan mengamati obyek langit dari berbagai panjang gelombang, kini manusia mampu melihat alam semesta ini dari berbagai macam dunia: dunia yg tampak oleh mata kita, dunia yg tampak oleh mata ular, ataupun dunia yg tampak oleh mata lumba-lumba. Di dalam tiap2 dunia tersebut, informasi yang diperoleh pun bisa berbeda-beda yang pada akhirnya saling menyempurnakan satu sama lain.
Teleskop Sinar-X
Sejarah mengenai teleskop sinar-x dimulai sekitar awal tahun 1960-an. Saat itu para ilmuwan menggunakan roket untuk membawa peralatan canggih ke atas atmosfer bumi. Usaha ini membuahkan hasil pada tahun 1962 ketika roket yang diluncurkan oleh sebuah group di American Science and Engineering (AS&E)  untuk pertama kalinya mendeteksi sebuah objek pemancar sinar-x pada rasi bintang Scorpius yang kemudian diberi nama Scorpius X-1. Setelah bereksperimen menggunakan roket, wahana teleskop sinar-x pertama yang mengorbit Bumi baru diluncurkan pada tahun 1970-an (Uhuru, SAS 3, Ariel 5). Lalu, pada akhir tahun 1970-an hingga awal 1980-an mulai diluncurkan wahana yang lebih besar (HEAD-1, Einstein, EXOSAT, dan Ginga). Jika wahana-wahana sebelum tahun 1990 hanya mampu mendeteksi keberadaan sumber sinar-x, maka wahana-wahana yang dibangun pada tahun 1990-an juga mampu mengambil spektrum mereka (ASCA), dan mempelajari parameter waktunya (RXTE). Kini telah diluncurkan wahana dengan resolusi lebih tinggi, yaitu Chandra & XMM Newton (1999) serta Suzaku/Astro E-2 (2005). Keberadaan wahana-wahana tersebut memiliki dampak yang sangat besar bagi perkembangan dunia astronomi. Salah satunya adalah kita bisa mengetahui bahwa hampir semua objek langit memancarkan sinar-X, mulai dari komet yang dekat hingga quasar yang sangat jauh. Tentu hal ini memberikan pandangan baru dan menarik dalam mengeksplorasi dunia astronomi pada umumnya dan astrofisika energi tinggi pada khususnya.
Gambar 2. Bentuk cermin teleskop Chandra yang terdiri atas empat pasang cermin yang berbentuk silinder. Cermin Chandra ini termasuk tipe I Wolter.
Lalu ,seperti apakah teleskop sinar-x yang kini sedang mengorbit bumi kita? Tidak seperti cermin untuk teleskop optik yang dibuat berbentuk seperti piring, cermin teleskop sinar-X dibuat lebih seperti tabung-tabung kaca. Hal ini disebabkan foton sinar-X yang memiliki energi tinggi bersifat seperti peluru. Jika peluru ditembakkan tegak lurus terhadap dinding, maka peluru tersebut langsung menembus dinding. Sedangkan, jika peluru ditembakkan hampir sejajar dengan dinding, maka peluru tersebut akan dipantulkan. Hal yang demikian juga berlaku pada foton sinar-X. Oleh karena itu cermin teleskop sinar-X harus diposisikan hampir sejajar dengan foton sinar-X yang datang dan permukaannya dibuat sangat halus. Sedemikian halusnya, sehingga jika permukaan pulau Jawa diperhalus, maka Gunung Semeru hanya setinggi kurang lebih 2 cm (untuk kasus cermin Chandra).
Gambar 3. Ketiga tipe Wolter untuk teleskop sinar-x.
Fisikawan asal Jerman, Hans Wolter, mendeskripsikan tiga tipe konfigurasi yang berbeda untuk teleskop sinar-X seperti yang terlihat pada gambar 1. Setiap tipe membutuhkan 2 jenis cermin yang ditempatkan berbeda-beda. Pada tipe I, kedua cermin yang digunakan adalah cermin hiperboloid dan paraboloid, dengan kedua cermin ditempatkan bersampingan dengan cermin hiperboloid, yang berada di bagian luar. Sedangkan tipe II juga menggunakan dua jenis cermin yang sama dengan tipe I, tetapi posisi cermin paraboloid ditempatkan agak di depan cermin hiperboloid. Dengan posisi yang hampir sama (namun posisi cermin paraboloid lebih ke arah luar), tipe III membutuhkan cermin ellipsoid untuk menggantikan posisi cermin hiperboloid. Dari ketiga tipe tersebut, konfigurasi tipe I merupakan konfigurasi mekanik yang paling sederhana sehingga sering digunakan. Selain itu, tipe I juga memiliki keuntungan untuk memungkinkan membangun beberapa teleskop di dalam teleskop yang lebih besar. Dengan begitu, area refleksi menjadi meningkat. Karena sebagian besar sumber sinar-X sangat lemah, maka menambah area refleksi akan memaksimalkan kekuatan sistem cermin dalam mengumpulkan foton.
Info apa yg bisa kita dapat dari foton-foton sinar-x tersebut? Dari citra sinar-x, kita bisa mengetahui apa yang terjadi pada obyek yang kita pelajari selain yang kita peroleh dari citra tampak. Bisa saja dari keduanya menampakkan hasil yang berbeda. Misalkan, dari citra sinar tampak pada suatu daerah hanya sedikit bintang yang terlihat, namun saat kita mengambil citra daerah tersebut dalam sinar-x, ternyata tampak lebih banyak bintang. Sedangkan dari spektrumnya, salah satu contohnya, kita bisa mencocokkan spektrum obyek yg kita pelajari dengan sebuah model. Dengan begitu, kita bisa mengetahui seperti apakah obyek tersebut, apakah ia bintang neutron atau Lubang Hitam? Selain dari citra dan spektrum kita juga bisa mendapatkan informasi dari parameter waktu, yaitu kapan foton tersebut tertangkap oleh detektor. Dari parameter waktu tsb, salah satu yg bisa kita peroleh adalah periode orbital obyek yang kita amati bila obyek tersebut mengelilingi sesuatu. Dan masih banyak lagi informasi yg bisa kita dapatkan dari pengamatan sinar-x.
Gambar 4. Citra rasi Orion diamati pada sinar tampak (kiri) dan sinar-x (kanan).
Dari pembahasan sebelumnya, dapat kita lihat bahwa pengamatan dalam sinar-x masih berumur sangat muda (~47) tahun bila kita bandingakan dengan pengamatan dalam sinar tampak (~400 tahun). Oleh karena itu masih banyak hal yang bisa dieksploritasi dari bidang ini. Kemungkinan suatu model bertambah atau berubah sangat terbuka. Siapa tahu, Andalah salah seorang yang mendapat kesempatan tersebut!!!

Sumber: HEASARC
Baca Lengkap
      edit
Published 2:13 AM by with 0 comment

Menguak Teka Teki Meteorit Yang Menabrak Bumi

Selama beberapa tahun terakhir ini, astronom menghadapi sebuah teka teki. Sebagian besar asteroid yang mendekati Bumi ternyata hanya sebagian kecil yang cocok dengan meteorit yang sering menghantam planet kita ini. Meteorit dan asteroid memang memiliki keterkaitan yang kuat, karenameteorit adalah pecahan dari asteroid yang menghantam sebuah planet. Perbedaan keduanya sangat sulit untuk dijelaskan, namun tim peneliti dari MIT dan institusi lainnya berhasil menemukan jawaban atas teka teki yang dihadapi itu.

Meteorit 00506, ditemukan di Antartika tahun 2000. Kredit :NASA
Batuan kecil yang selama ini menghantam Bumi dan jatuh di permukaan planet kita tampaknya datang dari sabuk asteroid yang berada di antara Mars dan Jupiter dan bukan berasal dari populasi asteroid dekat Bumi atau yang dikenal sebagai NEA (near-Earth asteroid). Teka teki ini terkuak secara perlahan dari hasil penelitian jangka panjang terhadap asteroid oleh Richard Binzel (MIT), P Vernazza (ESA) dan A. T. Tokunaga (direktur University of Hawaii’s Institute of Astronomy).
Richard dan kawan-kawan mempelajari tanda dari spektrum asteroid dekat Bumi dan membandingkannya dengan sppektrum yang dihasilkan oleh ribuan meteorit yang menghantam Bumi. Hasilnya, ternyata 2/3 dari NEA cocok dengan tipe meteorit yang disebut LL chondrites. Tipe ini hanya sekitar 8% dari seluruh meteorit yang jatuh ke Bumi. Kok bisa? Mengapa bisa ada perbedaan antara objek yang menghantam Bumi dan objek besarnya? Tentu harus ada jawaban untuk itu. Dengan sejumlah besar set data jawaban pun dicari. Apakah sebuah kebetulan hanya 8 % yang cocok dengan NEA?
Jauh di sabuk utama asteroid, populasinya jauh lebih beragam dan ternyata tipe yang ada disana mendekati tipe yang ditemukan di Bumi. Pertanyaannya, kenapa justru yang sering menabrak kita cocok dengan populasi yang berada jauh dari Bumi dibanding populasi yang ada disekitar kita? Akhirnya muncul ide kalau ada objek yang bergerak cepat dalam lintasannya yang kemudian langsung menghantam Bumi. Pergerakan yang cepat ini diperkirakan disebabkan oleh efek tersembunyi yang ditemukan dulu, dan baru diketahui sekarang sebagai faktor signifikan yang menggerakan asteroid atau yang dikenal sebagai efek Yarkovsky.
Efek Yarkovsky menyebabkan asteroid mengubah orbitnya dan akibatnya asteroid ini menyerap sinar Matahari di satu sisi dan memantulkan kembali cahaya itu saat mereka berotasi. Hal ini menyebabkan ketidaksetimbangan yang secara perlahan mengubah garis edarnya.Tapi yang jadi kunci pentingnya, efek ini ternyata bekerja lebih kuat pada objek yang lebih kecil dam memiliki pengaruh yang lemah pada objek yang besar. Menurut Richard Binzel, efek yarkovsky ini sangat efisien untuk objek yang hanya berukuran beberapa meter dan berpengaruh pada objek di seluruh area sabuk asteroid.
Untuk gumpalan batuan yang hanya berukuran batu karang dan lebih kecil dari itu, efek Yarkovsky memainkan peran penting dalam menggerakan mereka dari sabuk asteroid ke garis edar yang bisa mengarahkan mereka ke Bumi. Sedangkan untuk asteroid yang lebih besar dengan ukuran lebih dari 1 km, asteroid yang selama ini jadi perhatian kita sekaligus meresahkan kita karena berpotensi menabrak Bumi, efek Yarkovsky ternyata sangat lemah efeknya dan hanya bisa sedikit memindahkan mereka.
Kesimpulan yang didapat Richard Binzel, asteroid dekat Bumi terbesar sebagian besar datag dari bagian dalam sabuk asteroid. Asteroid tersebut merupakan bagian dari keluarga sisa asteroid besar yang hancur akibat tabrakan. Dengan dorongan awal dari efek Yarkovsky, asteroid berukuran beberapa kilometer dari area Flora bisa menemukan diri mereka sendiri di sudut sabuk asteroid, yang kemudian dikirim menuju garis edar Bumi melalui efek gangguan planet yang kita sebut resonansi.
Penelitian ini akan berguna dalam usaha melindungi Bumi dari hantaan asteroid. Karena sebagaimana kita ketahui, masalah terbesar saat ini adalah mencari pemecahan terhadap asteroid yang bergerak mendekati Bumi. Jika satu saja berpotensi menabrak Bumi tentu cara penanganannya akan berbeda dengan asteroid lainnya karena mereka sangat bervariasi. Namun dengan adanya penelitian ini bisa diketahui kalo sebagian besar asteroid dekat Bumi merubakan objek batuan yang kaya mineral dan miskin besi. Hal ini memungkinkan kita untuk berkonsentrasi mencari pemecahan atas asteroid yang berpotensi menabrak Bumi.

Sumber : MIT
Baca Lengkap
      edit
Published 2:06 AM by with 0 comment

2014 AA dan Asteroid yang Terdeteksi Sebelum Mencium Bumi

Asteroid 2014 AA (diameter ~3 meter, massa ~38 ton) telah musnah di atas Samudera Atlantik pada Kamis 2 Januari 2014 sekitar pukul 11:00 WIB lalu tatkala mengalami peristiwa airburst, yakni pelepasan hampir seluruh energi kinetik yang diembannya setelah berjuang keras menembus selubung atmosfer Bumi hingga berkeping-keping untuk kemudian terdeselerasi secara mendadak. Sebagian kecil kepingnya yang tersisa sebagai meteorit kini telah bersemayam di dasar samudera nan dingin, sejauh sekitar 3.000 km di sebelah timur kota Caracas (Venezuela). Namun gema yang ditimbulkan oleh kehadirannya masih berdentang keras di telinga sebagian manusia. Betapa tidak? Airburst asteroid 2014 AA terjadi hanya berselang 11 bulan pasca airburst dengan energi jauh lebih tinggi yang dialami asteroid-tanpa-nama dalam Peristiwa Chelyabinsk di atas kawasan Siberia (Russia). Peristiwa Chelyabinsk disebabkan oleh asteroid berdiameter ~17 meter (massa 10.000 ton) yang mengalami airburst hingga menghasilkan gelombang kejut (shockwave) kuat dan panas (thermal rays) berintensitas rendah. Ribuan orang mengalami luka-luka dan ribuan bangunan mengalami kerusakan dengan total kerugian hingga milyaran rupiah. Peristiwa Chelyabinsk mendemonstrasikan bagaimana ancaman sesungguhnya dari peristiwa tumbukan benda langit, yakni saat komet/asteroid jatuh ke Bumi.
Gambar 1. Asteroid-tanpa-nama saat melaju di dalam atmosfer Bumi menjelang airburst di atas Chelyabinsk, Siberia (Russia) pada 15 Februari 2013 lalu. Inilah contoh terkini betapa peristiwa tumbukan benda langit berpotensi merusak meski yang terjadi baru sebatas peristiwa airburst. Sumber : Popova dkk, 2013.
Gambar 1. Asteroid-tanpa-nama saat melaju di dalam atmosfer Bumi menjelang airburst di atas Chelyabinsk, Siberia (Russia) pada 15 Februari 2013 lalu. Inilah contoh terkini betapa peristiwa tumbukan benda langit berpotensi merusak meski yang terjadi baru sebatas peristiwa airburst. Sumber : Popova dkk, 2013.
Simulasi kasar yang penulis lakukan menunjukkan asteroid 2014 AA mulai memasuki atmosfer Bumi pada kecepatan 15 km/detik (54.200 km/jam) dengan sudut zenith hanya ~5 derajat, sehingga lintasannya nyaris tegaklurus terhadap titik targetnya. Tingginya kecepatan asteroid menghasilkan penekanan ram (ram pressure) sehingga suhu kolom udara yang tertekan hebat di depan asteroid menjadi sangat tinggi. Akibatnya permukaan asteroid pun mulai berpijar membara dan tergerus hingga terbentuklah meteor-terang (fireball) dengan magnitudo semu hingga -10 pada puncaknya. Tekanan ram yang kian menghebat seiring kian jauhnya meteor-terang menembus atmosfer menyebabkan terjadinya pemecah-belahan (fragmentasi) kala besarnya tekanan mulai melampaui ketahanan material asteroid. Pemecah-belahan mulai terjadi semenjak ketinggian 45 km dari permukaan laut dan terus berlangsung hingga ketinggian 35 km saat airburst terjadi. Airburst melepaskan energi hingga 4,18 GigaJoule atau sebesar 1 kiloton TNT. Sebagai pembanding, energi ledakan bom nuklir di Hiroshima pada akhir Perang Dunia 2 adalah 20 kiloton TNT. Sebagian kecil energi ini, yakni sekitar 10 %, dilepaskan sebagai cahaya dalam bentuk kilatan dengan magnitudo semu sekitar -18 atau -19, merujuk pada kejadian sejenis.
Gambar 2. Atas: citra asteroid 2014 AA (dalam lingkaran kuning) yang diabadikan Observatorium Gunung Lemmon (AS) pada 1 Januari 2014. A, B dan C adalah bintang-bintang dalam rasi Waluku (Orion). Bawah: titik lokasi airburst asteroid 2014 AA berdasarkan deteksi gelombang infrasonik dari mikrobarometer di stasiun IMS Kep. Bermuda, Bolivia dan Brazil. Sumber: NASA, 2014; Brown, 2014.
Gambar 2. Atas: citra asteroid 2014 AA (dalam lingkaran kuning) yang diabadikan Observatorium Gunung Lemmon (AS) pada 1 Januari 2014. A, B dan C adalah bintang-bintang dalam rasi Waluku (Orion). Bawah: titik lokasi airburst asteroid 2014 AA berdasarkan deteksi gelombang infrasonik dari mikrobarometer di stasiun IMS Kep. Bermuda, Bolivia dan Brazil. Sumber: NASA, 2014; Brown, 2014.
Berdasarkan gelombang infrasonik yang direkam instrumen mikrobarometer di 3 stasiun IMS (International Monitoring Systems) berbeda, yakni di Bolivia, Brazil dan Kepulauan Bermuda, maka lokasi airburst terletak di koordinat 12 LU 40 BB. Stasiun IMS merupakan bagian jejaring pengawas larangan ujicoba nuklir menyeluruh dalam kerangka CTBTO (Comprehensive nuclear Tes Ban Treaty Organization) di bawah kontrol Perserikatan Bangsa-Bangsa, sehingga memiliki kemampuan untuk mendeteksi pelepasan energi besar dan singkat baik di atmosfer, permukaan Bumi maupun di bawah tanah.
Bukan yang Pertama
Asteroid 2014 AA telah terdeteksi dalam 23 jam sebelum menumbuk Bumi oleh Richard Kowalski melalui teleskop 150 cm di Observatorium Gunung Lemmon Arizona (AS), tulangpunggung sistem penyigian langit Catalina Sky Survey. Penyigian ini yang bertujuan melacak benda langit pelintas dekat Bumi, khususnya asteroid dan komet. Asteroid terdeteksi saat masih berjarak hampir 500.000 km dari Bumi sebagai benda langit sangat redup dengan magnitudo semu hanya +19. Namun keberhasilan deteksi asteroid ini sebelum jatuh ke Bumi bukanlah kisah sukses pertama. Asteroid 2014 AA didului oleh asteroid 2008 TC3, yang telah terdeteksi pada 6 Oktober 2008 pukul 13:39 WIB atau hanya 20 jam sebelum menumbuk Bumi. Uniknya, asteroid 2008 TC3 juga pertama kali dideteksi oleh Kowalski menggunakan teleskop yang sama dan observatorium yang sama dengan yang digunakan dalam penemuan asteroid 2014 AA. Uniknya lagi, 2008 TC3 juga terdeteksi saat masih berjarak ~500.000 km dari Bumi.
Gambar 3. Orbit asteroid 2014 AA dan 2008 TC3 di antara orbit Venus, Bumi dan Mars, disimulasikan dengan Starry Night dari atas kutub utara Matahari pada 2 Januari 2014 pukul 07:00 WIB. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari NASA Solar System Dynamics.
Gambar 3. Orbit asteroid 2014 AA dan 2008 TC3 di antara orbit Venus, Bumi dan Mars, disimulasikan dengan Starry Night dari atas kutub utara Matahari pada 2 Januari 2014 pukul 07:00 WIB. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari NASA Solar System Dynamics.
Namun berbeda dengan asteroid 2014 AAA yang relatif ‘sepi’ dari sambutan, asteroid 2008 TC3 menyedot perhatian besar. Tak kurang dari 26 observatorium turut berpartisipasi dalam pengamatan yang membuahkan hingga 570 data. Berlimpahnya data membuat hasil perhitungan menjadi lebih akurat dan titik lokasi tumbukan pun dapat diperkirakan sebelumnya, yakni di ruang udara gurun Nubia yang secara administratif berada di Sudan bagian utara berdekatan dengan perbatasan Mesir. Akurasi ini memungkinkan observasi berlanjut dengan menggunakan satelit pengindera Bumi. Maskapai penerbangan komersial yang pesawatnya melintas di dekat prediksi titik tumbukan pun dikontak guna memastikan peristiwa tersebut.
Dan tumbukan pun akhirnya benar-benar terjadi. Asteroid 2008 TC3 (diameter ~4 meter, massa ~83 ton) melejit memasuki atmosfer Bumi pada kecepatan 12,4 km/detik (44.600 km/jam) pada sudut zenith 70 derajat. Satelit mata-mata AS merekam fragmentasi mulai terjadi pada saat asteroid, yang telah berubah menjadi meteor-terang, berada pada ketinggian 65 km. Satelit yang sama dan juga satelit cuaca Meteosat-8/Eumetsat merekam airburst terjadi pada ketinggian 37 km di koordinat 20,6 LU 33,1 BT. Airburst ini melepaskan energi 1,1 hingga 2,1 kiloton TNT dengan 10 % diantaranya berubah menjadi cahaya, sehingga padang pasir Nubia yang semula gelap mendadak benderang mengingat airburst nampak sebagai kilatan dengan magnitudo semu hingga -20 atau 800 kali lipat lebih benderang dibanding Bulan purnama. Kilatan cahaya ini mengejutkan penduduk setempat, yang sedang bersiap menunaikan shalat Shubuh. Kilatan cahaya yang sama juga teramati oleh pilot Ron de Poorter dan kopilot Coen van Uden, awak jumbo jet Boeing-747 penerbangan 592 milik maskapai KLM (Belanda) yang melayani rute Johannesburg (Afrika Selatan) – Amsterdam (Belanda) saat mereka berjarak sejauh 1.400 km dari titik airburst. Kilatan yang sama pun sempat terekam oleh kamera keamanan salah satu villa di di kota resor el-Gouna (Mesir) di pesisir Laut Merah, sejauh 725 km dari titik airburst.
Gambar 4. Atas: citra asteroid 2008 TC3 (dalam lingkaran kuning) yang diabadikan Observatorium Gunung Lemmon (AS) pada 6 Oktober 2008. Bawah: titik lokasi airburst asteroid 2008 TC3 berdasarkan citra inframerah satelit Meteosat-8. Panah menunjukkan lintasan asteroid, garis biru menunjukkan Sungai Nil. Sumber: NASA, 2008; Shaddad dkk, 2010.
Gambar 4. Atas: citra asteroid 2008 TC3 (dalam lingkaran kuning) yang diabadikan Observatorium Gunung Lemmon (AS) pada 6 Oktober 2008. Bawah: titik lokasi airburst asteroid 2008 TC3 berdasarkan citra inframerah satelit Meteosat-8. Panah menunjukkan lintasan asteroid, garis biru menunjukkan Sungai Nil. Sumber: NASA, 2008; Shaddad dkk, 2010.
Seperti halnya asteroid 2014 AA, peristiwa airburst asteroid 2008 TC3 pun tidak menyebabkan masalah pada permukaan Bumi dibawahnya meski merupakan daratan yang berpenduduk. Pelepasan energi hingga 2,1 kiloton TNT memang menghasilkan gelombang kejut (shockwave). Namun dengan titik airburst yang setinggi 37 km, kekuatan gelombang kejutnya telah sangat melemah kala tiba di permukaan Bumi dibawahnya sehingga tak berdampak merusak sama sekali. Gelombang kejut lemah inilah yang terekam sebagai gelombang infrasonik oleh instrumen mikrobarometer di stasiun IMS Kenya. Pasca kejadian, di kawasan padang pasir Nubia khususnya di sekitar titik koordinat airburst sepanjang proyeksi lintasan asteroid dijumpai banyak meteorit. Secara akumulatif telah ditemukan lebih dari 600 buah meteorit dengan massa akumulatif sebesar 10,5 kg yang kemudian dinamakan meteorit Almahata Sitta, merujuk pada nama Almahata Sitta (Stasiun KA no. 6 dalam bahasa Sudan) yang berlokasi di dekat titik airburst. Seperti halnya gelombang kejutnya, guyuran meteorit ini pun tak berdampak merusak, terlebih dengan jarangnya pemukiman penduduk di sini.
Keterbatasan
Baik asteroid 2008 TC3 maupun 2014 AA merupakan bagian keluarga asteroid dekat Bumi (near earth asteroid) kelas Apollo sehingga orbitnya, sebelum jatuh ke Bumi, merentang di antara orbit Venus hingga Mars. Tetapi perbandingan parameter orbit kedua asteroid menunjukkan meskipun keduanya sekeluarga, namun mereka adalah asteroid yang sama sekali berbeda sehingga tidak berasal dari satu induk yang sama.
Gambar 5. Perbandingan parameter orbit asteroid 2014 AA dan 2008 TC3. nampak perbedaan yang sangat besar pada parameter titik nodal menaik dan argumen perihelion, yang menandakan bahwa kedua asteroid ini tidak memiliki induk yang sama. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari NASA Solar System Dynamics.
Gambar 5. Perbandingan parameter orbit asteroid 2014 AA dan 2008 TC3. nampak perbedaan yang sangat besar pada parameter titik nodal menaik dan argumen perihelion, yang menandakan bahwa kedua asteroid ini tidak memiliki induk yang sama. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari NASA Solar System Dynamics.
Sukses deteksi asteroid 2008 TC3 dan 2014 AA mendemonstrasikan bagaimana kemampuan sistem penyigi langit terkini. Pada saat ini terdapat 14 sistem penyigi langit yang dioperasikan oleh sejumlah negara. Selain CSS (Catalina Sky Survey), Amerika Serikat juga mengoperasikan LINEAR (Lincoln Near Earth Asteroids Research), Spacewatch, Pan-STARRS (Panoramic Survey Telescope and Rapid Response System) dan WISE (Wide-field Infrared Survey Explorer). Negara-negara Eropa juga berpartisipasi entah sebagai Uni Eropa dengan EUNASO (European NEA Search Observatories) dan EURONEAR (European Near Earth Asteroid Research) maupun atas nama sejumlah negara seperti Spanyol lewat TOTAS (Teide Observatory Tenerife Asteroid Survey) dan LSSS (La Sagra Sky Survey), Italia lewat CINEOS (Campo Imperatore Near Earth Object Survey) serta kerjasama Italia-Jerman dalam bentuk ADAS (Asiago DLR Asteroid Survey). Di Asia terdapat Cina yang mengoperasikan CNEOS/NEOST (China NEO Survey/NEO Survey Telescope) dan Jepang dengan JSGA (Japanese Space Guard Association). Dan di Amerika Selatan ada Brazil dengan IMPACTON. Kecuali WISE yang berpangkal pada satelit, semuanya sistem penyigi langit tersebut berbasiskan teleskop robotik di permukaan Bumi yang dilengkapi instrumen CCD sensitif, seperangkat pengolah citra, kecerdasan buatan dan seperangkat basis data yang memungkinkan mereka mendeteksi asteroid dekat Bumi yang baru secara semi-otomatis.
Sistem-sistem penyigi langit itu cukup andal sehingga sebongkah batu seukuran 3 hingga 4 meter saja telah bisa dideteksi saat masih berjarak 500.000 km dari Bumi, atau lebih jauh dari Bulan, seperti didemonstrasikan dalam deteksi asteroid 2008 TC3 dan 2014 AA. Bahkan bongkahan batu sekecil 1 meter pun bisa dideteksi, seperti asteroid 2011 CQ1 yang ditemukan pada 4 Februari 2011 dalam jarak 366.000 km dari Bumi. Asteroid 2011 CQ1 kemudian melintas-sangat dekat, yakni pada jarak hanya 5.500 km di atas Samudera Pasifik hanya dalam 14 jam kemudian.
Namun demikian efektivitas sistem penyigian langit terbatas. Sistem tidak bisa memantau langit secara terus-menerus selama 24 jam penuh sehari karena sama sekali tak bisa bekerja di siang hari akibat terangnya Matahari. Dan di malam-malam tertentu pun kinerja sistem sangat terganggu oleh terangnya cahaya Bulan apalagi di sekitar Bulan purnama. Kemampuan sistem penyigi langit untuk menemukan asteroid dekat Bumi yang belum dikenali sebelumnya sangat bergantung pada geometri orbit asteroid tersebut. Pada umumnya asteroid dekat Bumi yang belum dikenal akan berhasil terdeteksi oleh sistem tersebut bila geometri orbitnya demikian rupa sehingga asteroid akan lebih benderang dibanding magnitudo semu +19 dalam beberapa belas/puluh jam sebelum ia benar-benar melintas dekat/menumbuk Bumi. Dan yang terakhir, kemampuan sistem penyigi langit terbatasi oleh penyebarannya yang tak merata. Hampir seluruh sistem penyigi terkonsentrasi di hemisfer utara dan hanya beberapa saja yang berpangkalan di belahan Bumi selatan. Ketidakseimbangan ini membuat pemantauan langit hemisfer selatan tidak lebih ketat dibanding hemisfer utara.
Gambar 6. Jejak terkini yang ditinggalkan dari peristiwa tumbukan asteroid-tanpa-nama yang tak terdeteksi sistem penyigian langit aktif masa kini. Atas: lubang selebar ~7 meter di permukaan es Danau Cherbakul, Chelyabinsk (Russia) yang dibentuk oleh meteorit berbobot ~600 kg pasca mengalami airburst dalam peristiwa Chelyabinsk. Bawah: kawah selebar 13,5 meter produk tumbukan asteroid berdiameter ~1 meter di Carancas (Peru). Sumber: Popova dkk, 2013; Tancredi dkk, 2009.
Gambar 6. Jejak terkini yang ditinggalkan dari peristiwa tumbukan asteroid-tanpa-nama yang tak terdeteksi sistem penyigian langit aktif masa kini. Atas: lubang selebar ~7 meter di permukaan es Danau Cherbakul, Chelyabinsk (Russia) yang dibentuk oleh meteorit berbobot ~600 kg pasca mengalami airburst dalam peristiwa Chelyabinsk. Bawah: kawah selebar 13,5 meter produk tumbukan asteroid berdiameter ~1 meter di Carancas (Peru). Sumber: Popova dkk, 2013; Tancredi dkk, 2009.
Terbatasnya efektivitas sistem menghasilkan celah besar dalam upaya mendeteksi semua asteroid dekat Bumi yang belum dikenali meskipun mereka akan melintas sangat dekat atau bahkan menuju ke Bumi sekalipun. Tidak semuanya bisa terdeteksi. Celah inilah yang kerap berakibat pelik. Contoh teraktual adalah peristiwa Chelyabinsk, saat asteroid-tanpa-nama yang tak terdeteksi (meski diameternya ~17 meter) mengalami airburst di atas kawasan Siberia (Rusia) dan melepaskan energi 500 kiloton TNT dengan gelombang kejut yang merusak kota Chelyabinsk dan sekitarnya. Pun demikian kala asteroid-tanpa-nama lainnya, dengan diameter ~10 meter, mengalami airburst di atas Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Indonesia) pada 8 Oktober 2009 yang melepaskan energi 60 kiloton TNT. Demikian pula kala asteroid-tanpa-nama yang lain, kali berdiameter ~1 meter, melejit menumbuk permukaan Bumi di dataran tinggi tepian danau Titicaca dan membentuk lubang besar (kawah) seukuran 13,5 meter di tepi desa Carancas (Peru).

Sumber: https://langitselatan.com/
Baca Lengkap
      edit

Tuesday, February 7, 2017

Published 11:00 PM by with 0 comment

Foto Spektakuler Nebula Cakar Kucing dan Nebula Lobster Dirilis

Foto berukuran 49.511 x 39.136 piksel ini diambil menggunakan OmegaCam, kamera 256 Megapiksel yang terpasang pada Very Large Telescope Survey Telescope ESO.

Foto Spektakuler Nebula Cakar Kucing dan Nebula Lobster DirilisNebula Cakar Kucing (NGC 6334) dan Nebula Lobster (6357). (ESO)
Astronom telah lama mempelajari awan gas dan debu kosmik bercahaya yang dikatalogkan sebagai NGC 6334 dan NGC 6357. Baru-baru ini, European Southern Observatory (ESO) merilis foto paling detail keduanya. Bentuk jelas kedua awan kosmik ini mengingatkan kita kembali pada nama mereka yang berkesan: Nebula Cakar Kucing dan Nebula Lobster.
Foto berukuran 49.511 x 39.136 piksel ini diambil menggunakan OmegaCam, kamera 256 Megapiksel yang terpasang pada Very Large Telescope Survey Telescope (VST) ESO. (Lihat gambar yang bisa diperbesar di tautan ini)
NGC 6334 terletak sekitar 5.500 tahun cahaya jauhnya dari Bumi, sementara Nebula Lobster alias NGC 6357, jauh lebih terpencil lagi, sekitar 8.000 tahun cahaya. Keduanya berada di rasi bintang Scorpion, di dekat ujung ekor penyengatnya.
Kolase foto NGC 6334 dan NGC ...Kolase foto NGC 6334 dan NGC 6357. Daerah langit ini merupakan wilayah aktif pembentukan bintang. Bintang-bintang muda yang panas di daerah ini membuat awan hidrogen di sekelilingnya bercahaya dengan warna merah yang khas. (ESO)
Nebula-nebula ini sebagian besar tersusun atas gas hidrogen dan dipenuhi oleh bintang muda panas yang massanya 10 kali Matahari. Keduanya menmancarkan cahaya ultraviolet, yang diserap oleh hidrogen dan dipancarkan kembali menjadi cahaya merah yang khas.
Kedua nebula tersebut pertama kali dilihat oleh astronom Inggris, John Herschel, pada 1837 dari Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Karena saat itu teknologi yang ada belum memadai, Herschel hanya dapat mengamati ‘jari’ paling terang dari Nebula Cakar Kucing. Kini, berkat gambar terbaru yang lebih rinci, pintu untuk mempelajari kedua nebula ini kian terbuka lebar. 

(Lutfi Fauziah. Sumber: European Southern Observation, IFL Science)
Baca Lengkap
      edit
Published 4:55 PM by with 0 comment

Apakah Alam Semesta Memuai Lebih Cepat?

Menurut para ilmuwan, 14 milyar tahun lalu, Alam Semesta memuai saat terjadi Big Bang atau Dentuman Besar. Itulah awal dari alam semesta. Sejak saat itu, alam semesta memuai dan berevolusi menjadi seperti yang kita kenal saat ini dan masih terus bertumbuh.
Kalau kamu melihat ke semua arah di angkasa, galaksi-galaksi jauh akan tampak bergerak menjauhi kita. Semakin jauh galaksi, semakin cepat pula ia bergerak menjauhi pengamat. Ini yang disebut sebagai pemuaian alam semesta.
Pertumbuhan atau pemuaian alam semesta bisa diukur oleh para ilmuwan dengan beberapa cara. Salah satunya dengan mempelajari “pendar yang tersisa” setelah Alam Semesta lahir. Mirip seperti asap yang bergerak menjauh setelah kembang api. Pendar yang tersisa dari Dentuman Besar justru tetap bertahan di angkasa.
Metode lainnya dengan menggunakan fenomena alam “lensa kosmik” atau kita kenal sebagai lensa gravitasi. Lensa kosmik terjadi saat dua galaksi berjejer, dimana galaksi yang satu berada di belakang galaksi lainnya, dari sudut pandang kita di Bumi. Untuk penelitian ini, target pengamatan adalah galaksi masif yang berada di antara Bumi dan quasars yang jauh (inti galaksi yang luar biasa terang). Cahaya dari galaksi jauh ini akan mengalami pembelokkan saat berada di dekat galaksi masif yang lebih dekat dengan Bumi.
Akibatnya, galaksi jauh yang seharusnya tersembunyi di balik galaksi masif yang dekat, justru bisa tampak. Untuk pengamatan ini, galaksi jauh itu tampak di foto yang diambil. Menariknya, kita seperti melihat hantu dari galaksi-galaksi jauh dalam foto seperti penampakkan berulang-ulang. Kamu bisa melihat efek ini di tengah foto yang ada di bawah ini.
Lensa kosmik. Fenomena alam yang menjadikan galaksi yang lebih dekat sebagai lensa untuk membelokkan cahaya galaksi jauh yang melewatinya. Kredit: ESA/Hubble, NASA, Suyu et al.
Lensa kosmik. Fenomena alam yang menjadikan galaksi yang lebih dekat sebagai lensa untuk membelokkan cahaya galaksi jauh yang melewatinya. Kredit: ESA/Hubble, NASA, Suyu et al.
Dari posisi dan bentuk foto lensa gravitasi, kita bisa mengetahui jarak galaksi jauh tersebut. Galaksi yang jadi lensa ini tidak benar-benar sejajar dengan quasar atau si galaksi jauh. Cahaya dari setiap hantu galaksi jauh akan mengikuti jalur yang panjangnya berbeda-beda. Karena kecerlangan quasar juga berubah seiring waktu, setiap foto hantu quasar akan berkedip pada waktu yang berbeda. Jeda di antara setiap kedipan bergantung pada panjangnya jalur yang dilalui cahaya. Jeda inilah yang jadi petunjuk untuk mengukur konstanta Hubble untuk mengetahui laju pemuaian Alam Semesta.
Hasilnya, pengukuran terbaru pemuaian Alam Semesta jauh yang dilakukan para ilmuwan tidak sesuai dengan pengukuran sebelumnya. Ternyata, Alam Semesta kita itu memuai lebih cepat dari yang diharapkan!
Fakta keren: Fakta kalau galaksi-galaksi itu menjauh dari kita bukan bukti kalau kita adalah pusat Alam Semesta. Cara mudah untuk memahaminya, bayangkan kita sedang memanggang roti kismis di oven. Waktu dipanggang, adonan roti kismis mengembang dan kismis – kismis di dalamnya akan menjauh satu sama lainnya. Dimanapun semua kismis berada di roti, mereka akan melihat kismis lainnya menjauh dari dirinya.

Sumber: Dipublikasi kembali dari Space Scoop Universe Awareness edisi Indonesia
Baca Lengkap
      edit