Showing posts with label Fauna. Show all posts
Showing posts with label Fauna. Show all posts

Thursday, January 26, 2017

Published 7:47 PM by with 0 comment

Spesies Kepiting Baru Ini Diberi Nama Seperti Tokoh dalam Serial Harry Potter

Spesies baru kepiting bertubuh kuning pucat dengan mata serupa manik-manik ini diberi nama seperti karakter dalam serial Harry Potter, dan juga penemunya.

Spesies Kepiting Baru Ini Diberi Nama Seperti Tokoh dalam Serial Harry PotterSpesies kepiting baru Harryplax severus ini hidup di bawah puing-puing karang mati di sepanjang pesisir Guam, sebuah pulau di barat Samudra Pasifik. (Jose C.E. Mendoza via National Geographic)
 
Para peneliti mengumumkan penemuan spesies kepiting baru yang hidup di bawah puing-puing karang mati di sepanjang pesisir Guam, sebuah pulau di barat Samudra Pasifik.
Spesies baru kepiting bertubuh kuning pucat dengan mata serupa manik-manik ini diberi nama Harryplax severus. Penamaan tersebut merupakan bentuk penghormatan pada Profesor Severus Snape, karakter dalam serial Harry Potter karya J.K. Rowling.
“Snape menjaga salah satu rahasia paling penting dalam kisah tersebut, seperti halnya spesies baru yang menghindar untuk ditemukan hingga hari ini, hampir 20 tahun setelah hewan tersebut pertama kali dikumpulkan,” kata ahli biologi National University of Singapore, Jose Mendoza dan Peter Ng, dalam laporan penelitian mereka di jurnal ZooKeys.
Nama severus merupakan kata dalam Bahasa Latin yang berarti “keras”, juga menggambarkan upaya tak kenal lelah dari pengumpul amatir bernama Harry Conley, yang pertama kali menemukan spesimen hewan itu pada 1998 dan 2001.
Ketika Conley meninggal dunia pada 2002 dengan tragis—ditembak tepat di kepalanya saat ia tengah memaparkan argumen, sampel-sampel miliknya diserahkan pada ahli biologi Gustav Paulay, yang kemudian menyerahkan sampel tersebut pada Peter Ng, ahli taksonomi kepiting.
Kedua kepiting tak biasa tersebut belum pernah dideskripsikan secara resmi sebagai spesies baru hingga bertahun-tahun kemudian, ketika Ng dan Mendoza akhirnya menyadari bahwa kepiting tersebut mewakili genus baru. Lebih dari itu, H. severus merupakan spesies kedua dari keluarga kepiting Christmaplacidaer, dan merupakan yang pertama ditemukan di Samudra Pasifik.
Sedangkan nama genusnya, Harryplax, tak hanya mengacu pada Harry Potter, tetapi juga bertujuan untuk mengabadikan nama sang penemu pertama, Harry Conley, dalam catatan ilmiah.
“Nama itu diberikan sebagai penghormatan atas kemampuannya yang luar biasa dalam mengumpulkan makhluk-makhluk langka nan menarik, seakan ia menggunakan sihir,” pungkas Mendoza.

(Lutfi Fauziah. Sumber: Michael Greshko/National Geographic)
Baca Lengkap
      edit

Saturday, January 21, 2017

Published 3:12 AM by with 0 comment

Saksikan Video Ular Paling Mematikan Menelan Piton Raksasa

Dalam tayangan video ini, salah satu ular paling berbisa di dunia, Pseudonaja textilis, menelan ular piton karpet berukuran besar.
Saksikan Video Ular Paling Mematikan Menelan Piton RaksasaUlar cokelat timur tengah menelan ular piton karpet. (Sally Hill via National Geographic)
Dikenal sebagai salah satu ular paling berbisa di dunia, Pseudonaja textilis merupakan predator tangguh. Senin lalu, seorang wanita yang tengah menjemur pakaian di Goodna, dekat Brisbane, terkejut ketika menemukan ular tersebut di teras rumahnya.
P. textilis, atau disebut juga ular cokelat timur besar dari Australia itu ditemukan menyerang dan menggigit ular piton karpet tak berbisa. Racun neurotoksik dari ular cokelat timur sangat ampuh. Racun  tersebut dapat membunuh manusia dalam waktu 15 menit jika tidak diobati dengan antivenin.
Setelah pertempuran awal, ular cokelat timur mundur selama beberapa menit Ketika ular piton meregang nyawa, ular cokelat tmur kembali dan mulai menelan seluruh mangsanya.
Pemilik rumah segera menelepon Sally Hill, seorang ahli yang telah menjalankan bisnis pemindahan ular professional di wilayah tersebut selama 26 tahun bersama suaminya. Mereka segera tiba di lokasi kejadian dan merekam peristiwa tersebut.
“Sangat tak lazim melihat kejadian ini, benar-benar luar biasa,” kata Hill.
Sembari membiarkan ular cokelat timur itu menyelesaikan makanannya, dengan lembut Hill memandunya untuk masuk ke dalam kantong ular hitam agar hewan tersebut merasa lebih aman. Mereka membiarkan ular itu sekitar tiga jam hingga benar-benar menelan piton besar tersebut.
Setelah itu, Hill membawa ular tersebut beberapa km di luar kota menuju area liar dan melepaskannya. Ular tersebut tidak memuntahkan mangsa raksasanya, itu berarti hewan tersebut tak mengalami stress. Ular tersebut juga tampak sehat ketika kembali ke semak-semak.
“Ini merupakan kejadian tak biasa, karena ular cokelat timur biasanya tidak memakan ular piton karpet,” kata Hill.
Ular cokelat timur umumnya terlihat memangsa celurut, tikus dan burung. Kadang-kadang mereka juga terlihat memangsa sesamanya, atau ular yang lebih kecil.
Dengan suhu yang kian menghangat di Queesland, Hill menjadi lebih sering berhadapan dengan ular cokelat timur, yang cenderung lebih aktif saat suhu lebih hangat. Hill kadang memindahkan ular yang ditemukan di bawah bantal seseorang, di bawah mobil, dan terjebak di kelambu.
Ditemukan di sepanjang pesisir timur Australia, ular cokelat timur hidup di beragam habitat dan lebih aktif di siang hari. Panjang ular tersebut rata-rata satu hingga tiga meter.
Sementara itu, ular piton karpet (Morelia spilota) dapat tumbuh hingga empat meter dan berat 14 kg. Rata-rata ular piton karpet dewasa berukuran panjang sekitar 3 meter. Ular ini merupakan hewan semi arboreal, artinnya, mereka  menghabiskan sebagian besar waktunya di pepohonan, dan aktif di malam hari.  

(Lutfi Fauziah. Sumber: Brian Clark Howard/National Geographic)
Baca Lengkap
      edit

Friday, January 20, 2017

Published 8:10 PM by with 0 comment

Lebih dari Setengah Primata di Bumi Terancam Punah

Aktivitas manusia yang tidak berkelanjutan sekarang menjadi kekuatan utama yang mendorong spesies primata punah.
Lebih dari Setengah Primata di Bumi Terancam PunahDari kiri atas searah jarum jam: Monyet emas berhidung pesek; lemur ekor cincin; monyet colobus merah Udzungwa; kukang jawa; orangutan sumatra; dan monyet malam Azara. (Claudia Valeggia (Yale University)/Owl Monkey Project, Formosa-Argentina)
Sekitar 60 persen dari 504 spesies primata, kerabat biologis yang paling dekat dengan manusia, terancam punah. Demikian menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances. Studi tersebut juga menyatakan bahwa tiga perempat dari primata di dunia mengalami penurunan populasi.
"Aktivitas manusia yang tidak berkelanjutan sekarang menjadi kekuatan utama yang mendorong spesies primata punah," tulis peneliti dalam laporan itu.
Proyeksi pertumbuhan populasi manusia di seluruh dunia dari 7,3 miliar menjadi 9,3 miliar pada 2050, akan menyebabkan tekanan dramatis pada simpanse, owa dan kukang, yang berjuang untuk bertahan hidup.
Ancaman terbesar adalah perusakan habitat alami mereka, seperti hutan hujan Amazon, Kalimantan, Sumatra dan hutan lainnya, untuk pertanian dan peternakan. Ekspansi lahan pertanian mengancam 76 persen dari spesies primata, menurut para peneliti. Selain itu, 60 persen di antara spesies juga terancam oleh pemburu dan perangkap manusia.
"Mengingat sejumlah besar spesies saat ini terancam dan mengalami penurunan populasi, dunia akan segera menghadapi peristiwa kepunahan besar jika tindakan yang efektif tidak segera dilaksanakan," tulis tim yang terdiri dari 31 ilmuwan tersebut.
Primata terutama mendiami kawasan hutan dan secara alami ada di 90 negara. Namun dua pertiga dari semua spesies primata terkonsentrasi di Brasil, Indonesia, Republik Demokratik Kongo dan Madagaskar.
Peta persebaran primata di ...Peta persebaran primata di dunia, dan presentase spesies terancam serta penurunan populasinya. (Tim studi/Science Advances)
Peta di atas menunjukkan daerah mana yang populasi primatanya 'paling terancam’. Daerah paling suram ialah Madagaskar. Peneliti menyimpulkan bahwa 87 persen dari spesies primata di sana terancam punah. Di Asia, 73 persen terancam, dan di daratan Afrika, 37 persen terancam.
Hilangnya spesies dapat menyebabkan dampak buruk pada bagian ekosistem lain. Perburuan siamang yang terjadi di Thailand, misalnya, telah menimbulkan "efek negatif" pada jenis pohon yang bergantung pada siamang untuk menyebarkan biji-bijinya.
Studi ini menyusul penilaian suram satwa liar yang memperingatkan potensi bencana bagi banyak primata di masa depan, termasuk kera besar yang telah paling banyak berevolusi. Empat dari tujuh spesies kera besar, seperti gorila dan orangutan, telah masuk dalam daftar spesies IUCN dengan status konservasi “Kritis”.
Untuk melindungi primata dari kepunahan, diperlukan upaya untuk menerapkan perubahan besar terhadap perilaku manusia. Menurunkan tingkat kelahiran, memerangi kemiskinan dan ketimpangan sosial, serta meningkatkan kesehatan masyarakat akan meringankan tekanan yang mendorong primata pada kepunahan.
Meningkatkan ukuran suaka hewan dan kawasan lindung juga harus menjadi tujuan di seluruh dunia. Namun studi justru menemukan bahwa negara-negara di Asia, Afrika dan Amerika telah mengurangi perlindungan satwa liar.
Dalam laporan itu, para peneliti mengatakan bahwa tujuan studi ini bukan untuk menghasilkan daftar ancaman, melainkan untuk menarik perhatian publik pada beberapa faktor antropogenik global dan regional yang membahayakan primata di seluruh dunia.
“Selain itu juga untuk mendorong pembangunan berkelanjutan dan menciptakan solusi efektif yang dapat membantu meningkatkan kelangsungan hidup primata dalam jangka menengah dan panjang.”
(Lutfi Fauziah. Sumber: Michael McLaughlin/Huffington Post)
Baca Lengkap
      edit
Published 8:06 PM by with 0 comment

Spesies Baru Katak Beracun Ditemukan di Hutan Amazon

Spesies baru katak beracun dengan tubuh berwarna hitam dengan dua garis oranye ini diberi nama Ameerega shihuemoy.

Spesies Baru Katak Beracun Ditemukan di Hutan AmazonSpesies katak beracun yang baru ditemukan ini diberi nama Ameerega shihuemoy (Charlie Hamilton James/National Geographic)
Ahli herpetologi asal Peru, Shirley Jennifer Serrano Rojas, menemukan spesies baru katak beracun di tepian sungai dalam wilayah Cagar Biosfer Manú, di pedalaman Hutan Amazon, Peru. Spesies dengan tubuh berwarna hitam dengan dua garis oranye ini diberi nama Ameerega shihuemoy.
Katak beracun, merupakan nama umum dari sekelompok katak dalam keluarga Dendrobatidae yang merupakan katak asli Amerika Tengah dan Selatan. Warna cerah yang mencolok pada kelompok katak beracun berfungsi sebagai tanda peringatan bagi predator, bahwa katak ini berbahaya jika dimangsa.
Amfibi ini sering disebut katak panah oleh pribumi indian akibat penggunaan sekresi beracun mereka untuk meracuni ujung panah. Namun di sisi lain, alasan para ahli herpetologi tertarik untuk mempelajari katak panah lebih dari sekedar racunnya. 
“Katak beracun punya cara unik dalam membesarkan anak-anaknya. Tak seperti kebanyakan katak jantan yang meninggalkan betinanya setelah bertelur, katak beracun jantan akan tetap berada di sekitar telur-telur dan menjaganya,” ungkap ahli biologi evolusioner, Kyle Summers dari East Carolina University.
Summers melanjutkan, sang calon ayah ini memastikan telur-telur tetap terhidrasi dan terbenam dalam air. mereka kemudian akan memindahkan berudu ke kolam-kolam air kecil, sementara sang ibu akan meletakkan lebih banyak telur, untuk dihidangkan sebagai makanan bagi anak-anaknya yang tengah bertumbuh.
Ahli herpetologi asal Peru, ...Ahli herpetologi asal Peru, Shirley Jennifer Serrano Rojas, menemukan spesies baru katak beracun di tepian sungai dalam wilayah Cagar Biosfer Manú, di pedalaman Hutan Amazon, Peru. (Charlie Hamilton James/National Geographic)
Berpacu dengan waktu
Sudah bukan rahasia lagi bahwa bagian hutan hujan Amazon terus menghilang tiap tahun akibat aktivitas manusia. Ini berarti para ilmuwan seperti Serrano Rojas harus berpacu dengan waktu untuk menemukan dan mendeskripsikan spesies-spesies baru sebelum mereka musnah. Cagar Biosfer Manú merupakan salah satu upaya pemerintah Peru untuk melindungi keanekaragaman hayati di negaranya.
Cagar biosfer itu mencakup taman nasional dan beberapa area perbatasan yang berfungsi sebagai daerah penyangga. Di daerah penyangga inilah Serrano Rojas pertama kali mendengar suara Ameerega shihuemoy, hingga berujung pada penemuannya.
“Ini penemuan menarik, tetapi spesies tersebut terancam oleh kepunahan dan akan semakin parah jika kita tidak membuat rencana konservasi,” katanya.
Pernyataan tersebut diamini oleh Summers. Ia mengungkapkan bahwa Cagar Biosfer Manú merupakan titik utama bagi beragam katak dan spesies lain. Penemuan ini, kata Summers, memperjelas bahwa betapa sedikit yang kita ketahui tentang wilayah tersebut. Ia meyakini bahwa masih banyak spesies katak beracun yang menunggu untuk ditemukan.
“Masalahnya, mereka menghilang sebelum kita sempat mempelajarinya,” pungkas Summers.
(Lutfi Fauziah. Sumber: Carrie Arnold/National Geographic)
Baca Lengkap
      edit

Wednesday, January 18, 2017

Published 2:10 AM by with 0 comment

Punya "Jambul" Kuning, Ngengat Ini Dinamai Donald Trump


Meneliti koleksi Bohart Museum of Entomology, pakar biologi dan evolusi Kanada, Vazrick Nazari, menemukan spesies ngengat unik yang punya ornamen semacam jambul di wajah.
Nazari menamai spesies baru itu Neopalpa donaldtrumpi, sesuai dengan nama Presiden ke-45 Amerika Serikat, Donald Trump. 
Mengapa dinamai dengan nama Trump?
"Epitet spesifik ini dipilih untuk merepresentasikan ornamen semacam sisik di kepala yang mirip dengan jambul Donald Trump," katanya.
"Pemilihan nama ini juga bertujuan untuk mengajak publik menyadari pentingnya melindungi habitat yang rentan yang masih menyimpan banyak spesies yang belum terdeskripsikan," katanya.
N donaldtrumpi adalah hewan kecil yang lebarnya tak sampai 1 cm dan sayap berwarna kuning-oranye dan coklat.
Nazari menyadari bahwa N donaldtrumpi memiliki karakter berbeda dari spesies ngengat lain sehingga menyatakannya sebagai spesies baru.
"Saya harap Donald Trump menerimanya dengan baik sesuai dengan semangat penamaannya," kata Nazari seperti dikutip Washington Post, Selasa (17/1/2017).
"Kita perlu pemerintahan selanjutnya melanjutkan usaha melindungi habitat yang rentan di seluruh Amerika Serikat," katanya.
N donaldtrumpi bisa ditemukan di Algodones Dunes, California bagian selatan (sumber: kompas.co.id).
Baca Lengkap
      edit