Friday, January 27, 2017

Published 12:28 AM by with 0 comment

Panduan Lengkap Cara Budidaya Edamame (Kedelai Jepang) Berkualitas

Edamame adalah kacang kedelai yang masih dalam polong yang belum sepenuhnya dewasa. Edamame sering dapat ditemukan di Jepang, dan di Hawaii. Departemen Pertanian Amerika Serikat menyatakan bahwa kacang edamame adalah kedelai yang dapat dimakan langsun atau masih segar dan yang dikenal terbaik sebagai camilan dengan kandungan gizinya. Edamame kaya protein, serat makanan, dan mikronutrien, terutama folat, mangan, fosfor dan vitamin K. Keseimbangan asam lemak dalam 100 gram edamame adalah 361 mg asam lemak omega-3-1794 mg omega-6 asam lemak. Untuk itu budidaya kacang edamame juga berpotensi untuk mendorong perekonomian sehari-hari.
Edamame


Lingkungan yang Cocok


Persyaratan pertumbuhan kedelai jepang (edamame) hampir tidak berbeda dengan pertumbuhan kedelai lokal. Kedelai dalam tumbuh di daerah daratan rendah dan tinggi. Kedelai sangat baik apabila ditanam di tanah yang subur, gembur, dan cukup air, tetapi tidak becek. Kebersihan terhadap pembudidayaan kedelai jepang tergantung pada kecukupan air, kelembaban yang tinggi, dan pemeliharaan yang intensif (pemeliharaan yang teratur).


Sebagai barometer (pedoman) untuk mengetahui bahwa suatu tanah merupakan tempat yang cocok untuk tanaman kedelai atau tidak cocok dapat dilihat apakah tempat itu dapat ditanami tanaman jagung. Apabila tanaman jagung dapat tumbuh baik dan hasilnya pun baik, daerah tersebut cocok untuk tanaman kedelai baik kedelai lokal maupun kedelai jepang (edamame).

Penanaman


Pengolahan Tanah


Tanah merupakan media tumbuh dan perkembangan tanaman. Namun, tidak begitu saja tanah dapat menjamin keberhasilan usaha penanaman. Adakalanya penanaman berhasil, tetapi andakalanya kurang berhasil, dan bahkan gagal.

Untuk menunjang keberhasilan usaha penanaman, perlu diperhatikan pengolahan tanah sebelum tanam, walaupun kedelai dapat ditanam tanpa pengolahan tanah terlebih dahulu.

Teknisi pengolahan tanah berbeda-beda, bergantung pada kondisi dan jenis tanahnya. Pengolahan tanah bertujuan memperbaiki tekstur dan struktur tanah (menggemburkan tanah) sehingga didapatkan kondisi tanah yang cocok untuk pertumbuhan kedelai jepang (edamame).

Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan seperlunya saja dengan melihat struktur dan porositasnya. Dalam kondisi struktur dan porositas yang baik (sudah gembur) sebetulnya pengolahan tanah tidak diperlukan lagi. Seandainya dilakukan pengolahan tanah, hanya cukup dilakukan dengan membuang gulmanya (rumput) saja.

Pengolahan tanah yang baik, baik pengolahan ringan maupun dalam, perlu disesuaikan dengan per- kembangan tanaman. Pengolahan tanah perlu dilakuakn apabila kondisi tanah sudah padat. Dengan adanya pengolahan, akan dapat menggemburkan tanah dan dapat memperbaiki pori-pori tanah sehingga udara dapat tersebar merata dalam tanah.

Untuk mendapatkan hasil pengolahan tanah yang baik, kita perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Pengolahan tanah tidak menjadi penyebab hilangnya kandungan bahan organik dari tempat semula di dalam tanah.
  2. Pengolahan tanah dengan bajak, pembuatan guludan (bedengan) harus searah dengan garis kontur (sengkedan) atau menyilang lereng.
  3. Pada bagian tanah yang memiliki kemiringan agak curam, pengolahan tanah harus mencakup pembuatan kontur (sengkedan) agar dapat menghindari hanyutnya lapisan olah tanah (mencegah erosi).

Dengan pengolahan tanah, dapat diubah sifat fisika tanah yang dapat mempengaruhi peredaran udara, air, zat-zat yang terlarut dalam tanah, dan mikro organisme atau jasad renik dalam tanah. Semuanya itu dapat berpengaruh terhadap kehidupan dan perkembangan tanaman.

Teknisi pengolahan tanah berbeda-beda, bergantung pada kondisi dan jenis tanahnya. Pengolahan tanah bertujuan memperbaiki tekstur dan struktur tanah (menggemburkan tanah) sehingga didapatkan kondisi tanah yang cocok untuk pertumbuhan kedelai jepang (edamame).

Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan seperlunya saja dengan melihat struktur dan porositasnya. Dalam kondisi struktur dan porositas yang baik (sudah gembur) sebetulnya pengolahan tanah tidak diperlukan lagi. Seandainya dilakukan pengolahan tanah, hanya cukup dilakukan dengan membuang gulmanya (rumput) saja.

Pengolahan tanah yang baik, baik pengolahan ringan maupun dalam, perlu disesuaikan dengan per- kembangan tanaman. Pengolahan tanah perlu dilakuakn apabila kondisi tanah sudah padat. Dengan adanya pengolahan, akan dapat menggemburkan tanah dan dapat memperbaiki pori-pori tanah sehingga udara dapat tersebar merata dalam tanah.

Untuk mendapatkan hasil pengolahan tanah yang baik, kita perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Pengolahan tanah tidak menjadi penyebab hilangnya kandungan bahan organik dari tempat semula di dalam tanah.
  2. Pengolahan tanah dengan bajak, pembuatan guludan (bedengan) harus searah dengan garis kontur (sengkedan) atau menyilang lereng.
  3. Pada bagian tanah yang memiliki kemiringan agak curam, pengolahan tanah harus mencakup pembuatan kontur (sengkedan) agar dapat menghindari hanyutnya lapisan olah tanah (mencegah erosi).

Dengan pengolahan tanah, dapat diubah sifat fisika tanah yang dapat mempengaruhi peredaran udara, air, zat-zat yang terlarut dalam tanah, dan mikro organisme atau jasad renik dalam tanah. Semuanya itu dapat berpengaruh terhadap kehidupan dan perkembangan tanaman.

Cara Tanam


Penanaman dilakukan dengan jarak tanam 20 x 20 sampai dengan 25 x 25 cm dengan kedalaman ± 3 cm, satu lubang ditanami satu biji.

Pemberian Penutup Tanah (Mulsa)


Jerami


Setelah kedelai tumbuh, segera diberi penutup tanah (mulsa) dari jerami. Pemberian jerami dilakukan secara hati-hati agar tidak mematahkan kedelai yang baru tumbuh. Mulsa selain dapat mempertahankan kelembapan tanah, juga dapat menekan pertumbuhan gulma (rumput pengganggu). Selain itu, setelah busuk, jerami dapat berfungsi sebagai pupuk.

Pola Tanam


Kedelai jepang (edamame) memiliki tiga macam pola tanam. Pola tanam itu adalah sebagai berikut:

  1. Pola tanam menokultur (satu jenis tanaman), tanaman kedelai ditanam khusus pada satu areal tanpa adanya campuran tanaman lain.
  2. Pola tanam tumpang sari, tanaman kedelai ditanam dalam satu arela bersama dengan tanaman lain, misalnya dengan tanaman jagung dan ketela pohon.
  3. Pola tanam Alley cropping, tanaman kedelai ditanam pada areal berlereng dengan batas tanaman lain sebagai pagar.

Pemeliharaan Tanaman


Pemeliharaan tanaman dalam pembudi- dayaan edamame meliputi, penyulaman, penyiangan, pemupukan, pengairan, pem- bumbunan, dan pengendalian hama penyakit.

Penyulaman


Agar tanaman dapat tumbuh dengan serempak, sebaiknya bersamaan dengan penanaman disiapkan juga pembibitan kedelai dalam polybag atau kantong-kantong plastik kecil yang telah diisi dengan campuran tanah, pasir, dan pupuk kandang\kompos dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Penyemaian kedelai untuk cadangan penyulaman lebih kurang | bagian (^-nya dari jumlah benih yang ditanam).

Namun, apabila penyulaman dilakukan dengan menggunakan biji, penyulaman di­lakukan sedini mungkin (lebih kurang 5 hari setelah tanam). Penyulaman dapat mengguna­kan benih cadangan yang disiapkan untuk penyulaman.

Peyiangan


Penyiangan dalam pembudidayaan kedelai jepang (edamame) mutlak dilakukan untuk mengurangi persaingan hidup antara tanaman pokok dan gulma yang ada pada tanaman. Penyilangan dilakukan pada umur 3-4 minggu. Penyilangan tidak boleh dilakukan pada saat tanaman sedang berbunga karena dapat merontokkan bunga.

Gulma yang sampai sekarang merupakan kendala yang sulit dikendalikan adalah rumput teki. Hal itu disebabkan daur hidupnya relatif singkat. Umbi yang tertinggal ± 2 hari mulai tumbuh kembali.

Pembumbunan


Pembumbunan biasanya dilakukan ber- samaan dengan penyilangan dan sekaligus dengan penggemburan tanah di sekitar batang.

Pembumbunan pada edmame bertujuan


  1. Memperkokoh batang edamame agar tidak mudah roboh;
  2. Memperbaiki aerasi (pertukaran udara dalam tanah) dan pengairan tanah;
  3. Menekan pertumbuhan gulma (rumput pengganggu);
  4. Mempercepat proses pembusukan mulsa (penutup tanah) sebagai penambahan pupuk organik tanah.

Pembumbunan dilakukan pada saat setelah dilakukan pemupukan susulan, ± pada umur 20 hari, agar pupuk yang diberikan dapat diserap tanaman secara efektif (dengan baik).

Pembumbunan selanjutnya dilakukan menjelang tanaman berbunga. Pembumbunan dilakukan dengan mengesrik dan menaikkan tanah antarbedengan ke permukaan bedengan di antara barisan tanaman.

Pemupukan


Tanah merupakan media untuk tumbuh tanaman. Di dalam tanah terkandung unsur-unsur hara, baik unsur makro maupun mikro. Namun, kandungan hara belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Jika kekurangan unsur tersebut, tanah harus diberi pupuk. Tanah yang kekurangan pupuk, tetapi tidak diberi tambahan pupuk maka petumbuhan tanaman akan terganggu.

Untuk mendaptkan pemupukan yang efektif, pemupukan harus memenuhi persyaratan kuantitatif dan kualitatif. Persyaratan kuantitatif adalah dosis pupuk yang diberikan. Persyaratan kualitatif mencakup 3 hal.

  1. Unsur hara (pupuk) diberikan sesuai dengan kebutuhan tanaman.
  2. Waktu dan penempatan pupuk harus tepat.
  3. Pupuk yang diberikan dapat diserap oleh tanaman.

Apabila pemupukan dapat memenuhi persayaratan seperti di atas, kemungkinan besar hasil pemupukan akan tercapai secara maksimal.

Dalam pemupukan dikenal adanya pemupukan persediaan dan pemupukan susulan. Pemupukan persediaan dilakukan sebelum tanam atau bersamaan dengan penanaman, sedangkan pemupukan susulan diberikan setelah tanam.

Pupuk adalah bahan organik/anorganik yang diberikan pada tanah guna melengkapi unsur hara esensial bagi tanaman atau untuk memperbaiki sifat tanah.

Pupuk Anorganik


Yang termasuk pupuk anorganik adalah Urea, ZA, TSP, KCI, dan ZK pupuk buatan pabrik.

Kebaikan pupuk anorganik, antara lain adalah :

  1. Susunan dan kandungan unsurnya tetap;
  2. Perhitungannya lebih mudah sehingga mudah untuk menetapkan dosis;
  3. Menghemat tenaga.

Keburukan pupuk anorganik adalah:

  1. Apabila terus-menerus dipupuk dengan pupuk anorganik karena sebagian mengandung unsur mikro, tanah akan kekurangan unsur mikro.
  2. Pupuk anorganik sering memberi pengaruh yang kurang baik terhadap keadan fisik tanah (struktur tanah menjadi jelek).
  3. Mikro organisme tanah tidak berkembang dengan baik.
  4. Kesalahan teknis menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya tanaman seperti terbakar.
  5. Pada umumnya pupuk anorganik hanya mengandung 2 unsur makro saja, ada kalanya mengandung 2 unsur atau lebih, seperti pupuk kompond/campuran (NPK).

Pupuk Organik


Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari sisa tanaman atau kotoran hewan yang telah membusuk. Dalam penggunakaan pupuk, lebih tepat apabila petani menggunakan pupuk organik (pupuk kandang, kompos atau pupuk hijau).

Dengan menggunakan pupuk organik, petani dapat memanfaatkan sisa-sisa tanaman, sampah, dan juga kotoran hewan untuk dijadikan pupuk yang baik bagi tanaman dan tanah. Penggunaan pupuk organik selain dapat menambah kekurangan unsur hara yang dibutuhkan tanaman juga dapat memperbaiki struktur tanah (memperbaiki kondisi tanah).

Dengan demikian, tanah yang tadinya padat dan keras akan menjadi gembur. Jenis pupuk organik, di antaranya, adalah pupuk kandang, pupuk kompos, dan pupuk hijau.

Pupuk Kandang


Pupuk kandang adalah pupuk yang terbuat dari kotoran ternak, sisa makanan, atau kotoran bekas alas tidur ternak. Kotoran yang baru keluar dari perut ternak belum dapat digunakan untuk memupuk. Kotoran ternak itu harus ditimbun dahulu selama ± 2 bulan. Setelah itu, dapat digunakan untuk pupuk.

Pupuk Kompos


  • Pupuk kompos adalah pupuk yang berasal dari sisa-sisa tanaman atau rumput-rumputan yang telah membusuk.

Cara pembuatan pupuk kompos adalah sebagai berikut:

  • Sisa-sisa tanaman, sampah atau jerami padi yang telah dipotong-potong ditimbun di tempat yang tidak terkena hujan.
  • Setelah timbunan mencapai ± 50 cm, di atasnya dihamparkan kotoran ternak dan tanah setebal 5-10.
  • Di atas timbunan kotoran ternak dan tanah diberi tumpukan sisa-sisa tanaman lagi setebal 50 cm, kemudian ditaburi kotoran ternak dan tanah setebal 5-10 Pekerjaan ini diulangi sampai tumpukan mencapai tinggi 1,5-2 meter.

Seluruh tumpukan dilapisi dengan tanah. Setelah 2 minggu, tumpukan dibongkar dan dibalik-balik, kemudian ditimbun kembali. Lama pembuatan kompos ini lebih kurang 2 bulan dan setiap 2 minggu sekali dilakukan pembalikan.

Tanda-tandanya kompos yang sudah jadi adalah berwarna kelabu atau cokelat tua dan apabila dipegang sudah tidak panas lagi. Kompos yang demikian itu sudah dapat digunakan.

Pembuatan kompos


Pupuk Hijau


Pupuk hijau adalah pupuk yang bahannya berasal dari bagian-bagian tanaman yang berwarna hijau dan yang dimasukkan ke dalam tanah.

Tanaman pupuk hijau ini pada umumnya berbentuk perdu (semak). Syarat agar tanaman dapat digunakan sebagai pupuk hijau adalah

  • tumbuhnya cepat;
  • produksi daunnya banyak;
  • dapat tumbuh baik pada tanah-tanah yang kurus;
  • batang dan daunnya mudah busuk dan terurai apabila dimasukkan ke dalam tanah;
  • tanaman yang mempunyai bintil-bintil akar.

Contoh tanaman yang baik untuk pupuk hijau, antara lain, adalah orok-orok (Crotalaria juncea), rimusa (mimosa), dan lamtoro (petai cina).

Cara penggunaan pupuk hijau adalah sebagai berikut:

  • Tanaman Crotalaria dan mimosa yang menjelang berbunga serta daun lamtoro yang telah dipotong-potong dimasukkan ke dalam tanah bersamaan dengan pengolahan tanah pertama. Selama lebih kurang 2 minggu, tanaman yang dimasukkan tadi akan hancur menjadi pupuk.

  • Jenis dan dosis pemupukan edamame berbeda-beda, disesuaikan dengan hasil rekomendasi yang diberikan oleh dinas pertanian daerah masing-masing.

  • Tujuan pemupukan adalah memberi atau menambah unsur hara (zat-zat yang dibutuhkan tanaman) pada tanah dan tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara tanaman.

Waktu dan cara pemupukan


  • Pupuk kandang diberikan 7 hari sebelum tanam dengan kedalaman 10-15
  • Pupuk dasar diberikan 3 hari sebelum tanam.
  • Pupuk susulan diberikan apabila dirasa perlu. Pupuk yang digunakan untuk pupuk susulan adalah ZA atau Urea dengan dosis + 200 kg per hektar KCI 200 kg/ha. Cara pemberian pupuk adalah dengan ditugalkan.

Hama dan Penyakit Tanaman


Hama


Hama-hama yang dominan yang menyerang tanaman edamame pada setiap fase per- tumbuhan berbeda. Hal itu dipengaruhi oleh lingkungan yang mendukung hama, seperti cuaca atau ketersediaan makanan hama.

Hama-hama yang dapat menyerang tanaman kedelai, antara lain, sebagai berikut:

  • Lalat Bibit (Ophimyia Phaseoii)

Hama lalat bibit menyerang kedelai pada waktu perkecambahan. Lalat bibit meletak-kan telurnya pada keping biji atau pucuk daun yang masih muda.

Larva (ulat) yang keluar dari telur akan langsung menggerek keping biji atau pucuk daun yang masih muda sambil memakan, lalu masuk ke dalam batang dan dapat merusak kulit batang. Akhirnya, membentuk pupa pada pangkal batang. Akibat serangan itu tanaman akan layu dan apabila serangan parah tanaman akan mati.

  • Ulat Grayak (Prodebia Litura)

Ulat grayak diberi nama grayak karena serangannya dilakukan bersama-sama dalam jumlah yang besar dan secara mendadak.

Ulat-ulat yang baru menetas hidup secara bergerombol dan memakan daun. Setelah besar, ulat-ulat akan berpencar untuk mencari makan dan berpindah dari tanaman satu ke tanaman yang lain.

  • Ulat Polong (Etiela Zinchelta)

Ulat polong pemakan buah yang masih muda. Ulat polong yang baru menetas dari telur akan masuk ke dalam polong dan tinggal di dalamnya hingga besar.

Polong yang terserang memberikan tanda- tanda sebagai berikut:

  • Dalam buah terdapat lubang kecil, karena biji kedelai dimakan, sehingga di dalamnya tinggal ulat dan kotorannya.
  • Waktu buah masih hijau, bagian luar buah berubah warna dan jika dibuka terdapat ulat yang berwarna hijau.

Kumbang Daun Tembikar (Phaedonia Inciusa)

Kumbang daun tembikar berukuran kecil, berwarna hitam, dan di bagian tepi tubuhnya bergaris kuning. Kumbang itu berkembang biak dengan bertelur yang diletakkan di atas daun kedelai. Larva anak kumbang yang baru menetas dan kumbangnya memakan daun sehingga daun berlubang-lubang. Kumbang itu selain merusak daun juga merusak bunga dan polong.

  • Kepik Hijau

Hama kepik hijau menyerang tanaman dengan merusak kulit polong dan biji. Apabila serangan terjadi pada polong muda, biji akan mengkerut dan polongnya gugur. Apabila serangan akan hampa, lalu mengering. Apabila serangan terjadi pada masa pengisian biji, biji akan hitam dan busuk. Apabila polong telah tua, akan terbentuk bintik-bintik hitam pada biji atau kulit biji menjadi keriput.

  • Kutu Daun (Aphis Glycine)

Hama kutu daun berwarna hitam. Kutu daun yang dewasa ada yang bersayap ada yang tidak bersayap. Kutu daun biasanya menyerang tanaman kedelai pada awal pertumbuhan dan pada masa pertumbuhan bunga dan polong. Kutu daun menempel di balik daun dan kuncup tunas.

Penyakit


Penyakit yang sering menyerang tanaman kedelai, antara lain adalah sebagai berikut :

  • Penyakit Layu Bakteri

Penyakit layu bakteri disebabkan oleh bakteri yang menyerang pangkal batang sehingga tanaman menjadi layu mendadak. Penyakit itu menyerang tanaman pada kebun yang kelembabannya tinggi dan tanaman yang jarak tanamannya terlalu rapat. Penyakit layu bakteri menyerang tanaman pada umur 3-4 minggu.

  • Penyakit Layu Jamur/Cendawan Tanah

Penyakit layu jamur menyerang bagian daun sehingga menjadi layu. Selain itu, penyakit layu jamur menyerang tanaman yang jarak tanamannya terlalu rapat dan menyerang tanaman pada umur 3-4 minggu.

  • Penyakit Antraknosa

Penyakit antraknosa menyerang bagian daun dan polong yang telah tua. Bagian yang terserang akan terbentuk bintik-bintik hitam. Polong yang terserang menjadi hampa atau kerdil.

  • Penyakit Busuk Batang

Batang yang terserang penyakit busuk batang akan menguning, kemudian berubah menjadi cokelat dan basah. Lama-kelamaan batang akan membusuk dan mati.

  • Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama dan penyakit tanaman dapat dilakukan dengan 3 cara. Berikut ini akan dikemukakan satu per satu.

  • Pengendalian secara Mekanis

Pengendalian secara mekanis adalah pengendalian dengan cara mengambil dan membunuh hama yang menyerang tanaman satu per satu.

  • Pengendalian secara Biologis

Pengendalian hama secara biologis ini hanya mengandalkan serangan pemakan hama, baik yang dipelihara maupun yang hidup secara liar pada areal penanaman kedelai.

  • Pengendalian secara Kimiawi (Menggunakan Pestisida atau Obat untuk Membasmi Hama dan Penyakit)

Pengendalian secar kimia banyak digunakan karena merupakan cara yang paling efektif, baik untuk pengendalian hama maupun penyakit. Dalam pengendalian  secara kimiawi tanaman yang terserang hama atau penyakit disemprot dengan menggunakan pestisida (obat pembasmi hama dan penyakit).

Penggunaan pestisida berdasarkan pada tingkatan serangan hama atau penyakit yang menyerang tanaman. Cara dan dosis yang dperlukan disesuaikan dengan label yang terdapat dalam kemasan (pembungkus) pestisida yang digunakan.

Panen


Kedelai jepang (edamame) dipanen pada umur 60 – 65 hari. Caranya batang kedelai dipotong, kemudian polong-polong yang ada pada batang dipetik.


Sumber : Buku (Sukamto, B.Sc. / Edamame Kedelai Jepang)
      edit

0 comments:

Post a Comment